
Selesai melakukan pemeriksaan, Diki langsung mengajak Mira ke suatu tempat yang katanya rahasia. Sepanjang perjalanan mereka hanya mengambangkan senyuman bahagia. Bahkan, Diki berulang kali mencium dan mengucapkan terimakasih pada belahan jiwanya yang kini sudah mengandung anaknya itu.
Meski belum tau berapa usia kandungan Mira saat ini, karna Dr. Riska mengatakan tidak bisa melihat usia janin yang masih baru. Akan tetapi itu semakin membuat mereka tidak sabar untuk menunggu hari di mana mereka bisa melihat bayi yang bergerak di dalam perut Mira.
"Sayang, terimakasih banyak, aku benar-benar bahagia," ujar Diki yang ke sekian kalinya.
"Iya, Kak, aku juga sangat bahagia," balas Mira tak kalah bahagianya menyambut kedatangan sang bayi.
"Kita sekarang mau kemana, Kak?" tanya Mira yang melihat jalan mereka sekarang bukan ke Apartemen milik sang suami.
"Rahasia!" jawab Diki ambigu.
Mira tidak lagi bertanya, karna percuma saja, suaminya itu jika sudah mengatakan rahasia, mau bagaimanapun Mira bertanya tetap tidak akan di jawab.
Setelah menyusuri jalanan yang di padati oleh pengendara yang lain, mobil yang di bawa oleh Diki akhirnya sampai di pada tempat tujuan.
Mira merasa bingung saat kendaraan beroda empat itu memasuki halaman rumah yang luas dengan di tumbuhi rumput hijau yang begitu rapi.
"Kak, kita ngapain kesini? Ini rumah siapa?" tanya Mira saat Diki memarkirkan mobilnya di garasi rumah mewah tersebut.
Diki tersenyum "Turunlah jika kamu ingin tau!'' seru Diki, dia langsung turun dan membukakan pintu untuk sang istri.
Mira masih bingung, akan tetapi dia tidak ingin selalu bertanya, perlahan dia menerima uluran tangan suaminya. Dan Diki pun langsung menuntun Mira melangkah pada pintu utama rumah tersebut.
Sampai di depan pintu, Diki merogoh saku celananya, kemudian dia memutar kunci beberapa kali.
"Bukalah!" perintah Diki setelah di yakini pintu itu sudah bisa si dorong.
"Tapi ini rumah siapa, Kak? Kenapa kuncinya sama kamu?"
"Kamu tidak akan tau kalau masih di sini, coba kamu buka! Maka rasa penasaran mu itu akan terjawab!"
Mendengar itu, Mira mengangguk, kemudian dia langsung membuka pintu kayu bernuansa putih itu, sama dengan tembok yang juga di cat putih.
Saat membuka pintu, mata Mira seketika berkaca-kaca melihat tulisan yang terpasang di balik pintu.
"Selamat datang istri ku tercinta, Amira!"
Dengan membekap mulut dengan kedua tangan nya, dia beralih menatap pada Diki, seolah bertanya apa ini semua.
Diki hanya mengangguk dan menggandeng Mira untuk masuk ke dalam.
Pemandangan di dalam semakin membuat Mira tidak bisa berkata-kata, di ruangan pertama sudah terpasang begitu besar foto pernikahan mereka.
"Kak, in--ini?"
"Ini hadiah kecil ku untuk mu sayang! Hadiah pernikahan kita!" sergah Diki yang tau maksud dari sang istri.
"Padahal aku ingin memberimu kejutan ini, tapi kamu lebih dulu memberikan kabar gembira tentang kehadiran calon bayi kita." lanjut Diki, dia menggenggam kedua tangan Mira dan mengungkapkan apa yang dia rasakan.
__ADS_1
Seketika Mira langsung masuk ke dalam pelukan sang suami, sungguh dia tidak pernah membayangkan akan mendapatkan hadiah seperti ini, Rumah yang besar, mewah dan dengan desain elegan. Tinggal di Apartemen Diki saja sudah sangat membuat dirinya nyaman.
Mira tidak mampu berkata-kata, dia juga tidak bisa menahan air mata yang terus mengalir di pipinya hingga membuat niqab basah.
Diki melepaskan pelukan mereka, membuka kain penutup wajah sang istri, kemudian menghapus air mata yang sudah berani mengalir di pipi cantik istri nya.
Sambil menggeleng dia berucap "Jangan pernah keluarkan air mata mu sayang, ini sangat berharga!"
"Ini air mata kebahagiaan, Kak, aku tidak bisa mengutarakan rasa bahagia dalam diriku!"
"Bukan karna rumah mewah ini, bahkan aku tidak meminta nya, karna di Apartemen Kakak sudah membuat ku nyaman. Akan tetapiĀ rasa bahagia ini karna aku mendapatkan lelaki baik tanggung jawab dan begitu mencintai ku," jawab Mira juga ikut mengutarakan isi hatinya.
"Aku tidak butuh rumah mewah, harta melimpah, aku sudah memiliki segalanya, memiliki suami yang bisa menghargai dan selalu membuat ku merasa di cintai!"
"Jika kamu tidak keberatan, aku masih mau tinggal di Apartemen, di sana tempat yang tidak terlalu luas, jika aku kehilanganmu, aku bisa dengan mudah mencari dan menemukan mu lelaki ku tercinta!" pinta Mira dengan mata masih berkaca-kaca.
Bukan dia tidak ingin menerima pemberian sang suami, akan tetapi dia ingin menghabiskan waktu bersama Diki di tempat yang tidak terlalu luas.
"Jika anak kita sudah lahir, maka kita baru akan pindah ke sin--"
Ucapan Mira terhenti saat merasakan ciuman mendadak dari Diki, meski merasa kaget, akan tetapi dia langsung mengalungkan tangannya di leher sang suami dan membalas ciuman Diki.
...****************...
Sementara Diki dan Mira masih saling memadu kasih dengan cumbuan bahagia, Nabil baru saja siap dengan kotak makan untuk sang suami.
"Apa Nona akan berangkat sekarang?" tanya bi Mila yang biasanya mengantar Nabil masuk ke dalam mobil.
"Iya, Bi! Pamit ya. Jaga rumah ya Bi!" jawab Nabil.
"Bibi tidak perlu mengantar ku, selesaikan dulu pekerjaan Bibi!" usul Nabil yang melihat bi Mila tengah sibuk dengan pekerjaan nya.
"Tidak apa-apa, Nona! Ini memang sudah tugas saya!" jawab bi Mila, dia langsung mengambil kotak makanan dan menjinjing nya.
Nabil hanya tersenyum menggeleng, para pelayan di sana hanya Bi Mila yang berani bicara dengan dirinya, sementara yang lain selalu menghindar jika Nabil akan menyapa mereka.
"Kok pada sepi ya, kemana anak buah dan penjaga di sini?" tanya Bi Mila yang merasa aneh karna seluruh penjaga di rumah Bagaskara tidak kelihatan seorangpun, hanya supir yang turun ingin membantu Nabil masuk.
"Mungkin mereka lelah, Bi! Coba lihat di sana, mereka semua ketiduran di sana!" jawab Nabil sambil menunjuk pada pos yang hampir mendekati gerbang.
"Bi, Nabil berangkat ya, takutnya makanan nya keburu dingin!" setelah menyalami tangan bi Mila, Nabil langsung masuk ke dalam mobil dan berlalu di hadapan bi Mila.
Sementara bi Mila masih merasa aneh dengan anak buah yang berjaga di rumah besar itu, pasalnya belum pernah mereka lalai dalam bertugas seperti sekarang ini.
"Kok tumben ya mereka tidur?" gumam bi Mila, kakinya langsung dia ayunkan untuk membangun para penjaga yang sedang tertidur dengan cara tak menentu.
Bi Mila menggeleng kepala, banyak gelas kopi di sana yang mungkin baru mereka minum.
"Dasar, bukan nya bekerja, ini malah asik-asik tidur!" sentak nya sambil mengguncang satu persatu anak buah yang bertugas menjaga di depan.
__ADS_1
Sudah beberapa kali dia membangunkan mereka, akan tetapi semuanya tak bergeming, malah ada yang tidur sampai ngorok.
Kewalahan membangunkan mereka, bi Mila mengambil selang panjang yang biasa di gunakan untuk menyiram tanaman, kemudian menyiram para lelaki bertubuh kekar yang tertidur itu.
Seketika mereka langsung bangun dan menatap tajam pada wanita paruh baya yang tengah berdecak pinggang itu.
"Apa kalian mau marah? Kalau Tuan sampai tau kalian jam segini asik tidur, tamat riwayat kalian!" tukas Bi Mila penuh ketegasan.
Seketika para lelaki itu tersadar jika mereka tertidur setelah meminum kopi yang di bawakan supir yang mengantar Nona mereka.
"Cepat kalian susul Nona, dia baru saja berangkat ke kantor!" seru bi Mila dan para penjaga itu langsung bergegas, mereka belum sempat membicarakan tentang hal itu. Karna keselamatan Nabil lebih utama.
Bi Mila kembali masuk, dia ingin meneruskan pekerjaan nya kembali.
...****************...
Beberapa saat sudah berlalu, tiba-tiba telpon rumah berbunyi, tanpa menunggu lama, Bi Mila langsung mengangkat nya.
"Halo!"
"Dimana istri ku?"
Deg....
Seketika bi Mila langsung susah menelan ludahnya saat mengetahui yang menelpon dirinya adalah Faris. Nabil sudah berangkat sejak tadi, tapi Faris malah bertanya pada nya.
"A--anu Tuan!"
"Ada apa, Bi? Kemana Nabil, aku tiba-tiba sangat mengkhawatirkannya!"
"No--nona sudah berangkat setengah jam yang lalu!"
"Apa!"
.
.
.
.
.
~Bersambung.
...Duh, kemana ya Nabil, kok aku deg degan ini!...
...Jangan lupa Like komen dan juga Vote kakak ku sayang....
__ADS_1