
Rasa bahagia, sedih terkadang datang bersamaan, tidak bisa di pungkiri, keduanya berada di tempat yang berbeda. Terkadang kita bahagia mendapatkan nya, tapi kita ragu untuk mengambil skap.
Begitupun yang di rasakan oleh Nabil, ada rasa haru dalam hatinya saat mengetahui jika dirinya tengah hamil. Namun, di sisi lain, itu tandanya dia memang tidak bisa meninggalkan Faris.
Dan dengan begitu pun dia semakin paham, ini jawaban atas petunjuk yang dia cari selama ini, mungkin saja Allah memang memilih dirinya untuk mengubah kehidupan Faris, dan dia harus bisa untuk itu.
"Mas, apa kamu senang dengan kehamilan ku ini?" tanya Nabil, saat ini keduanya sedang duduk di balkon kamar dengan Faris memangku Nabil.
Pulang dari rumah sakit, mereka memutuskan untuk duduk bersantai di balkon kamar, sambil menikmati suasana angin di kala hari sudah mulai terbenam.
Faris yang sedang menatap ke depan mengalihkan pandangannya pada Nabil, mencium sejenak bibir Nabil "Kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya balik Faris, tangan nya melingkar sempurna untuk di pinggang sang istri yang masih ramping.
"Aku hanya ingin tau, apa Mas senang dengan kehadiran anak kita kelak?" ulang Nabil lagi bertanya, dia takut jika Faris tidak merasakan bahagia seperti yang dia rasakan.
Faris tersenyum, membingkai wajah Nabil dengan kedua telapak tangannya.
"Dengar kan aku, sayang! Ini lah yang aku maksud kamu memberikan kebahagiaan untuk ku yang tidak akan bisa ku beli dengan apapun, ini adalah hadiah paling membahagiakan!" ungkap Faris dari hatinya yang terdalam.
"Dulu, aku selalu merasa kesepian, hari-hari ku lalui dengan rasa sakit karna kepergian orang tua ku. Akan tetapi, semenjak dirimu hadir, hidup ku menjadi lebih berwarna, menghadiri rasa bahagia di relung hatiku. Kamu lah kebahagiaan ku, dan sekarang bertambah dengan kehadiran calon anak kita, sungguh sangat membuatku merasa menjadi seorang lelaki yang sangat sempurna!" lanjut nya lagi, dia memang sangat bahagia, hingga tidak tau lagi cara mengungkapkan nya.
Mendengar itu semua, tanpa terasa air mata Nabil menetes, dalam segi ini, dia beruntung mempunyai Faris, karna sekarang lelakinya itu sangat menyayangi dirinya.
"Mulai sekarang, kamu harus menjaga baik-baik kandungan kamu sayang, ingat pesan dokter, ini kehamilannya pertama mu, jadi jangan terlalu banyak melakukan aktivitas, dan jangan lupa minum vitamin, mulai saat ini aku yang akan menjaga kalian!" tukas Faris yang sudah seperti ibu-ibu mengomeli anaknya.
Cup....
"Sehat terus ya di dalam sana!" gumam Faris di depan perut Nabil setelah mencium nya.
"Oh iya, besok Tante Riska mengajak kita ke rumah nya, karna dia ingin menyambut menantu nya. Apa kamu mau hadir, sayang?" tanya Faris.
__ADS_1
"Kenapa tidak, Mas! Tante Riska adalah orang tua, sangat tidak sopan jika kita tidak memenuhi permintaan nya!" jawab Nabil dengan pasti.
"Hmm ... Kalau seperti itu, aku akan mengabari Tante lagi nanti!" timpal Faris.
"Tapi, boleh tidak sekalian kita pulang ke rumah, aku rindu sama Abi dan Ummi, aku juga ingin mengatakan jika sekarang aku lagi hamil! Mereka pasti sangat senang!" pinta Nabil seolah memohon pada sang suami.
"Iya sayang, pulang dari rumah Tante Riska, kita langsung pulang ke rumah, kita menginap di sana!" jawab Faris yang membuat Nabil sangat merasa senang.
"Terimakasih ya, Mas! Aku sangat bahagia!" ujar Nabil, sambil memeluk leher Faris.
Faris ikut tersenyum, dia tidak menyangka reaksi istri nya akan seperti anak lima tahun di kasih permen lollipop atau es krim.
"Serindu itukah kamu dengan mereka, sungguh aku sangat merasa egois karna telah melarang mu untuk pulang ke sana!" batin Faris, tangan nya juga ikut memeluk tubuh sang istri.
"Sayang...!" panggil Faris dengan nada yang sangat lembut, tepat nya mulai serak.
Nabil merasa ragu untuk menjawab, perasaan nya mulai tidak enak mendengar panggilan Faris.
"Aku sangat merindukanmu!" celetuk Faris membuat Nabil menelan ludahnya secara kasar.
"Tapi, tapi aku sedang hamil, Mas!" bukan niat menolak, tapi dia benar-benar belum tau, takut akan menggugurkan janin nya.
Faris semakin memeluk Nabil erat, suaranya pun semakin berat "Aku sudah bertanya kepada Tante Riska, tentang boleh melakukan hubungan suami istri saat kamu lagi mengandung, dan dia bilang tidak ada masalah!" sergah Faris membuat Nabil membulatkan matanya.
Plak...
Satu pukulan di layangkan Nabil pada lengan sang suami "Kenapa Mas tidak merasa malu bertanya seperti itu pada Tante?" tanya Nabil kesal dengan tingkah Faris, bukan apa, tapi dia yang merasa malu saat bertemu dengan wanita yang baru dia tau sebagai Tantenya Faris.
"Daripada kita melakukan nya tanpa mengetahui efeknya akan seperti apa! Lagian aku tidak akan tahan untuk tidak menyentuh mu selama itu!" ucap Faris membuat mimik wajahnya cemberut.
__ADS_1
Nabil menggeleng, namun sejurus kemudian, dia merasa jiak tubuhnya melayang ke udara, menandakan jika sang suami sudah siap untuk tempur di ranjang.
Dia juga harus siap untuk mengimbangi sang suami, yang terkadang lupa diri jika sudah berhubungan dengan dirinya.
Cup...
Kecupan di berikan Faris di seluruh wajah Nabil, hingga ke seluruh tubuh, setelah beberapa hari Nabil menjauh, hari ini dia merasa seperti merayakan malam pengantin baru lagi.
Cup...
Ciuman terakhir di jatuhkan pada perut Nabil yang sudah ada janinnya di dalam.
"Tenang sayang, aku akan lembut agar tidak menyakiti kalian!" gumam Faris, setelah itu dia memulai kewajiban nya memberikan nafkah batin untuk sang istri.
Tidak perduli peluh yang sudah membasahi ke duanya, tidak menghiraukan rintihan yang keluar dari mulut mereka, sungguh, saat ini keduanya sangat menikmati nya, kenikmatan dunia yang jauh lebih indah dengan pasangan halalnya.
.
.
.
.
.
~Bersambung.
Cukup di sini dulu ya, jangan bosan memberikan dukungan nya, dengan cara like komen dan juga Vote ya kakak ku sayang.
__ADS_1
Maaf ya, baru sempat up, soalnya kan hari lebaran.