
...Jangan pernah menyakiti hati, karna dia adalah bagian terlembut pada diri manusia. Sama halnya kaca jika sudah pecah, mungkin bisa di satukan kembali, tapi itu tetap tidak akan utuh....
...Begitu pun dengan hati, meski setelah menyakitkan kita telah mendapatkan maaf darinya, akan tetapi hati yang hancur tidak akan bisa di rangkai utuh kembali, karna rasa sakit akan selalu membekas....
...****************...
Setelah jemputan nya sampai, Mira langsung bergegas pulang ke pondok, bersama anak pesantren lainnya.
Saat ini dia sedang duduk di atas sajadah, menghamba kepada sang pencipta, pemilik hati dan juga penenang jiwa.
Dengan ikhlas, khusyuk, berserah diri, wanita dua puluh satu tahun ini dengan berlinang air mata memohon kepada Rob nya. Agar hati nya yang sempat sakit, tidak berlarut, luka yang dia rasa tidak terlalu dalam, yang telah terjadi harap bisa dia ikhlaskan.
"Ya Allah, yang maha segala-galanya, yang maha membolak-balikkan hati manusia, yang mengetahui segalanya, hamba mohon kepada mu ya, Allah. Berikan lah hamba ketegaran, keikhlasan dan kesabaran tanpa ada batasnya. Engkau maha tau, jika memang dia memang jodoh yang engkau persinggah untuk hamba, maka tambahkan hati hamba dalam menjalani ujian ini, tapi jika dia bukan takdir hamba, semoga hamba bisa melepaskan dirinya dengan ikhlas, dan jauhkan sifat benci dan dendam kepada nya Ya Allah. Aaaaaminnnnn ya Robbal'alamin"
Selesai berdoa, Mira meraup wajahnya dengan kedua telapak tangan yang tertutupi mukena, saat ini hatinya terasa lebih ringan, baru saja dia membuka mukenanya, tapi sudah terdengar namanya di panggil pada pos yang di jaga oleh dewan guru di sana.
Mendengar namanya di panggil, Mira langsung meninggalkan mukenanya di sana tanpa membereskan nya terlebih dahulu, dengan tergesa-gesa dia langsung memakai khimar dan niqab nya.
"Perlu Aisyah temenin, ustazah?" tanya Aisyah yang juga berdiri di ambang pintu.
"Boleh, Syah!" jawab Mira.
Keduanya pun langsung pergi, sedikit tergesa-gesa, karna rasa penasaran dalam hati Mira. Akan tetapi, rasa penasaran itu berganti dengan rasa takut dan juga gugup, otot nya terasa lemah, dia merasa sudah tidak bertenaga walaupun hanya untuk melangkah, tatkala melihat dua orang yang paling berarti dalam hidupnya.
Ya, kedua orang tua Mira datang, saat ini keduanya tampak tersenyum melihat dirinya, namun beda dengan Mira, dia bingung dengan masalah yang dia hadapi, ntah bagaimana caranya memberitahu kepada Ayah dan Bundanya, agar keduanya tidak merasa kecewa.
"Ayah, Bunda!" panggil Mira sambil mencium tangan keduanya.
"Iya sayang!" jawab sang Bunda, tanpa Mira duga, bunda Anggi langsung membawa putri tercintanya ke dalam pelukan.
"Bunda tau, Nak, yang kamu rasakan saat ini!" ucap Bunda Anggi sambil mengelus punggung sang putri.
Mira langsung mendongak dan menatap pada wanita paruh baya yang sangat dia cintai itu, "Bunda tau apa?" tanya Mira, dia masih berpura-pura, dia masih ragu dengan apa yang di maksud sang bunda.
Bunda Anggi tersenyum dan membingkai wajah anaknya "Bunda dan Ayah tau tentang masalah mu, yang menyakiti ini!" tunjuk sang bunda pada dada Mira.
Dan seketika tangis Mira pecah, sambil memeluk erat wanita yang telah melahirkan dirinya.
__ADS_1
"Maafkan, Mira Yah, bunda!"Pinta pinta Mira dengan isak tangisnya.
"Tidak usah di tangisi nak, ini bukan salah mu!" celetuk ayahnya, yang juga mengelus kepala putri semata wayangnya.
Sebagai orang tua tentu merasakan apa yang di rasakan oleh putri tercinta, dan mereka juga menanggung malu, secara pertunangan Mira dan ustadz Amir sudah di ketahui oleh tetangga dan juga kerabat. Akan tetapi, mereka tidak ingin bersikap egois, karna di sini yang jadi korban itu Mira, jadi tidak ada alasan keduanya marah terhadap putrinya.
Akhirnya mereka menceritakan kepada Mira, jika orang tua Amir mendatangi Ayah dan bunda Mira, mereka mengatakan jika Amir akan pergi ke Kairo Mesir, dan soal pertunangan mereka, orang tua dari ustadz Amir berharap jika Mira sanggup menunggu nya kembali, sangat berbanding terbalik dengan apa yang di tuliskan oleh ustadz Amir pada surat yang dia kirim kan pada Mira.
Kedua orang tua Mira menyerahkan keputusan kepada anaknya, karna yang menjalani Mira sendiri, sedangkan Mira sudah lebih merasa tenang karna ayah dan bunda nya sudah mengetahui nya, itu artinya dia hanya perlu menata hati, dan memikirkan pilihan apa yang akan dia ambil.
...****************...
Sedangkan di kamar super luas di mansion Bagaskara, suasana tampak mencengkram, terlihat raut wajah dari lelaki yang berdiri di depan dinding kaca sedang menahan emosi, dan seorang wanita yang terduduk di lantai sedang menangis dan memohon kepada lelaki yang sudah sangat berarti dalam hidupnya.
"Mas, maafkan Nabil, itu tidak seperti yang Mas bayangkan, Nabil benar-benar tidak mempunyai hubungan apapun dengan nya, jangan kan hubungan, bahkan aku baru melihat nya beberapa hari, aku sama sekali tidak mengkhianati mu, Mas! Sumpah demi Allah, Nabil sangat menjaga diri untuk mu, Mas!" pinta Nabil dengan sesekali terisak, bukan karna di bentak atau di marahi yang membuat Nabil menangis, tapi karna Faris sama sekali tidak mempercayai dirinya.
Flashback On
Selesai dari rapat, Faris mulai merasa perasaan nya tidak enak, dari tadi pikiran nya hanya tertuju kepada sang istri. Karna sudah tidak tahan, Faris langsung mengajak Diki untuk pergi ke kampus.
Dengan penuh harap, Faris begitu bersemangat mendatangi tempat sang istri menimba ilmu, tapi kesenangan di wajahnya perlahan terganti dengan ekspresi dingin dan juga tatapan nya yang tajam, saat melihat sang istri yang di dekati oleh seorang pria.
"Bukan kah tidak wajar jika seorang lelaki mengantar istri orang pulang, dan lebih tidak sopan lagi jika sang istri pulang bersama lelaki lain di belakang suaminya, bukan begitu sayang?" tanya Faris pada Nabil dengan menatap sinis pada Abiyan.
Faris dapat melihat raut wajah Abiyan yang kecewa saat mengetahui jika Nabil sudah mempunyai suami.
Setelah dari sana, Faris langsung menarik tangan Nabil untuk pulang, tidak ada pembicaraan di dalam mobil, Faris terlihat sangat kesal, Diki yang sedang menyetir juga ikut diam.
Sampai mereka di kediaman Bagaskara, Nabil kembali di tarik dengan begitu kasar. Sampai di dalam kamar, tubuh nya langsung di hempas di atas ranjang.
"Jadi seperti itu sifat mu saat di kampus, hah?" tanya Faris berteriak pada telinga Nabil. Tangan nya memegang lengan Nabil dengan sangat kasar. Hingga membuat Nabil meringis kesakitan.
Nabil menggeleng, sungguh apa yang Faris katakan tidak benar sama sekali.
"Nggak mas, aku nggak seperti yang mas pikiran!" jawab Nabil menyangkal ucapan sang suami.
"Lalu itu apa, seorang lelaki sampai menawarkan tumpangan untuk mengantar mu pulang, apa kamu merasa senang, hah?" bentak Faris lagi, terlihat dadanya naik turun, dan nafas nya memburu, menandakan dia sangat marah.
__ADS_1
"Nggak Mas, aku bahkan tidak memperdulikan dirinya, karna aku tau, aku ini adalah istri orang!" jawab Nabil lagi, mengatakan yang sebenarnya.
"Oh, jadi dia yang mengejar mu? Hebat!" tukas Faris sambil menepuk tangan dan tersenyum sinis.
"Lalu kamu senang karna merasa di kejar oleh laki-laki, hingga kamu tidak bisa mengatakan jika kamu sudah menikah?" tanya Faris mencibir.
Degggg
Bak tertusuk beribu pisau di dadanya, hatinya sangat sakit mendengar perkataan Faris, selama ini dia sangat menjagakan dirinya untuk sang suami. Rasanya cengkraman tangan Faris sudah tidak terasa lagi ketika mendengar kalimat tuduhan yang di lontarkan sang suami.
"Bukan maksud ku ingin menyembunyikan kebenaran jika aku sudah menikah, tapi karna memang selama ini dia hanya ingin berkenalan dan tidak kami hiraukan!" timpal Nabil lagi.
Memang benar kan, mana mungkin dia langsung mengatakan kepada Abiyan jiak dia sudah menikah, sedangkan lelaki itu tidak membahas masalah perasaan atau hal yang menyinggung ke sana.
Mendengar itu Faris beranjak dari Nabil, lalu berdiri di depan dinding kaca, terlihat sorot matanya masih sangat berapi-api, menandakan amarahnya masih di ubun-ubun.
Flashback off
Seperti nya Faris benar-benar tidak terima jika ada lelaki lain yang mengejar sang istri, dia bisa melihat, tatapan mendamba lelaki itu terhadap istri nya.
Tapi, mendengar isak tangis sang istri, memaksanya menatap pada Nabil, meski amarah masih belum reda, tapi hati kecilnya tidak tega melihat keadaan Nabil yang memohon kepada nya.
Faris meremas rambutnya secara kasar, lalu memegang kembali kedua lengan Nabil, dan membawa istrinya itu ke dalam pelukannya.
"Jangan pernah berpikir untuk tinggal kan aku, kamu milik ku, hanya milikku!"
.
.
.
.
.
~Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa ya Like, Komen dan juga Vote nya kakak semua ya 🥰🥰,