Istri Taruhan Kunci Surgaku

Istri Taruhan Kunci Surgaku
Bayi kembar.


__ADS_3

Mendengar suara Diki yang kembali memanggil mereka pun, Faris dan Abi Zainal langsung bergegas pergi.


Rasanya jantung mereka berdegup begitu kencang seraya langkah yang begitu lebar mereka ayunkan agar sampai di depan ruangan operasi Nabil.


Ingin rasanya Faris berhenti dan berlari dari tempat itu, karna dia tidak sanggup mendengar apa yang akan di katakan dokter tentang istri nya, dia sudah membayangkan masa sulit dalam hidup nya saat kehilangan kedua orang tua nya, dan sekarang apa dia akan merasakan itu lagi.


Akan tetapi dia juga punya tanggung jawab, yaitu buah hatinya yang mungkin sudah lahir, sebagai seorang Abi yang baik, dia yang akan mengadzani anak-anak nya.


"Bagaimana keadaan anak dan istri saya, Dok?" tanya Faris seraya mengguncang tubuh dokter.


"E e e ... Bisa anda lepaskan du--lu Tu--an, saya su--sah bicara!" tukas dokter terbata-bata karna Faris mengguncang nya terlalu kuat.


"Ris, biarkan dokter bicara dulu!" tegus Diki langsung menarik paksa tangan Faris yang berbeda di lengan dokter.


"Katakan, Dokter! Bagaimana keadaan putri dan cucu saya?" kini abi Zainal pun ikut bertanya, tanpa melihat ke arah Faris.


"Selamat, Tuan, anak anda kembar sepasang, Kedua anaknya sehat, meski tadi tidak menangis pas mereka lahir, tapi sekarang mereka sudah sedikit aktif, hanya saja yang ke dua masih terlalu lemah karna dia bisa di bilang dia lahir secara prematur, karna dia telat dari kakak nya, dan setelah di azan mereka harus di pindahkan ke dalam inkubator!" jelas dokter begitu menusuk ke dalam indra pendengaran mereka.


"Dan Nona Nabil..." semua berhenti bernafas saat dokter menggantung ucapannya.


"Katakan, apa yang terjadi pada istri ku?" tanya Faris sedikit membentak. Meski tau apa yang akan dikatakan oleh dokter, akan tetapi dia tetap sulit menerima nya.


"Untuk saat ini Nona Nabil masih belum sadarkan diri, dia juga sangat lemah. Akan tetapi patut kita syukuri karna dia sudah sudah melewati masa kritis nya, meski kita tidak tau itu mungkin saja bisa terjadi lagi!" jelas dokter lagi membuat mereka sedikit menarik nafas lega.


Faris langsung melorot ke lantai dan sujud atas rasa syukur dan mukjizat yang Allah perlihatkan pada mereka semua. Sungguh, berharap dan berserah diri kepada sang khalik tidak akan pernah kecewa.


"Alhamdulillah ya, Allah. Hamba sangat bersyukur atas keselarasan anak dan juga istri hamba!" lirih Faris, tanpa memikirkan semua orang yang menatap padanya.


Para keluarga juga turut senang dan meneteskan air mata, hati mereka terasa sedikit lapang karna Nabil berhasil melewati masa kritis nya. Meski mereka tidak tau itu akan bertahan sampai kapan.


Dokter Riska juga merasa lega, dia tidak tau apa yang terjadi jika Faris kembali kehilangan orang yang dia sayangi.


"Apa aku boleh melihat istri dan anak ku?" tanya Faris tanpa sabar.

__ADS_1


"Anda bisa melihat si kembar dan mengadzani mereka sebelum di pindahkan ke inkubator. Sementara Nona, anda bisa menemui dirinya setelah di pindahkan ke ruangan perawatan!" jelas dokter lagi dan Faris hanya bisa menyetujui nya.


"Berikan yang terbaik untuk istri saya!" tukas Faris dan di angguki oleh dokter.


Faris langsung di ajak masuk untuk menemui kedua anaknya. Langkah nya seketika terangkat gontai saat melihat dua malaikat kecilnya di gendongan dua suster, terlihat satu tengah bergerak-gerakkan tangan nya ke atas, sementara satu lagi hanya menggeliat pelan.


Hatinya terasa tercubit menyaksikan dua buah cintanya, mengingat Nabil yang masih belum sadarkan diri.


"Ini Tuan, anak yang anda yang pertama berjenis kelamin laki-laki," ucap salah satu suster sambil menyodorkan bayi dalam gendongan nya di depan Faris.


"Dan ini anak kedua anda, berjenis perempuan." timpal satu orang suster lagi.


Faris tidak bisa mengatakan apapun lagi, tangannya terangkat dengan gemeteran saat menerima anak pertamanya.


"Bismillahirrahmanirrahim," ucap Faris saat menggendong anak pertama nya.


Tanpa menunggu lama, Faris langsung mengadzani putra dan di ganti dengan putrinya. Air matanya seketika keluar tanpa izin. Biasanya pasangan suami istri akan merasa bahagia dan tersenyum bersama-sama saat melihat anak mereka lahir.


Akan tetapi mereka hanya ada air mata kesedihan, Faris mencium anak nya begitu lama.


Setelah mengadzani putra dan putri nya, dia bergegas keluar setelah anak kembarnya di masukkan ke dalam ruangan khusus bayi untuk mendapatkan perawatan lebih, agar anak kedua nya bisa normal dan juga bisa aktif seperti anak pertama nya.


Faris ingin segera menuju ke ruangan sang istri yang sudah di pindahkan ke tempat rawat inap. Dengan sangat buru-buru dia melangkah, pria dua puluh delapan tahun ini seolah tidak capek meski dia belum istirahat dari pagi.


Ceklek....


Pintu ruangan di buka, dan perlahan di dorong, bersamaan dengan deret langkah nya untuk masuk ke dalam ruangan dimana sang istri di baringkan.


Semua keluarga menatap dirinya, Abi Zainal yang masih marah terhadap menantunya langsung mengajak ummi Fatimah untuk keluar.


"Mari kita lihat cucu kita!" ajak nya seraya menarik tangan sang istri.


Ummi mengangguk, kemudian mengikuti langkah sang suami.

__ADS_1


"Kamu pasti bisa, Nak untuk melalui semua ini!" ucap ummi saat berlalu di hadapan Faris.


Mira dan Diki juga memilih keluar, agar memberikan waktu untuk Faris dan Nabil.


Faris kembali mendorong langkahnya mendekati brankar pasien yang terbaring tubuh lemah Nabil di atasnya.


Cup...


Satu kecupan lama dia daratkan di kening sang istri, rasanya Faris begitu merindui Nabil, tidak melihat wanita nya dua jam selama operasi sudah sangat membuat nya tersiksa.


"Assalamualaikum, cintaku!" bisik Faris di telinga Nabil, berharap sang istri bisa tersadar dan menjawab salam nya.


Air mata masih tak bisa dia tahan, entah berapa banyak air bening itu keluar dari kedua netra penglihatan nya itu. Hatinya terasa terenyuh melihat kondisi, Nabil. Berbagai selang melekat di tubuhnya, alat monitor yang menunjukkan keadaan pasien berada di samping ranjang tempat Nabil di baringkan, di tambah selang oksigen di masukkan ke dalam hidup Nabil, membuat Faris semakin sakit.


"Apa kamu merindukan aku?" tanya Faris yang sudah pasti tidak akan mendapatkan Jawabannya.


"Terimakasih sudah mau berjuang, tetap lah bertahan, dan cepat lah bangun, kita belum memberikan nama untuk anak-anak kita!" bisik Faris lagi, dia merengkuh tubuh lemah sang istri, seraya memberikannya kecupan di seluruh wajah pucat wanitanya.


.


.


.


.


.


.


~Bersambung.


...Yah ... Aku beneran sedih ini, kapan ini akan berakhir?...

__ADS_1


...Aku sudah up malam ini, yang tadi minta aku up lagi, jangan lupa Like komen dan juga Vote ya....


__ADS_2