Istri Taruhan Kunci Surgaku

Istri Taruhan Kunci Surgaku
Belanja.


__ADS_3

Selesai rapat, mereka baru saja keluar dari sebuah restoran. Faris dan Diki berjabat tangan dengan rekan bisnis mereka sebelum akhirnya mereka berpisah.


"Terimakasih Tuan, semoga kita bisa menjadi rekan bisnis yang baik!" ucap lelaki hampir paruh baya yang bernama Yanto.


"Iya, Tuan! Saya harap, barang-barang saya bisa menguntungkan bagi kita berdua!" timpal Faris, kemudian mereka pun sama-sama meninggalkan tempat itu dengan tujuan yang berbeda.


Diki membukakan pintu untuk bos nya itu, setelah Faris masuk, dia kembali menutup nya dan masuk lalu duduk di bangku depan.


"Apa kita langsung pulang, Tuan!" tanya Diki.


Faris mengangkat tangan nya, menyibak sedikit ujung kemejanya untuk melihat jam di tangan nya. Dia melihat masih pukul satu siang, kemudian dia melihat pada Diki, ada sesuatu yang ingin dia katakan, tapi rasanya malu karna dia takut jika Diki akan menertawakan dirinya.


"Tuan, apa kita langsung pulang?" ulang Diki bertanya.


"Kenapa kamu bertanya hal yang sama, apa kamu kira saya ini tuli?" protes Faris tidaklah terima.


"Karna saya sudah bertanya sedari tadi, dan kamu hanya diam!" batin Diki menjerit.


"Baiklah, sekarang katakan, kita akan kemana tuan!" tanya Diki berusaha sabar dengan sikap arogan Faris.


"Kita ke Mall sebentar!" celetuk Faris, langsung membuat Diki terkejut.


"Apa aku tidak salah dengar? Seumur hidup bahkan baru sekarang aku mendengar nya mengajak ku ke tempat itu!" ucap Diki lagi di dalam hati.


"Tidak usah merasa bingung, sekarang aku sudah mempunyai istri, maka wajar jika aku ingin membelikan dirinya hadiah!" tukas Faris yang membuat Diki tambah terkejut.


"Makanya kamu cepat nikah, biar tau gimana merasakan tanggung jawab sebagai seorang suami!" Diki berkali-kali merasakan keterkejutan, jantung nya bagaikan di nyalakan petasan, saat mendengar semua ucapan Faris, terutama saat mengatakan tanggung jawab sebagai suami, sejak kapan Faris perduli tentang itu.


Tidak hanya itu, Diki kembali di buat shock saat mendengar perintah dari bos nya yang aneh itu.


"Dan satu lagi, kamu harus menyiapkan tempat teristimewa, karna nanti malam aku akan mengajak istri ku keluar!" ucap Faris tanpa basa-basi.


Diki hanya diam mematung, rasanya dia ingin memegang dahi Faris, takutnya bos nya itu demam, tapi dia tidak cukup berani untuk melakukan hal itu.


Dia hanya mampu mengucapkan kata "Baik, Tuan!"


Mobil terus melaju, meski kemacetan jalan yang semakin padat, tapi tak menyurutkan keinginan Faris  mencari hadiah untuk sang istri.

__ADS_1


Setelah melewati jalanan yang tidak terlalu jauh, kini mereka sudah berada di pekarangan Mall terbesar di kota tersebut.


Diki dengan sigap, turun dan membukakan pintu untuk atasan nya, Faris keluar dengan kacamata hitam yang sudah bertengger di hidung nya.


"Kita masuk, Diki! Kamu harus membantu saya, karna saya tidak cukup pandai dalam memilih pakaian wanita!" tukas Faris yang tidak bisa di bantah.


"Kau pikir aku tau, bahkan aku tidak pernah berbelanja pakaian perempuan, apa lagi istri mu berpenampilan seperti itu, harusnya kamu yang lebih tau!" umpat Diki lagi di dalam hati.


Namun, dia tetap terus mengikuti langkah Faris, seketika mereka berdua langsung mejadi pusat perhatian, Faris dengan jad kantor berwarna dongker melekat pas di tubuh nya yang atletis, rambut nya yang sedikit jatuh ke dahi, di tambah kaca mata hitam yang beradu dengan kulit wajah nya yang putih, dan juga Diki yang berjalan di belakang Faris dengan menggunakan jas berwarna hitam, rahang yang tegas, kulit sawo matang, membuat para wanita tidak bisa mengalihkan pandangan mereka dari dua insan dari kalangan adam tersebut.


"Diki, kita harus kemana dulu? Aku bingung, kan kamu tau sendiri, aku belum pernah ke tempat seperti ini!" tanya Faris yang kini sudah berdiri, dia memang tampak seperti orang linglung.


Memang benar, Faris tidak pernah berbelanja sendiri, karna semuanya ada yang mengurus nya, pakaian kerjanya sudah selalu di buatkan dari butik kepercayaan nya.


"Saya juga bingung Tuan!" jawab Diki juga bernasib sama dengan Faris.


"Kamu jangan bingung, kalau kamu juga tidak tau, bagaimana kita bisa menemukan nya!" hardik Faris pada Diki lagi.


"Saya bingung karna Tuan tidak mengatakan akan membeli apa, kalau seandainya Tuan memberitahu, mungkin saya bisa bantu!" imbuh Diki, memang sejak tadi Faris tidak mengatakan dia akan membeli apa untuk Nabil.


"Oh iya, saya lupa! Hem ... Bagaimana kalau saya membelikan dia pakaian, tapi harus pakaian yang seperti dia gunakan!" celetuk Faris, sambil telunjuknya di ketuk pada dagunya.


"Kalau anda ingin membelikan pakaian, mari kita cari" Diki langsung mengajak Faris, setelah beberapa toko berkeliling, Diki melihat sebuah toko yang menjual khusus pakaian syar'i untuk perempuan.


"Tuan, seperti nya itu tujuan kita!" ujar Diki sambil menunjukkan pada bos muda nya.


Faris mengikuti arah telunjuk Diki, kemudian dia mengangguk, langsung saja dia mengayunkan langkah nya masuk ke dalam.


Setelah sampai di dalam, mereka kembali tercengang, Faris dan Diki mengira akan mudah mendapatkan pakaian yang mereka cari, tapi mereka malah di buat bingung dengan banyak nya pilihan warna juga model dari pakaian yang lengkap dengan Khimar dan niqab itu.


"Bagaimana ini, Diki! Aku harus beli yang mana? Mengapa begitu sulit!" keluh Faris, rasanya kesabaran tinggal beberapa persen lagi.


Di tengah kebingungan mereka, para pekerja di toko tersebut menghampiri mereka.


"Maaf, Tuan! Ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita yang menghampiri mereka juga menggunakan khimar.


"Iya, bantu kami! Carikan pakaian seperti ini yang cocok dengan istriku!" tukas Faris membuat wanita itu dan Diki tercengang.

__ADS_1


"Mana dia tau istrimu seperti apa, Tuan! Mengapa anda menyuruh nya mencari sesuai dengan Nona Nabil!" tanya Diki, Faris tampak menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kalau begitu, semua jenis pakaian seperti itu, saya beli!" ucap Faris membuat wanita itu kembali membuka mulutnya karena terkejut.


"Anda serius tuan?" tanya wanita di hadapan Faris itu.


Faris mendelik, lalu melirik pada Diki,  sementara Diki yang paham, langsung angkat bicara.


"Hekhem, anda lakukan saja apa yang di perintah tuan ku!" ucap Diki, kemudian dia mengeluarkan kartu black card dan juga kartu nama yang bertuliskan Faris Hazam Adinata Bagaskara, membuat wanita itu gemeteran setelah membaca nama pembeli yang dia layani.


"Ba-baik Tuan! Tunggu sebentar!" tanpa membuang waktu, wanita itu langsung memilih beberapa pakaian dengan warna dan motif yang berbeda.


Selesai membelikan pakaian, Faris berencana membelikan tas, dan itupun juga sama saat membeli baju, mereka sama-sama merasa bingung, akhirnya dia membeli semua nya, tas branded limited edition.


Tak hanya itu, Faris juga membeli beberapa perhiasan untuk sang istri, dia tersenyum saat membayangkan betapa cantiknya istri nya itu ketika menggunakan semua barang yang dia beli.


Setelah semua selesai, mereka keluar dari dalam mall. Sebelum masuk ke dalam mobil, Faris terlebih dahulu mengirimkan pesan untuk Nabil.


My Wife 💌: Pakailah barang yang sudah aku belikan untuk mu, lalu tunggu aku, jam delapan malam aku akan menjemputmu".


Pesan singkat untuk sang istri, semua belanjaan nya memang sudah terlebih dahulu di antar ke rumah nya.


Setelah mengirimkan pesan, Faris masuk ke dalam mobil.


"Diki, kita nggak usah pulang ke rumah, kita lebih baik mencari tempat untuk aku dan istriku nanti malam!"


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


~Bersambung.


Jangan lupa tinggalkan jejak ya, like, komen dan juga Vote. Aku sangat membutuhkan dukungan kalian 🥰


__ADS_2