
Keesokan harinya, Faris sudah berangkat ke kantor, baru saja Diki memberitahu jika mereka ada rapat penting di perusahaan Bagaskara.
Sesampainya di depan gedung pencakar langit, kedua pemuda itu langsung melangkah masuk ke dalam bangunan yang berdiri kokoh menjulang tinggi ke atas langit.
Karna rapat di adakan tepat pukul delapan pagi, mereka langsung menuju ke dalam ruangan tersebut.
"Baik, katakanlah sampai mana kemajuan rancangan kalian, dan juga pemasaran kalian?" tanya Faris, setelah memulai rapat mereka.
"Rancangan setiap tablet dan juga jam tangan ponsel sudah 70%" jawab seorang karyawan yang memegang bidang rancangan dan juga data-data yang di berikan Faris.
"Pemasaran kini meningkat pesat, banyak yang menginginkan benda canggih yang mudah mendeteksi orang lain, dan dengan mudah mereka bisa membawa kemanapun mereka pergi! yang lebih menarik perhatian mereka adalah bentuk nya, menurut mereka begitu unik, karna dari kaca yang begitu tipis dan ringan, tapi kegunaan begitu luar biasa" jelas karyawan yang berwenang di bagian pemasaran merasa puas dengan keuntungan yang mereka dapatkan.
Perusahaan Davvien memang keseluruhan nya di terbuat dari kaca, dan mereka juga merancang segala nya dari sebuah kaca hingga menghasilkan benda yang sangat berguna.
Banyak para pelajar di beberapa universitas, sudah tidak menggunakan laptop lipat, mereka hanya mengandalkan kaca persegi empat yang seperti menggantung pada meja belajar mereka.
Begitupun dengan dosen, juga sudah menggunakan kaca canggih yang menjadi papan tulis saat mereka mengajar.
Sama halnya Seperti yang mereka gunakan saat rapat di langsungkan, di atas meja mereka rapat saat ini, mereka hanya menggesekkan jari jemarinya di atas kaca tipis juga bening, namun tersimpan puluhan data penting di dalam nya.
Sistem kerja di alat canggih tersebut, kita hanya mengetik, baik itu pesan atau data, jika salah hanya tinggal di gesekkan keluar, maka akan terhapus secara otomatis, tapi mereka tetap membuat pengaturan hapus seperti halnya ponsel pada umumnya.
Setelah dua jam mengadakan rapat, kini mereka semuanya bubar, saat Faris menyudahi rapat mereka.
Faris keluar bersama Diki, keduanya langsung menuju kedalam ruangan. Sampai di sana, sebuah panggilan masuk pada benda di atas meja kerjanya.
"Katakan!" ucap Faris dingin, setelah mengeklik tombol untuk menjawab.
__ADS_1
"Ada seorang yang ingin bertemu dengan anda Tuan!" tukas seseorang di balik sambungan telpon yang ternyata adalah resepsionis di kantor nya.
"Siapa?" tanya Faris lagi.
"Nona Talia Tuan!" jawab resepsionis itu lagi.
Faris mengerutkan keningnya mengingat nama Talia, merasa sudah mendengar nama itu sebelum nya.
"Suruh dia ke ruangan saya!" ujar Fari memberi perintah.
"Baik Tuan!" panggilan pun terputus.
Hanya sepuluh menit, seseorang terdengar mengetuk pintu ruangan nya.
"Masuk!" ucap Faris dari dalam, menyuruh orang yang mengetuk ruangan nya untuk masuk.
Pintu kaca tebal itu di buka dengan perlahan, di balik itu terlihat lah seorang wanita dengan rupa yang sangat cantik. Wanita itu berjalan masuk, Faris melihat nya pun langsung berdiri.
"Halo selamat siang, Tuan!" ujar wanita bertubuh tinggi itu sambil mengangkat tangan di depan, Faris. Mungkin berniat ingin menjabat tangan lelaki yang di sukai nya.
Faris masih mengerutkan keningnya, mulanya dia bingung, tapi sepersekian detik dia ingat dengan wajah wanita yang tak lain adalah Talia.
Ya, wanita yang sudah membeli ponsel rancangan nya dengan harga tertinggi.
"Ya, selamat siang nona, Talia!" tukas Davvien menyambut uluran tangan Talia.
"Wah, anda masih mengingat saya, Tuan?" ujar Talia, tentu saja dia merasa senang karna Faris masih mengingat nya.
__ADS_1
Faris tersenyum tipis "Tentu! bukan kah sebagai pembisnis IQ kita harus kuat. Jika tidak akan mudah musuh atau saingan menjatuhkan kita!" jawab Faris telak, membuat kesenangan Talia seketika hangus menjadi debu yang di terpa oleh angin badai.
"Apa ada alasan anda ke sini, Nona?" tanya Faris. Kini dia sudah menyuruh Talia duduk di sofa, yang di ikuti oleh dirinya juga.
Talia berdehem, sebelum akhirnya berbicara "Jujur, saya sangat kagum dan puas dengan barang dari perusahaan, anda!" tukas Talia dengan senyuman tak menyurut dari bibir merah nya.
"Ah, anda terlalu berlebihan, Nona!" sergah Faris dengan senyuman miring di bibirnya.
"Saya mengatakan yang sejujurnya, Tuan. Maka dari itu, saya ingin melamar kerja di sini!" imbuh Talia lagi, membuat Faris menatap nya dalam-dalam.
Dengan wajah dingin mata elangnya menatap pada wajah Talia "Kenapa?" tanya nya dingin.
Seketika suasana sedikit nyaman kini berubah mencengkram, ntah kenapa Talia merasa sangat gugup.
"Karna saya ingin menjadi seorang karyawan dari perusahaan hebat dan terkenal di seluruh dunia ini!" timpal Talia, saat ini dia sudah bisa menguasai rasa gugupnya.
.
.
.
.
.
~Bersambung.
__ADS_1