Istri Taruhan Kunci Surgaku

Istri Taruhan Kunci Surgaku
Tidak Boleh Kuliah.


__ADS_3

...Kehidupan yang baik adalah sebuah proses, bukan suatu keadaan yang ada dengan sendirinya. Kehidupan itu sendiri adalah arah, bukan tujuan....


...****************...


Pagi hari ... seperti biasa, Nabil dan Faris sudah sama-sama siap untuk berangkat. Tapi kali ini, hanya Faris saja yang akan pergi bekerja, sedangkan Nabil tidak di izinkan Faris untuk pergi ke kampus, karna mengingat kejadian kemarin, dia sungguh tidak suka jika lelaki itu kembali mengejar istri nya lagi.


"Aku berangkat ya!" tukas Faris saat mereka sudah berada di depan pintu utama.


Nabil mengangguk, lalu mencium punggung tangan sang suami, dan di lanjutkan dengan Faris yang mencium keningnya.


"Dengar kan aku, jangan pernah keluar rumah tampa izin dari ku, nanti siang supir akan mengantar mu ke kantor ku, bawakan aku makan siang!" lanjut Faris lagi.


Nabil terkejut atas apa yang dia dengar, semenjak menikah, bahkan dia tidak tau dimana letak kantor sang suami berada.


Faris ingin melangkah masuk ke dalam mobil yang sudah di bukakan pintu oleh Diki, tapi suara Nabil kembali menghentikan langkahnya.


"Mas, bisakah supir saja yang mengantarkan makan siang untuk mu?" tanya Nabil dengan sangat hati-hati.


Mendengar itu, Faris berbalik, dia menatap pada Nabil dengan tatapan tidak suka.


"Kenapa, kamu keberatan untuk menemui ku? Apa kamu marah karna aku tidak mengizinkan mu ke kampus?" tanya Faris mendelik.


Nabil dengan begitu cepat menggeleng "Bukan seperti itu, tapi aku belum pernah datang ke kantor Mas Faris-" belum sempat Nabil melanjutkan ucapannya, Faris langsung memotong nya.


"Terus kenapa, kamu bisa menanyakan pada resepsionis di mana ruangan kerja ku" timpal Faris, sungguh bukan jawaban yang di inginkan Nabil, padahal bisa saja Faris menjawab, jika dia yang akan menjemput dirinya di Lobby kantor.

__ADS_1


Tidak ada pilihan lain, Nabi pun akhirnya mengangguk pasrah "Baiklah, Mas! Nanti Nabil akan memasak dan membawakan nya untuk mu!" ujar Nabil, dan ntah kenapa membuat Faris senang.


"Bagus, memang seharusnya kamu menurut apa yang di katakan oleh suami!" sarkas Faris lagi, kemudian dia langsung masuk ke dalam mobil, dan berlalu dari hadapan Nabil.


Setelah mobil yang di tumpangi Faris tidak terlihat lagi, Nabil masuk ke dalam lalu menutup pintunya kembali.


Wanita berpakaian tertutup ini melangkah masuk, sebenarnya dia merasa sedih karena tidak bisa masuk kuliah, tapi mengingat dia tidak boleh membantah ucapan sang suami. Jadi mau tidak mau dia harus mematuhi nya.


Dengan situasi seperti ini, semakin membuat dirinya merasa bosan, di rumah sebesar dan seluas ini, dia tidak bisa melakukan apapun, karna sekarang kegiatan nya sangat terbatas, anak dari aby Zainal ini pun juga merasa kesepian, meski banyak para maid di sana, tapi mereka terkesan menghindari Nabil, mungkin saja para pelayan hormat atau sungkan jika dekat dengan dirinya, mereka mungkin menyamai Nabil dengan Faris dan Kakek Adinata.


Nabil terus melangkah, ingin masuk ke dalam lift, tapi dia mengurung kan niatnya, karna dia melihat Bi Mila yang tidak terlalu jauh dari dirinya, diapun kemudian langsung memanggil bi Mila.


"Bi..." panggil Nabil.


Bi Mila menoleh, dan diapun menunduk lalu menjawab "Iya, Nona!"


"Saya mau melihat tanaman, apa sudah di siram, sekalian mau mengecek kolam renang, apa sudah di bersihkan atau belum!" jawab bi Mila dengan hormat.


"Apa Nabil boleh ikut, Bi? Biarkan Nabil saja yang menyiram tanaman di sana!" tanya Nabil lagi.


Bi Mila nampak mengangkat kepalanya, seperti dugaan Nabil, dia pasti akan menggeleng tidak menyetujui nya.


"Maaf, Nona! tapi itu memang jadi tugas para Maid di sini!" ujar bi Mila kembali menjawab.


"Tapi, Bi! Nabil suntuk di rumah tanpa melakukan apapun, Nabil mohon ya, soalnya saat di rumah, Nabil juga setiap hari menyirami bungan bersama Ummi!" pinta Mabil membujuk wanita paruh baya di hadapannya.

__ADS_1


Bi mila ragu, karna dia takut jika tuan mudanya akan memarahi dirinya, tapi melihat Nabil memohon padanya, dia juga tidak bisa menolak nya.


"Baiklah, ayo ikut Bibi!" celetuk bi Mila mengajak Nabil, membuat wanita dua puluh satu tahun ini mengembangkan senyumnya dari balik cadarnya.


Keduanya pergi melangkah ke taman, yang juga berdekatan dengan kolam renang. Sampai di sana, mereka melihat ada seorang Maid yang ingin menyirami tanaman, akan tetapi bi Mila langsung mencegah nya, karna Nona mereka juga ingin menyirami bunga-bunga yang sedang bermekaran di sana.


"Tuti, biarlah Nona Nabil yang menyirami nya!" ujar bi Mila, pelayan yang bernama Tuti pun langsung mengangguk dan memberikan nya pada Nabil.


Dengan senyuman merekah di bibirnya, Nabil menyirami bunga-bunga di sana sambil berceloteh dengan bi Mila, meski wanita paruh baya itu hanya menyahuti seadanya, karna dia enggan menimpali perkataan Nabil, sebab akan di kira tidak sopan.


"Bi, tanaman ini apa Kakek yang menanam nya?" tanya Nabil, karna tidak jarang jika lelaki pun kadang juga sering menanam bunga bukan.


"Bunga-bunga di sini kebanyakan Tuan Faris membelinya, meski bukan dia sendiri yang menanam nya, tapi dia sendiri yang memilih bunga lalu menyuruh tukang kebun untuk menanam nya!" jawaban bi Mila langsung membuat Nabil menatap ke arah nya.


"Ma-mas Faris? Apa Bibi tidak salah?"


.


.


.


.


~Bersambung.

__ADS_1


Maaf ya baru up, soalnya malam kemaren nggak sempat. Jangan lupa ya berikan dukungan kalian, baik itu like, komen, vote, apalagi kalau di kasih bunga. Pasti akunya senang 🤭🤭.


__ADS_2