Istri Taruhan Kunci Surgaku

Istri Taruhan Kunci Surgaku
Kunci Surga


__ADS_3

Tiga hari sejak Nabil sadar dari komanya, kini dia sudah di nyatakan sembuh total dan bisa pulang ke rumah.


Semua anggota keluarga, termasuk orang tua Mira menjemput Nabil, mereka semua tampak bahagia, setelah melewati rasa takut akan kehilangan Nabil. Akhirnya mereka bisa juga pulang dengan keluarga lengkap.


Diki membuka pintu mobil untuk Faris yang menggendong Kenzo dan Nabil yang menggendong Khanza.


"Kami akan pulang dulu, Nak!" ucap Ummi Fatimah, mereka tidak lagi pergi ke mansion Bagaskara, karna Faris mengatakan akan membawa sang istri pada suatu tempat.


"Baik, Ummi. Hati-hati ya!" jawab Nabil.


"Seringlah datang ke rumah!" seru Ummi.


"Pasti, Mi! Nabil dan Faris pasti akan sering menginap di sana bersama si kembar!" bukan Nabil yang menjawab, melain Faris. Sekarang ini dia merasa lega, dada nya terasa plong karna tidak ada rahasia yang harus dia tutupi lagi pada mertuanya itu.


Ummi tersenyum dari balik cadar nya, kemudian mereka juga ikut masuk ke dalam mobil setelah mencium kedua cucu mereka yang tertidur pulas.


"Mama dan Papa juga hati-hati ya!" ujar Mira pada kedua orangtuanya.


"Iya, Nak ... Kamu juga harus menjaga calon cucu Mama dan Papa." timpal Mama nya, Mira.


Semua sudah masuk ke dalam mobil, Diki, Mira, Faris, Nabil dan si kembar pulang menggunakan satu mobil. Mira duduk di sebelah Diki di depan, sedari tadi tangan Diki tidak pernah lepas menggenggam erat tangan, Mira, terkadang dia mengelus perut sang istri yang masih datar.


"Anak mu tidak akan keluar dari dalam perut saat ini juga, jadi fokus lah menyetir!" cerocos Faris merasa khawatir Diki tidak memegang setir kemudi dengan kedua tangan nya.


Diki yang mendengar hanya mencibikkan bibirnya "Bahkan dulu kamu tidak pernah melepaskan tangan mu dari perut, Nabil." timpal Diki tidak mau kalah.


"Sudah mulai berani kamu ya!" sentak Faris, membuat Kenzo terbangun dari tidurnya.


"Shushushsut ... Sayang, Nak. Tidur lagi ya." Nabil refleks yang mengelus kepala putra nya itu.


"Mas jangan keras-keras dong suaranya, kasian Kenzo terbangun." omel Nabil membuat Faris tercengir, sementara Diki tertawa lebar.


"Siniin Khanza, Bil, dan kamu gendong Kenzo aja!" tawar Mira meminta memangku anak bungsu Adinata.


"Boleh, Mir." jawab Nabil seraya memberikan anak perempuan nya yang masih tertidur pada Mira, terlihat Khanza sedikit menggeliat dengan mulut nya seperti mengunyah sesuatu saat Mira menggendong nya, tapi setelah itu dia kembali tertidur pulas.


"Ululu kok gemes banget sih keponakan nya, Aunty!"gumam Mira sambil mencium pipi Khanza yang mulai mengembul.


Diki tersenyum melihat istri nya yang begitu menyayangi Khanza, tangan nya terangkat mengelus kepala sang istri.


Nabil beralih menggendong Kenzo, membuat anak nya kembali tertidur, Faris yang juga melihat cara Nabil yang begitu lembut menenangkan Kenzo seketika membuat hatinya menghangat. Nabil benar-benar jodoh yang tepat untuk dirinya. Di pandang dari sudut manapun wanita nya itu terlihat sangat sempurna.


Sikapnya yang lembut penuh kasih sayang, mempunyai wajah cantik, mata bulat, badan yang sintal, keibuan, yang terpenting Nabil pandai menjaga diri dari pandangan lawan jenisnya, dia tertutup sejak dari waktu masih kecil.

__ADS_1


Akan tetapi dengan penampilan nya yang berniqab, kecantikan dan keanggunan yang dia miliki masih terpancar hingga membuat mata akan tentram, hati merasa sejuk, dan jiwa akan damai bagi yang menatapnya, maka dari itu, Faris sangat tidak suka jika ada laki-laki yang memandang Nabil.


Faris menggenggam tangan Nabil, mencium nya beberapa kali, membuat istrinya malu dengan Diki dan juga Mira.


...****************...


Hampir satu jam di perjalanan, mereka kini berhenti di salah satu masjid yang terlihat kusam, dinding nya masih belum terpasang penuh, mereka semua turun, Nabil kembali melihat masjid itu, atapnya yang sudah bocor, lantai sudah banyak yang bolong.


Nabil melirik pada Faris, padahal ini belum masuk waktu solat Zuhur "Kenapa berhenti di sini, Mas?" tanya Nabil. Bukan nya tidak boleh, akan tetapi dia merasa heran karna tidak biasanya lelaki nya itu singgah masjid.


"Saat kamu sakit aku berhajat, jika kamu di berikan kesembuhan, dua puluh persen dari perusahaanku akan aku berikan pada Masjid dan pesantren, dan Alhamdulillah kamu di berikan kesembuhan, jadi kita akan memberikan dana untuk masjid ini, agar Masjid ini bisa di renovasi menjadi lebih bagus lagi. Kalau untuk pesantren itu terserah sama kamu, jika kamu ingin menyumbang pada pesantren tempat kamu ngaji aku akan setuju." jawab Faris membuat Nabil berkaca-kaca, dia tidak menyangka, hanya untuk keselamatan nya, Faris mengorbankan segalanya.


Nabil langsung memeluk Faris dari samping "Terimakasih banyak, Mas! Kamu memang suami yang sangat-sangat baik, harusnya kamu tidak perlu melakukan ini." ungkap Nabil seraya air matanya yang sudah keluar.


"Apa gunanya harta jika orang yang di cinta tidak bersama kita, aku bekerja untuk kalian, jadi untuk apa semua harta ku jika kamu tidak ada di samping ku. Lagipula ini juga sebagai amalan ku atas dosa yang aku perbuat selama ini. Aku tidak ingin nanti hanya kamu, Papa, Mama dan anak-anak yang berada di surga nya Allah, aku juga ingin ikut bersama kalian." jawab Faris spontan, lagi-lagi membuat haru Nabil.


Memang benar, sedekah yang bermanfaat jika kita mengifakkan harta untuk masjid ataupun pondok pesantren. Di saat kita sudah meninggal, pahala dari sedekah yang kita berikan pada tempat itu akan selalu mengalir untuk kita.


Mira dan Diki juga saling memeluk, dengan baby Ken dalam gendongan Mira, wanita itu juga ikut menitikan air matanya, akhirnya perjuangan Nabil untuk membuat Faris kembali ke jalan nya tidak sia-sia.


"Setelah ini aku akan menunjukkan satu tempat lagi untuk kamu!" tukas Faris, mereka langsung bertemu pada pengurus masjid untuk memberikan dana agar Masjid segera di renovasi.


Selesai menyerahkan dana, mereka kembali masuk ke dalam mobil, untuk pergi ke tempat yang di maksud Faris.


"Mas, jika aku meminta sesuatu apa kamu akan memberikan nya?" tanya Nabil ragu-ragu, Mira hanya melirik lewat kaca dalam mobil.


"Apapun akan aku berikan untuk mu, Sayang!" jawab Faris, tidak lupa memberikan ciuman di kepala sang istri.


"Saat aku mondok, ada seorang anak perempuan, dia sangat yakin untuk menuntut ilmu, akan tetapi orang tuanya tidak mampu untuk membiayai dirinya. Kamu ingat kan, anak perempuan yang dulu hampir kamu tabrak saat kita bertemu yang kedua kalinya." terang Nabil membuat Faris memutar memorinya, dan spontan Faris mengangguk.


"Iya, aku ingat. Memang nya kenapa?" tanya Faris bingung.


Mira juga ikut berpikir "Apa yang kamu maksud itu Aisyah, Bil?"


"Iya, Ra! Kasihan kan dia di sana, dulu setelah aku menikah masih ada kamu, tapi sekarang dia tidak ada yang mengurus. Jadi jika boleh, aku ingin kita yang membiayai selama dia di pesantren!" pinta Nabil beralih melihat Faris, ada keraguan saat Nabil meminta nya, akan tetapi dengan begitu cepat Faris mengiyakan nya.


"Aku kira kamu akan meminta rumah, mobil, pakaian atau tas-tas mahal, sayang! Ternyata kamu lebih memikirkan orang lain." ucap Faris, semakin hari Faris semakin merasa salut dengan istrinya itu.


"Untuk apa aku berfoya-foya dengan semua itu, Mas! Sedang ada orang yang lebih membutuhkan lagi, apalagi dia sedang menuntut ilmu Allah." sergah Nabil.


Faris mengangguk "Baik, kita akan segera ke sana dan menemui nya!"


"Apa kamu serius? Kita akan membiayai nya mulai dari uang tahunan, uang makan, pakaian, kitab-kitab dan semua keperluan nya."

__ADS_1


"Iya, secepatnya kita akan ke sana!" sungguh Nabil merasa sangat bahagia, dia langsung merebahkannya kepalanya di dada sang suami.


"Terimakasih banyak, suamiku!"


...****************...


Tidak berselang lama, mereka kembali berhenti di sebuah parkiran yang sudah terlihat sepi, berdebu, bahkan dedaunan dari seberang berserakan di sana.


"Dimana ini, Mas?" tanya Nabil bingung.


"Iya, ini di mana sih Mas? Kok tempatnya tidak terawat?" timpal Mira juga ikut penasaran.


"Kita keluar dulu." mereka langsung keluar, Faris menuntun sang istri untuk masuk ke dalam tempat yang sudah kosong, banyak botol minuman yang pecah, sofa-sofa sudah sangat berdebu.


"Ini ... Bar?" tanya Nabil menatap penuh selidik pada sang suami.


Faris mengangguk "Ini lah bar yang dulu aku punya, tapi sekarang aku sudah menutup nya, aku benar-benar ingin bertaubat, sayang!"


"Faris berjanji akan menutup bar ini jika kamu di berikan kesembuhan, Bil!" timpal Diki menjelaskan.


Lagi dan lagi, mata Nabil berkaca-kaca "Alhamdulillah ya Allah, engaku telah memberikan hidayah untuk suami hamba, terimakasih banyak, Mas! Aku sungguh sangat senang mendengar nya. Aku harap tempat ini benar-benar tutup dan tidak di jual untuk siapapun!"


"Kamulah hidayah terindah dalam hidupku, Allah telah mengirimkan kamu untuk mengubah kehidupan ku, menjadi kunci surga ku jika Allah mengizinkan nya." kata Faris lagi, dia langsung merengkuh tubuh Nabil, memeluknya dengan sangat lama.


Air mata tidak bisa Nabil bendung lagi, rasa haru dan bahagia hingga membuat nya tidak bisa berkata-kata lagi.


.


.


.


.


.


.


.


~Bersambung.


...Alhamdulillah, akhirnya Faris benar-benar taubat....

__ADS_1


...Jangan lupa Like komen dan juga Vote kakak ku sayang....


__ADS_2