
Suasana di dalam kamar mewah bernuansa hitam abu-abu saat ini terasa begitu tegang, ruangan yang tadi di penuhi dengan suara aneh Nabil dan Faris saat mereka mencapai puncak, kini terganti dengan suasana senyap sunyi.
Sekarang ini Nabil sudah menggunakan pakaian nya, demikian pun dia juga memakaikan baju untuk sang suami.
Faris terlihat begitu shock, wajahnya tampak lesu, tatapan nya yang kosong, menyiratkan kepedihan yang pernah dia alami, tangan nya yang gemeteran, menandakan betapa dia pernah merasakan batin nya sangat terguncang. Nabil yang melihat keadaan sang suami seperti sekarang ini merasa begitu sedih, hatinya ikut tercubit, tatkala lelaki yang biasanya terlihat gagah, tegas dan di hormati oleh semua orang, dalam keadaan lemah dan terpuruk seperti ini.
Dengan begitu lembut tangan nya terangkat, lalu mengelus keringat pada dahi sang suami, kemudian dengan perlahan Nabil membawa wajah yang tampak pucat itu kedalam dekapannya, meletakkan wajah Fsris tepat di dadanya, memeluk dengan erat, memberikan kekuatan, agar suami itu tau, jika dia tidak sendiri.
"Aku tidak tau seberat apa beban yang telah Mas alami, tapi seberat apapun itu Mas harus berusaha ikhlas. Dan sekarang Mas tidak sendiri, ada aku yang selalu berada di sisi Mas!" bisik Nabil di telinga sang suami.
Nabil mulai merasakan jika Faris sedikit merasa tenang, karna dia merasa jika suaminya itu ikut memeluknya dengan sangat erat.
Di situasi seperti ini, Nabil memilih untuk bersolawat di telinga Faris, tujuan nya agar sang suami bisa lebih tenang lagi. Sebenarnya dia ingin mengaji, tapi mengingat jika dia baru saja memberikan jatah pada sang suami dan belum sempat mandi, jadinya dia ingin menenangkan Faris sebisa mungkin.
Setelah setengah jam, Faris terlihat tampak lebih tenang, dia melepaskan diri dari pelukan sang istri, kemudian beralih berbaring di atas paha Nabil, dengan sabar dan lembut Nabil mengelus kepala suaminya, sambil terus bersolawat.
"Terimakasih, aku merasa sedikit tenang! Terimakasih karna telah hadir dan juga menjadi penyemangat hidupku!" ungkap Faris lirih.
Nabil tersenyum "Segala sesuatu yang menimpa pada kita, terutama saat kita merasakan kegundahan, kegelisahan atau ketakutan, obat nya tidak lain adalah beristighfar atau bersolawat, mengadu diri kepada Allah!" jawab Nabil.
"Tugas nya seorang istri memang melayani dan menemani suaminya dalam keadaan apapun, baik itu senang, sedih, susah, ataupun terluka. Dan aku ingin setiap perasaan yang Mas rasakan ada aku selalu di sisi mu!" lanjut Nabil lagi, bagaikan penyejuk yang menyeruak masuk ke dalam relung hati Faris, saat mendengar ucapan sang istri.
__ADS_1
"Apa kamu mempercayai jika Tuhan itu ada?" tanya Faris dengan tiba-tiba.
Nabil menoleh, sontak dia menjawab "Tentu saja, jika Allah tidak ada, maka aku, Mas dan semua yang ada di bumi ini pasti tidak akan ada!" jawab Nabil tegas, dia merasa tidak nyaman dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh suaminya.
"Kalo memang iya, apa kamu percaya jika tuhan itu adil kepada semua hambanya?" tanya Faris lagi yang semakin membuat sang istri bingung.
Nabil mendelik, lalu mengangguk kepala nya dengan begitu yakin "Allah tidak pernah memusuhi hambanya, Allah senantiasa menyayangi hamba-hamba nya, mengapa pertanyaan mu harus seperti itu?" tukas Nabil balik bertanya.
Faris diam sejenak, sebelum akhirnya dia melanjutkan ucapannya.
"Dulu aku juga seorang yang sangat mempercayai Tuhan, aku patuh, semua perintah nya aku kerjakan, aku rajin mengaji, bahkan dari umur ku enam tahun solat tidak pernah ku tinggalkan, karna Kakek, Nenek, Mama dan Papa selalu mengatakan jika aku harus patuh pada Tuhan!" Faris menjeda ucapannya, menarik nafas terlebih dahulu, lalu melanjutkan nya kembali.
"Akan tetapi, di usia ku delapan tahun, sesuatu yang buruk menimpa ku, saat itu tidak ada yang menolong ku, bahkan aku berdoa pada Tuhan, agar menolong kedua orang tua ku dari para penjahat yang ingin membunuh mereka. Kami di serang pada saat Papa meresmikan kapal pesiar yang baru saja di luncurkan, aku mengira jika malam itu adalah malam yang akan membahagiakan bagi Papa dan juga Mama ku. Akan tetapi semuanya terbalik, saat tiba-tiba kami di serang oleh orang yang tidak kami kenal, semua tamu yang hadir keluar dan berteriak ketakutan, karna ancaman akan di tembak oleh orang-orang yang tidak mempunyai hati, hingga menyisakan aku dan juga keluarga ku saja di dalam kapal tersebut!" Faris menceritakan apa yang terjadi beberapa tahun lalu dengan nada begitu sedih.
Dia bahkan membayangkan kejadian selanjutnya, hingga membuat burung nya mati rasa, yang tidak bisa dia ceritakan pada Nabil, dia tidak ingin istrinya itu tau, jika selama ini dia adalah pria yang lemah, dan juga tidak normal.
Nabil yang mendengar nya juga ikut meneteskan air mata, dia tau persis apa yang di alami oleh suaminya itu, di umur nya yang masih terbilang anak-anak, dia harus mendapatkan tekanan batin yang begitu kejam.
"Katakan pada ku, jika memang Tuhan itu adil, mengapa tidak membantu kedua orang tua ku, jika Allah itu menyayangi hambanya, kenapa tidak mengabulkan permintaan ku? Mulai saat itu aku sudah tidak percaya lagi, karna aku kecewa, orang yang sangat aku cintai harus di bunuh dengan cara tragis bahkan di depan mata kepala ku sendiri" imbuh Faris lagi.
Nabil menggeleng, baru sekarang dia paham mengapa sikap suaminya seperti itu, karna sebuah kehilangan, hingga membuat nya lupa akan kenikmatan yang pernah dia rasakan.
__ADS_1
Pemikiran sang suami tentu sangat salah, seharusnya satu cobaan itu bisa kita mengambil pelajaran dan hikmah nya, bukan malah membuat kita melenceng jauh dari agama.
"Itu tidak benar, Mas! Setiap cobaan yang Allah berikan, itu mungkin saja karena Allah memilih kita sebagai hamba nya yang kuat, jika Mas mampu menghadapi nya, maka Mas lah manusia paling Allah sayangi, dan surga jaminan untuk mu! Setiap ujian ada hikmah nya, mungkin saja Allah lebih menyayangi Mama dan Papa, hingga mereka lebih dulu meninggalkan kita!" ucap Nabil menyangkal perkataan sang suami, sebagai seorang istri, dia ingin meluruskan pemikiran suaminya yang salah paham.
"Tapi kenapa aku yang harus merasakan ini, bahkan aku kehilangan mereka dalam waktu bersamaan, kenapa ini harus terjadi pada ku" timpal Faris, yang belum merasa puas dengan jawaban sang istri.
.
.
.
.
.
~Bersambung.
Ada yang bisa ngasih saran buat babang Faris, jika kita di dalam dunia ini hanya lah sementara 🙄🙄.
Jangan lupakan jejak kalian ya, aku nggak maksa, jika kalian bersedia tinggalkan like, komen dan juga vote sebanyak-banyak nya.
__ADS_1
Kalo di kasih hadiah juga nggak nolakðŸ¤.