Istri Taruhan Kunci Surgaku

Istri Taruhan Kunci Surgaku
Cibiran Terhadap Nabil.


__ADS_3

Sebuah mobil sport memasuki pekarangan kantor yang menjulang tinggi ke langit, setelah memarkirkan mobilnya, sang supir turun, guna untuk membuka pintu mobil untuk wanita yang dia antar.


"Terimakasih ya, Pak!" ucap wanita itu dengan suara lembutnya.


"Iya, Nona! Sama-sama!" jawab supir sambil menunduk.


Wanita yang ternyata adalah Nabil keluar, matanya langsung menatap pada bangunan yang sangat besar dan juga tinggi di hadapannya, dia semakin paham, jika suaminya itu memang bukan lah orang biasa.


Seketika Nabil merasakan keraguan di hatinya, kantor sebesar itu pasti di penuhi oleh orang-orang hebat, dia harus melewati puluhan bahkan ratusan orang untuk sampai pada ruangan sang suami.


"Bagaimana ini, apa aku masuk saja, atau aku menghubungi Mas Faris!" gumam Nabil pelan, di satu sisi dia ingin ada orang yang menemani dirinya, karna Nabil memang tidak pernah berjalan dalam keramaian seorang diri, tapi dia juga tidak berani menghubungi Faris, takut suaminya sedang sibuk atau sedang rapat.


"Kamu pasti bisa, Bil! Bismillahirrahmanirrahim!" dengan menguatkan dirinya, Nabil akhirnya melangkah masuk.


Tepat seperti dugaan nya, saat dia sampai di lobby, semua mata tertuju pada dirinya seorang, ada yang melihat nya dengan tatapan aneh, ada yang bingung, bahkan ada yang seperti mencibir, mungkin karna dia berpakaian tertutup dan juga serba hitam. tapi Nabil mengambil sikap bijak, yaitu dengan menunduk kan kepalanya.


"Siapa dia, kenapa dia sangat aneh!" bisik seorang karyawan wanita.


"Iya, aku baru pertama melihat nya, untuk apa dia ke sini?" timpal karyawan lain nya.


"Lihat lah, dia membawakan rantang, seolah ada suaminya di sini!" imbuh karyawan dengan rambut pirang.


"Dia menggunakan penutup wajah pasti karna mukanya jelek, ataupun ada bekas luka bakar!" cibir seorang lagi yang baru bergabung dengan ketiga wanita hampir dekat dengan Nabil.


Nabil dapat mendengar semuanya, tapi dia tetap mencoba untuk diam seolah dia tidak mendengar apa-apa, meski langkah nya sudah terasa lemah.


Sampai di meja resepsionis, Nabil akhirnya pun bertanya "Permisi Mbak!" ucap Nabil dengan sopan.


Untung nya resepsionis  itu tidak sama dengan empat karyawan di sana, dengan tersenyum dia menjawab "Iya, Mbak! Ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita itu yang Nabil lihat namanya adalah Nisa.


"Mbak, Nisa! Saya mau bertanyaanya, ruangan Mma-, maksud saya ruangan Tuan Faris di mana ya?" tanya Nabil, dia sengaja tidak memanggil mas kepada suaminya di hadapan, Nisa. Karena Nabil takut jika orang-orang akan mengetahui jika dirinya istri dari Presdir kantor tersebut, karna dia tidak ingin membuat Faris malu karna mempunyai istri yang berpenampilan aneh seperti dirinya.


Nisa tampak terdiam, dia berfikir ada perlu apa wanita di hadapannya dengan bos mereka, tapi tanpa bertanya, dia langsung menghubungi Faris.


"Halo, Tuan" ucap Nisa setelah panggilan tersambung.

__ADS_1


"Katakan!" tukas Faris dengan begitu singkat.


"Ada seorang wanita yang ingin bertemu dengan anda, Tuan! Namanya-" Nisa hendak menjauhkan telepon kacanya, ingin bertanya nama kepada Nabil, tapi suara Faris membuat nya mengurungkan niatnya lagi.


"Suruh dia ke ruangan saya!" perintah Faris, setelah itu dia langsung memutuskan sambungan nya.


"Mbak, anda bisa langsung ke ruangan Tuan, di lantai tiga puluh ya mbak!" ucap Nisa menjelaskan nya, Nabil hanya mengangguk dan tersenyum di balik niqab nya.


"Terimakasih ya, Mbak!" ucap Nabil ramah, kemudian dia berjalan masuk ke dalam lift, bukan lift khusus Presdir, akan tetapi lift karyanya biasa.


Resepsionis itu hanya mengangguk, sebelum akhirnya dia mendapat pertanyaan dari karyawan yang dari tadi sudah sangat penasaran.


"Heh, mau kemana itu orang aneh?" tanya karyawan berambut pirang tadi.


"Mau ke ruangan bos" jawab Nisa santai, tapi tidak dengan mereka berempat.


"Apa, ke ruangan bos! Ada perlu apa ya, pakek bawa rantang segala!" hardik kawan mereka lagi.


Nisa hanya mengangkat bahu acuh, dia tidak ingin berurusan dengan para wanita rempong di sana, karna dia masih menyayangi pekerjaan nya.


"Sebaiknya kalian lanjut bekerja, jika kalian tidak ingin di pecat, karna mungkin saja itu adalah saudara Bos atau bisa juga istri nya!" timpal Nisa dengan sangat tegas hingga ke empat orang itu hanya bisa mengeram di dalam hati.


Dia mendengar semua yang di bicarakan Nisa dengan Nabil, karna dia tanpa sengaja lewat.


"Siapa wanita itu, kenapa dia datang dengan membawa kotak makanan, apa dia orang spesial bagi, Faris!" batin Talia.


Dia sungguh tidak rela, jika apa yang di katakan resepsionis tadi itu benar, Nabil adalah istri Faris. Dia yang sudah lama mengejar Faris, malah orang lain yang mendapatkan nya.


"Aku tidak akan membiarkan seorang pun mengambil Faris dari ku, itu janji ku!" lanjut Talia membatin.


...****************...


Sedangkan di lantai tiga puluh, Nabil baru saja keluar dari dalam lift, dan kini berjalan menyusuri ruangan yang terbuat dari kaca, terlihat sangat rapi dan juga bersih.


Karna Nabil menggunakan lift karyawan, dia harus kembali berjalan untuk sampai ke ruangan sang suami, padahal jika dia menggunakan lift khusus Presdir, maka dia akan sampai langsung di depan ruangan Faris.

__ADS_1


Setelah sedikit jauh berjalan, Nabil sampai di depan ruangan Faris, memang tampak sepi, karna lantai tiga puluh di khususkan untuk Faris dan juga Diki saja.


Dengan pelan Nabil mengetuk pintu, hingga dia mendengar suara dari dalam yang menyuruh nya masuk.


"Assalamualaikum!" ucap Nabil.


Sedangkan Faris yang memang sedari tadi gelisah menunggu Nabil yang sangat lama sampai di ruangan nya, reflek dia bangun ingin mendekati Nabil, tapi mengingat ada Diki yang selalu memantau pergerakan nya, membuat Faris menahan nya, karna dia takut jika Diki akan mengira dirinya sudah mulai perduli pada sang istri.


Tidak ada yang menjawab salam Nabil, mereka berdua seolah tuli. Nabil masuk, matanya langsung melihat pada sang suami yang sudah berdiri, tapi seketika dia melihat Faris duduk kembali dan menyuruh Diki keluar.


"Diki, kembalilah ke ruangan mu!" perintah Faris, Diki memutar bola matanya, karna tadi Faris sendiri yang memanggil nya.


"Baik, Tuan!" jawab Diki, kemudian dia langsung melangkah keluar, ingin menyapa Nabil saat melewati nya,  tapi dia tidak mau mengambil resiko dengan bos nya itu.


Saat Diki sudah keluar, Faris langsung memanggil Nabil, tapi tetap dengan wajah datar, seolah-olah dia biasa-biasa saja, padahal hatinya sudah sangat bergemuruh.


"Mendekat lah!" Nabil mengangguk, lalu berjalan mendekat pada sang sumi setelah meletakkan rantang makanan di atas meja. Seperti biasa, Faris langsung menarik pinggang nya hingga Nabil terduduk di atas paha Faris.


"Kenapa sangat lama?" tanya Faris sambil memejamkan mata saat memeluk pinggang ramping sang istri, menghirup aroma wangi dari tubuh sang istri.


"Aku harus memasak dulu, Mas!" jawab Nabil.


Faris melepaskan pelukan nya, lalu menghadapkan wajah Nabil pada wajahnya, dengan lihai tangan nya membuka penutup wajah Nabil.


"Mas!" ucap Nabil memegang tangan sang suami.


"Tidak ada orang yang berani masuk ke sini tanpa izin dari ku!" jawab Faris yang paham jika Nabil merasa khawatir.


.


.


.


.

__ADS_1


.


~Bersambung.


__ADS_2