
Nabil langsung mengarahkan pandangan nya pada layar persegi berukuran sedang yang terpasang melekat di dinding kamar.
Matanya langsung berbinar tatkala melihat wajah orang yang menghubungi dirinya.
"Assalamualaikum, Mas!" ucap Nabil yang selalu mendahului dengan salam.
"Waalaikumsalam, my heart," jawab Faris dengan senyuman merekah di bibirnya.
"Mas, bisa kita bicara melalui ponsel saja?" pinta Nabil, aneh rasanya jika dia bicara dengan layar besar itu.
"Kenapa?" tanya Faris di seberang.
"Tidak, hanya nyaman jika bicara dengan ponsel saja." jawab Nabil seadanya.
"Sesuai keinginan mu, istri ku!" Dengan di akhiri senyuman manis, Faris mematikan sambungan pada Jane, kemudian terdengar suara getar ponsel Nabil yang ternyata dalam mode senyap.
Dengan begitu cepat Nabil menggeser tombol hijau untuk menjawab panggilan dari lelaki yang dia cintai.
Nabil tersenyum malu-malu saat melihat wajah suami di hadapannya, meski pun mereka hanya bersitatap melalui Video call.
"Assalamualaikum, Mas!" ucap Nabil lagi.
Faris merasa geli melihat tingkah Nabil yang sangat menggemaskan.
"Waalaikumsalam," dia tetap menjawab salam dari Nabil.
"Kenapa baru menghubungi ku? Apa tadi Mas melupakan ku? Apa Mas tidak tau sedari tadi aku sibuk memikirkan mu!" cerocos Nabil langsung memberikan pertanyaan pada sang suami.
Faris melihat wajah Nabil yang mulai cemberut, baru saja dia tersenyum manis saat mengucapkan salam, dan sekarang ekspresi nya langsung berubah.
"Merindukan aku, sayang?" tanya Faris sambil menaik turunkan alisnya. Dia tau Nabil sedang kesal, tapi meladeni ibu hamil yang sedang marah-marah bukan pilihan yang tepat, maka dari itu dia mencoba bersikap santai sebelum menjelaskan semuanya.
"Jelas aku merindukan mu, kamu itu suami ku." jawab Nabil dengan suara sedikit meninggi, pertanyaan Faris semakin membuat nya marah, apa suaminya tidak merindukan dirinya, pikir Nabil.
Faris menaikkan alis nya sebelah, usahanya tidak berhasil "Sayang, kamu tidak boleh marah-marah, ingat kamu sekarang lagi mengandung anak kita," tegur Faris.
Mendengar itu Nabil menghembuskan nafas panjang "Astaghfirullah ... Maaf, Mas! Aku terlalu mengkhawatirkan mu." ujar Nabil melirih.
"Tidak, sayang! Aku yang harus minta maaf karna tidak sempat memberimu kabar dan membuat mu cemas," potong Faris.
"Sesampainya aku di sini, kami langsung menunju ke kantor karna ada sedikit masalah, jika menghubungi my secara tergesa-gesa takutnya akan semakin membuat mu khawatir, maka dari itu aku berencana menyelesaikan nya terlebih dahulu," imbuh Faris lagi, Nabil masih menyimak sang suami dari layar ponsel di tangan nya.
"Setidaknya Mas bisa kirimkan aku pesan!" timpal Nabil dengan nada lemah.
"Maafkan aku, karna telah membuat mu khawatir, jika tau membuat mu secemas ini aku akan langsung menghubungi mu saat sampai tadi" hanya itu yang dapat Faris utarakan, dia memang mengaku salah karna mengabaikan sang istri hari ini.
"Sudah lah, Mas! Kan kamu juga baik-baik saja, jadi jangan saling menyalahkan diri seperti ini," celetuk Nabil menghibur sang suami, meski tadi sangat kesal, tapi setelah mendengar penjelasan Faris membuat nya kasihan karena masalah perusahaan yang lelaki nya hadapi.
__ADS_1
"Hem ... Katakan, apa anak kita membuat mu susah hari ini?" tanya Faris mengalihkan pembicaraan.
Nabil sedikit mengangguk "Sejak tadi rasanya mulas, tapi sekarang sudah membaik setelah melihat mu," jawab Nabil dengan senyuman simpul menghiasi bibirnya.
"Apa kamu sedang menggoda ku, sayang?" tanya Faris sambil menatap secara intens wajah sang istri.
"Aku mengatakan yang sebenarnya kok," jawab Nabil kembali membuat wajah nya cemberut, bahkan bibirnya dia buat monyong ke depan.
Faris yang melihat nya semakin gemas, rasanya dia ingin ******* bibir merah muda itu.
"Jangan buat wajah mu seperti itu, sayang! Atau aku akan terbang ke sana malam ini juga!" protes Faris, berada jauh dengan Nabil saja sudah membuat dirinya sangat susah, apalagi dia harus menahan sesuatu yang sangat menyiksa jika di goda oleh sang istri.
Nabil reflek menutup mulutnya dirinya dengan suara terkekeh nya "Kalau begitu aku goda saja agar kamu cepat pulang," tukas Nabil mengedipkan matanya sebelah.
"Wah wah ... Rupanya istri ku sudah mulai nakal ya," imbuh Faris, berbalik menggoda Nabil.
"Ini bukan keinginan ku, hanya menuruti hormon ku saja, mungkin karna aku sedang hamil." elak Nabil yang merasa malu atas ucapan nya sendiri.
"Kasian kamu, Nak! Masih dalam kandungan sudah di fitnah oleh Ummi mu sendiri," gumam Faris dengan nada sedih.
"Sudah katakan saja jika kamu merindukan ku, maka besok aku akan langsung pulang menemui kalian!" celetuk Faris dengan membalas kedipan mata seperti yang Nabil lakukan tadi.
Wajah Nabil bersumbu merah merasa malu, dia memang sangat merindukan Faris, tapi dia juga tidak mungkin egois menyuruh sang suami pulang hanya karna menginginkan suaminya selalu berada di dekatnya.
"Selesaikan pekerjaan Mas di sana dulu." sergah nya.
Hanya itu yang keluar dari mulut Faris, setelah itu mereka sama-sama terdiam, saling menatap tanpa sepatah katapun.
Nabil mulai merasa malu karna di tatap lama oleh sang suami, ingin protes tapi mulutnya terasa terkunci tidak bisa mengeluarkan kata, kelakuan dua calon orang tua ini persis seperti remaja yang baru mengenal cinta, berpacaran secara LDR.
"Sayang...!" panggil Faris setelah puas membuat Nabil salah tingkah.
"Iya, Mas!" jawab Nabil dengan begitu cepat.
"Aku sangat merindukanmu! Tidak tau sampai kapan aku bisa menahan nya, semoga sampai masalah ku di sini selesai," lirih Faris, dia benar-benar sangat merindukan calon ibu dari anak nya itu.
Nabil tersenyum "Aku juga sangat merindukan, Mas! Tapi kita harus sabar, Mas harus menyelesaikan pekerjaan di sana terlebih dahulu, karna jika Mas pulang urusan nya belum selesai, Mas harus kembali ke sana lagi, akan sangat membuang-buang waktu." jelas Nabil meyakinkan suami nya itu.
Anak pertama dan terakhir Bagaskara itu hanya mengangguk, jemarinya dia gunakan untuk mengusap layar ponsel yang menunjukkan wajah cantik istri nya.
Cup...
Satu ciuman Faris berikan pada layar kaca tersebut, Nabil yang melihat nya langsung tertawa.
"Apa yang Mas lakukan?" tanya Nabil pura-pura tidak tau.
Faris hanya tersenyum "Tidak, hanya merasa gemas saja! Coba kamu dekatkan layar ponselnya dengan bibir mu,"
__ADS_1
Nabil mengerutkan keningnya "Kenapa?" tanya nya yang tidak paham maksud dari suaminya.
"Lakukan saja, aku ingin memastikan sesuatu," timpal Faris meyakinkan Nabil.
Nabil mengangguk patuh, dengan polosnya dia mendekatkan bibirnya dengan layar persegi tersebut.
Cup ... Cup ... Cup...
Nabil membelalakkan matanya saat tau yang di perbuat Faris, ternyata Faris sedang mengerjai dirinya.
"Apa yang mas lakukan?" tanya Nabil masih sedikit bingung.
"Mencium bibir mu,"
Alis Nabil terangkat sebelah "Haruskah begitu?"
"Mau gimana lagi, secara langsung saat ini tidak mungkin, hanya itu cara meluapkan rasa rindu ku pada mu." jawab Faris dengan nada melirih.
Blus...
Wajah Nabil seketika kembali memerah mendengar ucapan manis yang keluar dari lelaki nya di sebrang sana.
"Oh ya aku sampai lupa menanyakan nya, apa kamu sudah makan?" tanya Faris membuat Nabil menggeleng dengan pelan.
Faris mencibikkan bibir nya "Kenapa kamu belum makan, nanti kalau kamu sakit bagaimana?" cerocos Faris mengomeli sang istri.
"Aku belum telat, Mas! ini baru jam...!" Nabil menegakkan kepalanya melihat pada jam di dinding sudah menunjukkan pukul delapan malam, Nabil langsung terkejut membulatkan matanya, berarti dia bicara dengan Faris hampir dua jam.
"Sekarang di sana pun sudah malam, sayang! Lebih baik kamu makan dulu! Oh ya, teman kamu apa masih ada di sana?" tanya Faris karna dia tidak melihat jika sahabat sang istri beda di sana.
Mendengar pertanyaan Faris, Nabil semakin melebarkan matanya, dia baru ingat akan Mira yang juga berada di sana.
"Astaghfirullah, Mas! Aku melupakan nya"
.
.
.
~Bersambung.
Lah ... Nabil sampai lupa sahabat nya di rumah karna terlalu senang bicara sama Faris, bagaimana kalau Mira sudah lapar tu, wkwkwkwk.
Jangan lupa Like komen dan juga Vote ya kakak ku.
Mohon dukungan ranting dan Hadian sebanyak-banyak ya kak.
__ADS_1