
Diki melotot tak percaya mendengar jawaban Mira yang sangat tidak masuk akal, bagaimana bisa dia salah karna menjadi laki-laki.
"Anda benar-benar aneh, kucing liar!" umpat Diki, kemudian dia langsung duduk di salah satu sofa yang kosong. Perasaan nya benar-benar tidak enak, dia seorang laki-laki duduk bersama dua perempuan yang mana salah satunya terlihat sangat garang.
Nabil menggeleng kepalanya, ini tidak sesuai ekspektasi nya, dia mengira mereka akan akur dan bisa berkenalan, tapi malah jadi seperti ini.
"Ayo diminum dulu air teh dan buat Nak Diki, ini kopinya," tukas bunda sambil meletakkan cangkir minuman di depan mereka.
"Seharusnya Bunda tidak usah repot-repot, seperti biasa saja, kalo Nabil haus, Nabil bisa mengambil nya sendiri di dapur!" celoteh Nabil, memang selalu seperti itu, jika Nabil datang ke rumah Mira, dia tidak lagi di anggap tamu, karna mereka sama-sama sudah menganggap hubungan mereka seperti keluarga, begitu pun sebaliknya.
"Kan kamu sudah lama tidak datang kemari, Nak! Lagian ini untuk nak Diki juga." jawab bunda sembari tersenyum hangat ke arah Diki.
"Terimakasih," tukas Diki, tidak tau harus memanggil apa.
"Panggil Bunda saja, sama seperti Nabil." usul bunda.
Diki hanya tersenyum kecut, tanpa sengaja dia melihat ke arah Mira yang ternyata sedang memasang tatapan garang.
"Sungguh berbeda antara anak dan juga ibu." batin Diki, sedikit tidak percaya, karna baru kali ini ada wanita yang bersikap seperti itu pada dirinya, selama ini semua wanita seolah memohon pada dirinya untuk di jadikan pasangan, atau hanya untuk melayani dirinya walaupun satu malam.
Bunda ikut bergabung dengan mereka, tidak ingin mati gaya karna hanya dia seorang laki-laki di ruangan tersebut, Diki mengeluarkan handphone canggih nya yang terlihat tembus pandang, tapi nyatanya orang lain tidak bisa melihat apa yang Faris lakukan dengan kaca petak itu.
Nabil, Mira dan bunda sibuk berbincang sendiri "Bagaimana kabar kamu, Nak?" tanya bunda sangat lembut.
"Alhamdulillah, Bun! Nabil sehat," jawab Nabil tersenyum ke arah bunda dan juga Mira.
"Hem ... Kamu kan sudah hampir dua bulan menikah, e apa kamu," tanya bunda masih ragu-ragu, karna takut menyinggung sahabat putrinya yang juga sudah di anggap seperti anak nya sendiri.
Nabil mengerti dengan pertanyaan bunda, dengan malu-malu diapun mengangguk "Sudah, Bunda! Baru beberapa minggu." jawab Nabil sedikit menunduk.
"Apa!" pekik Mira dengan keras, hingga mengejutkan mereka semua.
"Kamu sudah hamil? Kenapa baru bilang sekarang?" tanya Mira dengan nada tidak bersahabat.
Bunda reflek langsung memukul putri kesayangannya itu "Hus, kenapa kamu berteriak, tidak baik membuat ibu hamil terkejut, lagian apa kamu tidak malu, di sini ada seorang lelaki yang bukan mahram kamu." tukas Bunda memperingati Mira.
"Maaf Bunda," pinta Mira, kemudian dia beralih menatap Diki yang masih fokus dengan benda pipih di tangan nya.
__ADS_1
"Lagian dia kenapa harus di sini sih," lanjut Mira mengumpat Diki.
"Mira...! Kamu tidak boleh seperti itu." Peringat bunda lagi, dan kali ini benar-benar membuat Mira bungkam.
"Dengar, aku baru mengetahui jika aku sedang mengandung, saat aku ingin memberitahu padamu, tapi kamu tidak datang ke kampus," celetuk Nabil mencair kan suasana yang hampir tegang.
"Dan ... Masalah Kak Diki, aku yang mengajak nya, dia memang sudah menolak, tapi karna aku memaksa akhirnya dia mau ikut masuk, ngomong-ngomong kak Diki baik kok orang nya." sambung Nabil lagi.
Mira terdiam sambil sesekali melihat ke arah Diki yang sama sekali tidak menatap pada nya.
"Apa aku berlebihan ya, tapi ya sudah lah, mungkin Nabil saja yang terlalu berlebihan" batin Mira menjerit, tidak ingin mengakui kesalahan dirinya.
...****************...
Tak terasa mereka sudah berbincang lumayan lama, Nabil segera pamit mengingat suami yang sedang menunggu dirinya di kantor.
"Ra, Bunda! Nabil pamit ya. Ini makanan yang sengaja aku masak untuk kamu, Ra! Di makan ya, maaf tidak bisa temenin kamu, karna Mas Faris pasti sudah menunggu di sana!" ujar Nabil memberikan rantang yang dia bawa tadi.
"Tidak apa-apa, Bil! Hem ... makasih ya, udah mau masak buat aku," jawab Mira. Tangan nya pun terulur mengelus perut Nabil yang masih rata.
"Calon dede bayi, sehat-sehat ya di dalam sana. Dan kamu ingat, Bil! jangan lupa membaca selalu surah Yusuf dan surah maryam, supaya setelah lahir, anak mu tampan atau pun cantik." tukas Mira memperingati sahabat nya itu.
Mungkin kalian sebagian sudah mengetahui nya, jika ingin anak kita tampan maka di saat hamil sering lah membaca surah Yusuf, atau jika ingin anak menjadi cantik, bacalah surah maryam, dan untuk para suami sering-sering lah membaca Al-Qur'an di depan perut sang istri yang sedang mengandung, agar setelah dia lahir dia tumbuh menjadi anak yang pandai dan juga Sholih shalihah, semoga bermanfaat ya.
Setelah berpamitan pada Mira dan bunda, Nabil dan Diki kembali masuk ke dalam mobil, mereka melanjutkan perjalanan ke kantor Bagaskara.
Dalam perjalanan, Diki terlihat memikirkan sesuatu, Nabil terus memperhatikan nya, semenjak keluar dari dalam rumah Mira, sikap asisten suaminya itu menjadi semakin dingin dan juga pendiam.
"Kak...!" panggil Nabil membuat Diki sedikit tersentak.
"Iya, Nona," jawab Diki dengan cepat.
"Apa yang Kakak pikirkan? Apa kaka tersinggung dengan ucapan Mira tadi?" tanya Nabil, jujur dia merasa tidak enak karna inisiatif dirinya mengajak Diki ke rumah Mira, mereka jadi bertengkar.
"Tidak, Nona! Saya tidak memikirkan itu, untuk apa memikirkan anak kecil seperti dia," sahut Diki, sungguh emosi nya kembali memuncak jika mengingat sikap kekanakan Mira tadi.
"Oh ... Jadi, apa juga yang sedang Kaka pikirkan?" tanya Nabil lagi.
__ADS_1
"Hanya masalah pekerjaan." jawab Diki singkat, dan Nabil hanya ber oh ria menanggapi jawaban Diki.
Mobil Lamborghini keluaran terbaru sudah berhenti tepat di parkiran khusus Presdir kantor pencakar langit yang berlogo Adinata Bagaskara.
Nabil keluar, dengan menjinjing rantang di tangan nya, wanita berpakaian tertutup ini melangkah masuk ke dalam.
Semua mata kembali beralih pada dirinya, akan tetapi saat ini bukan lagi tatapan benci atau mengejek, mereka semua patuh dan hormat saat istri Faris ini melewati mereka satu persatu.
"Pagi, Nona!" ucap mereka begitu ramah, dan di balas oleh Nabil dengan senyuman hangat dari balik cadarnya.
"Semangat berkerja ya," ucap Nabil sembari terus melangkah.
Senyuman merekah di bibir mereka, Nabil memang bukan orang yang sombong, bahkan dia begitu ramah dengan karyawan suaminya meski sempat terjadi insiden yang tidak mengenakkan saat pertama dia datang ke kantor yang menjulang tinggi tersebut.
Namun, tetap saja ada yang tidak suka dan menatap Nabil dengan tatapan membunuh dari sudut ruangan, amarahnya selalu memuncak jika melihat Nabil, kalian pasti tau sendiri siapa dia.
Ceklek...
Pintu ruangan Faris di buka tanpa mengetuk terlebih dahulu, Nabil masuk dan melihat sang suami sedang berbicara dengan seseorang.
"Sayang, kamu sudah datang"
.
.
.
.
.
.
~Bersambung.
Jangan lupa Like komen dan juga Vote ya kakak ku sayang.
__ADS_1
Dan mohon bintang dan juga hadiahnya ya😁.