Istri Taruhan Kunci Surgaku

Istri Taruhan Kunci Surgaku
Semakin memburuk.


__ADS_3

Mata Faris seketika terbuka, saat dirinya terlalu lelah untuk mengejar sang istri yang berlari semakin menjauh. Debaran jantung tidak karuan, nafas naik turun, dada seakan kembang kempis saat dia sadar jika barusan yang terjadi adalah mimpi.


Faris melihat keadaan nya yang masih berbaring di atas tempat tidur, tadi saat dia sedang mendengar suara Nabil yang di putarkan oleh Jane, Faris langsung tertidur.


Lelaki dua puluh delapan tahun ini melirik tubuh nya yang masih terbalut dengan pakaian yang dia pakai saat masih di rumah sakit. Hatinya kembali sakit, biasanya Nabil akan membangun kan dirinya untuk solat atau pun melepaskan pakaian dan mengganti nya.


Tanpa terasa butiran bening mengalir dari sudut matanya, Faris benar-benar rapuh jika Nabil tidak ada di sisinya.


Faris menyeka air mata yang keluar tanpa permisi, Abi dari bayi kembar ini hendak bangun dan masuk ke dalam kamar mandi, saat melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul dua pagi, dia ingin qadha solat magrib dan isya yang sudah lewat karna dirinya ketiduran.


...****************...


Sementara di rumah sakit, Ummi yang sedang tertidur di samping brankar sang putri perlahan membuka matanya, dia merasakan jika tangan yang di genggam oleh Nabil sedikit bergerak.


Mata Ummi langsung berbinar, meski Nabil belum membuka matanya "Nak, kamu sudah sadar? Alhamdulillah ya Allah!" ucap Ummi merasa sangat bahagia, hingga suaranya membangunkan Abi Zainal yang tidur di sofa.


"Ada apa, Ummi?" tanya Abi sambil mengucek matanya agar melihat lebih jelas lagi.


"Anak kita, Bi! Tadi Ummi lihat tangan nya bergerak!" jelas Ummi dengan sangat bahagia.


"Kamu tidak bercanda kan?" abi yang belum merasa percaya langsung memakai sandal nya dan mendekati tempat tidur anak semata wayangnya.


"Nak, ini Ummi dan Abi, apa benar kamu sudah sadar, kamu mendengar kami, Nak? Cepat lah bangun, lihat kedua bayimu yang begitu tampan dan cantik!" gumam Abi sambil mencium kening anak putri nya.


Tangan Nabil yang tadinya bergerak kini terdiam kembali, berganti dengan air mata yang mengalir keluar.


"Bi, Nabil menangis, Bi! Panggil dokter, Bi!" seru ummi dan Abi langsung mengangguk, kemudian berjalan keluar ruangan.


Hanya menunggu beberapa saat, dokter dan Abi Zainal kembali masuk. Dokter yang memang sudah di tugaskan dua puluh empat jam menjaga Nabil langsung memeriksa pasiennya.


"Harusnya ini menjadi kabar baik, akan tetapi kondisi Nona Nabil semakin memburuk, jantung nya semakin melemah, dan saya tidak bisa memastikan jika Nona akan bisa bertahan lebih lama lagi!" jelas dokter setelah memeriksa keadaan Nabil.


"Dokter bilang apa, barusan tangan nya bergerak, dan lihat air matanya keluar, dia menangis!" sergah Ummi tidak terima dengan apa yang di katakan dokter.


Seketika nafas Nabil mulai tak teratur, dadanya naik turun, dokter langsung memeriksa kembali keadaan Nabil yang semakin ngos-ngosan.

__ADS_1


"Nak, ada apa denganmu, Nak!" lirih ummi ingin mendekat, akan tetapi suster yang mendampingi dokter langsung menghalangi nya.


"Ibu bisa tunggu di luar, biarkan dokter yang menangani nya!" ujar salah satu suster yang berdiri di sebelah Ummi.


Abi yang mengerti langsung menarik sang istri untuk keluar "Bi, anak kita, Bi!" ucap Ummi seraya air matanya yang terus keluar.


"Kita berdoa supaya dia baik-baik saja!" tukas Abi sambil memeluk ibu dari anak nya itu.


...****************...


Sedangkan di rumah, Faris baru selesai solat, dia tengah memanjatkan doa kepada sang maha kuasa "Ya Allah ... Penguasa langit dan bumi, engkau maha menghidupkan engaku juga yang mematikan. Hamba mohon ya Allah, berikan kesembuhan kepada istri hamba, izinkan dia kembali berkumpul dan merawat anak-anak kami, ya Allah ... Hanya padamu hamba memohon dan kepada mu hamba berserah diri, Aaminnn!" tak lupa meraup wajah dengan telapak tangan nya.


Faris baru hendak membaca Alquran, akan tetapi ponsel nya sudah bergetar, dia bangun dan mengambil benda pipih yang berada di meja rias.


"Assalamualaikum!" ucap nya saat melihat Ummi Fatimah yang menghubungi nya. Perasaan Faris mulai tidak enak, saat mendengar isak tangis wanita paruh baya yang meminta menjaga sang istri.


"Waalaikumsalam, Nak ... Hiks ... Hiks..!"


"Ummi kenapa?" tanya Faris dengan jantung mulai tak karuan.


"Nabil, Nak!"


"Cepat kamu datang ke sini!" seru ummi dengan suara lirih, menyirat kesedihan yang mendalam.


Tanpa berpikir panjang, Faris langsung bergegas keluar, dia tidak sempat bahkan untuk membangunkan kakek Adinata. Yang dia pikirkan saat ini adalah, dia ingin segera sampai ke rumah sakit.


"Ya Allah ... Semoga ini kabar baik!" batin Faris, meski dia ragu akan tetapi itu yang di harapkan nya.


Karna jalanan yang sudah sepi, Faris sampai ke rumah sakit dalam waktu lima belas menit.


"Apa yang terjadi, Mi?" tanya Faris yang kini sudah berdiri di depan ruangan sang istri.


"Ta--tadi tangan nya mulai bergerak dan a--air matanya keluar," ummi menggantung ucapannya menarik nafas untuk memberikan ruang di dadanya yang terasa sesak.


"Setelah itu apa yang terjadi, Mi?" tanya Faris tidak sabar.

__ADS_1


"Setelah itu dia susah bernafas dan detak jantung nya semakin melemah, dan sekarang sedang di tangani oleh dokter!" bukan Ummi yang menjawab, melainkan Abi Zainal.


Bak tersambar petir, hati yang takut merasa semakin pilu. Kini hanya dia hanya bersabar dan segala doa dia panjatkan di dalam hati, masih berharap jika Nabil akan selamat.


Semua sudah di hubungi oleh Abi Zainal, termasuk Diki dan Mira. Kini suasana menegangkan terjadi di depan ruangan Nabil di rawat. Mereka begitu tegang menunggu dokter keluar.


Ceklek...


Pintu ruangan di buka, seorang suster keluar dan bertanya "Tuan Faris, bisa masuk ke dalam, karna sedari tadi pasien selalu memanggil nama anda!"


Faris tersentak, begitupun dengan yang lain nya, tanpa menunggu lama, Faris langsung masuk. Langkah nya begitu gontai melihat dokter yang sibuk memeriksa dan berusaha memberikan detak jantung Nabil agar kembali normal.


"Fa--ris...!" hanya itu yang terdengar, Faris langsung mendekati Nabil, di genggam nya tangan sang istri dan tak lupa mencium nya.


"Aku di sini sayang, berjuang lah!" bisik Faris, setelah itu dia mengaji di telinga sang istri walaupun dengan air mata yang terus keluar tiada henti, membuat Nabil yang sedari tadi ngos-ngosan seketika terdiam.


Suara panjang monitor dengan seakan memecah gendang pendengaran dengan garis lurus yang sudah di tunjukkan pada layar persegi tersebut.


Seketika nafas Faris juga ikut berhenti, dokter yang melihatnya langsung menekan dada Nabil dengan alat pemicu jantung agar mendapatkan kembali detak jantung Nabil.


"Sayang, jangan tinggalkan aku, aku mohon! Kamu belum melihat anak-anak kita!" bisik Faris lirih di telinga sang istri.


.


.


.


.


.


.


~Bersambung.

__ADS_1


...Plis Bil jangan bercanda, kalau kamu mati, habis aku di demo sama Reader, kaburrr.....!...


...Jangan lupa Like komen dan juga Vote kakak ku sayang....


__ADS_2