
Hai-hai ... apa kabar Reader ku semua, masih ada yang menetap dan menanti kelanjutan nya, atau udah pada bosan menunggu.
Maaf ya, author baru sempat up lagi, beberapa hari ini nggak sempat karna liburan sebentar, author juga ingin merefresh pikiran agar kembali jernih lagi.
Apalagi beberapa bab di cerita Nabil selalu dapat komentar yang tidak mengenakan waktu di baca, itu sudah cukup membuat author down😢😢 .
Jadi, bagi kalian yang tidak suka dengan alir cerita ini, mohon jangan komentar yang bisa membuat author nya Hiatus, dan tolong, jika komentar gunakan bahasa yang lebih sopan, hargailah usaha seorang penulis 🙏🙏😊.
Sudah beberapa hari Nabil tinggal di kediaman Bagaskara, dan setiap hari nya Nabil mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari Faris, kadang dia harus mengikuti drama yang Faris mainkan di depan sang kakek yang pura-pura romantis. Apalagi dalam satu Minggu ini Faris harus berada di rumah, karena kakek Adinata tidak mengizinkan dia untuk ke kantor.
Tapi kebiasaan Faris tetap masih sama, dia tetap tidak ingin makan bersama sang kakek di bawah, Faris tetap pada pendiriannya, yaitu makan sendiri di dalam kamar super luas nya.
Tapi itu sudah bukan lagi masalah bagi kakek Adinata, dia sekarang malah senang, karna dia kira Faris makan bersama dengan Nabil di dalam dengan begitu romantis, tanpa dia tau jika kenyataan nya sungguh berbeda dari yang dia kira.
Nabil tidak pernah makan bersama Faris, dia berdiri di sebelah sang suami bagaikan pelayan. Nabil selalu memakan sisa dari suami kehamilannya itu.
Faris tidak lebih memperlakukan Nabil bak seorang pelayan, bahkan tidak segan-segan Faris memarahi Nabil jika sedikit saja dia membuat kesalahan, meskipun tidak dia sengjai.
Selesai sarapan, Faris mengajak Nabil untuk turun kebawah, itu memang selalu dia lakukan, agar kakek nya percaya, jika mereka memang baik-baik saja.
Begitu keluar dari dalam lift, Faris langsung menggenggam tangan Nabil, seolah dia tidak ingin jika sang istri lari dari nya, meskipun memang itu yang dia inginkan.
"Pagi kek!" ucap Faris menyapa kakek Adinata yang baru saja selesai sarapan.
"Pagi, Ris! Kalian sudah sarapan?" tanya kakek melihat pada cucu menantu nya.
Nabil hanya tersenyum simpul di balik cadarnya, karna sudah ada Faris yang mewakili dirinya untuk menjawab.
"Sudah, Kek!" ucap Faris.
"Bagus lah!" tukas kakek, sebelum akhirnya melanjutkan ucapannya "Ris, Nabil, Kakek mau mengatakan sesuatu pada kalian berdua!" lanjut kakek Adinata lagi.
Faris dan Nabil saling tatap, dalam penasaran Faris menjawab "Apa itu, Kek?" tanya Faris.
"Hari ini Kakek akan ke luar negri, Kakek akan tinggal di rumah yang penuh kenang-kenangan Kakek bersama Nenek mu!" tukas kakek tiba-tiba, langsung membuat keduanya kaget.
__ADS_1
"Kenapa Kakek baru memberitahu sekarang?" tanya Faris.
"Karna Kakek baru semalam kepikiran, jadi tidak ada salahnya jika Kakek menjenguk makam Nenek mu, Ris!" imbuh Kakek lagi memberi alasan.
Padahal kakek Adinata cuma ingin jika Faris dan Nabil hanya tinggal berdua. Karna dia sudah menyuruh keduanya untuk honeymoon, tapi Faris menolak, saat sang kakek memaksa, malah Nabil ikut menolak. Itu sudah jelas karena perintah dari Faris.
"Berapa lama kakek di sana?" tanya Nabil, yang kini ikut bersuara.
Tentu saja Nabil merasa sedih jika lelaki paruh baya yang sudah di anggap seperti kakek nya sendiri harus pergi meninggalkan mereka.
"Belum tentu, Cu! Mungkin kakek akan tinggal beberapa bulan di sana!" jawab kakek Adinata.
"Hem ... Hati-hati, Kek, semoga selamat sampai tujuan!" imbuh Nabil lagi dengan suara sedih.
Kakek tersenyum, dia tau jika Nabil sedang bersedih, karna beberapa hari Nabil sudah berada di sana, mereka semakin akrab, bahkan Nabil kerap kali sering bercerita dengan nya tentang pengalaman dirinya selama di pesantren.
"Ris, kamu bantu Asep mengambil barang Kakek di dalam kamar, ya!" perintah kakek kepada cucunya, hal itu langsung membuat Faris melotot.
"Faris, Kek?" tanya nya memastikan.
"Tap...!" belum sempat Faris protes. Namun, suara tongkat kakek sudah bergeming telinga nya, hingga tidak ada pilihan lain selain menurut, dengan berat langkah pemuda 28 tahun ini mengayunkan kakinya meninggalkan kakek bersama sang istri yang tidak di anggap oleh nya.
"Kamu tenang saja, Nak! Kakek tidak akan lama di sana. Lagian, ada Faris yang menjagamu di sini, Nak! Kalau dia macam-macam beritahu saja sama Kakek!" ujar Kakek menyemangati Nabil setelah Faris pergi dari hadapan keduanya.
Sebenarnya dia hanya mencari alasan menyuruh sang cucu mengambil barang nya di dalam kamar, karna lelaki paruh baya ini ingin berbicara hanya berdua dengan Nabil saja.
"Dengar, Nak! Dia memang orang yang dingin dan cuek, tapi dia sangat baik kepada orang yang dia cintai, jadi kamu harus berusaha dan bersabar menghadapi dirinya!" imbuh kakek lagi, dia menarik Nafas lalu kembali berucap.
"Kakek harap, kamu bisa mengubah sikap nya, meluluhkan hatinya, dan menuntun dia agar kembali ke jalan yang benar!" lanjut kakek lagi.
Degggg....
Hati Nabil langsung tercubit mendengar ucapan kakek Adinata, pikiran nya langsung tak karuan, apa maksud dari perkataan lelaki paruh baya di hadapannya, apa dia tau jika Faris berlaku buruk terhadap dirinya, tapi kenapa kakek bilang menuntun Faris kembali ke jalan yang benar, bukankah suaminya itu memang lelaki yang baik, rajin beribadah dan taat kepada tuhan nya, meskipun selama bersama Faris dia belum pernah melihat sang suami menunaikan kewajiban nya.
Lamunan Nabil buyar ketika sang lelaki tua di hadapannya melanjutkan ucapannya lagi.
__ADS_1
"Suatu saat kamu akan tau. Tapi, bagaimana pun keadaan nya, kakek mohon jangan tinggalkan dia!" pinta sang kakek kepada Nabil.
"Kakek ini bicara apa, mana mungkin Nabil meninggal suami Nabil, sekarang ridho Allah kepada Nabil kan tergantung Ridho nya!" jawab Nabil dengan lembut menyangkal ucapan kakek.
"Terimakasih, Nak! Kamu memang wanita yang sangat baik!" Imbuh kakek lagi.
Ucapan keduanya putus, saat Faris kembali dengan Asep yang membawa barang-barang yang memang tidak banyak.
Kini mereka sudah berada di depan pintu utama, Faris memeluk sang kakek, bergantian dengan Nabil.
Sebelum pergi, kakek dari Faris ini kembali memperingati cucunya itu.
"Ris, kakek titip Nabil! Kakek harap kamu bisa menjaga nya dengan baik, menjaga hati, juga raganya, jangan sakiti dia. Jangan pernah kamu sia-sia kan wanita semulia dirinya, karna jika dia sudah tidak ada, maka kamu akan menyesal!" celetuk kakek memperingati Faris.
Namun, yang di peringati hanya tercengir seolah tidak berdosa "Ah ... kakek, mana mungkin Faris menyakiti nya, kan Kakek tau sendiri, jika Faris sangat mencintai dia!" jawab Faris sambil merangkul bahu Nabil.
Sedangkan Nabil sendiri yang mendengar, hatinya bagaikan teriris dengan pisau, karna ucapan Faris di hadapan kakek dengan perlakuan nya langsung kepada Nabil sangat berbanding terbalik.
"Andai semua yang Mas katakan itu benar ... Sungguh, aku menjadi sangat bahagia!" batin Nabil, matanya menatap wajah tampan sang suami yang sedang bersandiwara di hadapan kakek nya sendiri.
Kakek sendiri hanya tertawa kecil mendengar penuturan cucu kesayangan itu "Kakek percaya sama kamu, Ris! Kalau begitu, kakek berangkat dulu!" pamit nya, setelah itu diapun masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah di buka oleh supir nya, Asep.
"Hati-hati, Kek! Kalau sampai di sana, kabari Faris!" ucap Faris sedikit berteriak.
Kakek yang sudah berlalu hanya mengeluarkan jari jempolnya melalui jendela mobil, mengiyakan perkataan Faris.
"Kakek sudah tidak ada di rumah, jadi berhenti bersikap layaknya seorang istri!"
.
.
.
.
__ADS_1
~Bersambung.