
Sudah beberapa hari berlalu, Nabil masih tidak keluar dari rumah, bagaimanapun kabar tentang dirinya dan suami sudah tersebar luas, tentu saja meski beritanya sudah di hapus, akan tetapi warga +62 sudah mendengar isu tentang mereka.
Sekarang ini Nabil tengah duduk di ruangan tamu menunggu sang suami pulang, saat ini Nabil kembali merasa sendiri saat Faris berangkat bekerja, karna Mira sudah kembali ke rumahnya sejak kepulangan Faris dari luar kota.
Nabil terus saja melihat ke luar rumah, matanya tak jenuh menatap pintu yang terbuka lebar, berharap akan segera melihat sang suami, yang lebih sering pulang telat akhir-akhir ini.
Matanya melihat pada jam dinding yang terus menunjukkan angka yang berbeda, pukul 17:20 Nabil mengalihkan pandangannya pada pintu masuk bersamaan dengan dirinya juga ikut berdiri.
Nabil tersenyum lebar di balik kain penutup wajahnya, merentangkan kedua tangannya seraya berlari pada sosok lelaki yang sedari tadi dia tunggu.
Dengan senang hati Faris langsung memeluk tubuh sang istri, Nabil bertingkah layaknya anak kecil yang menunggu ayah pulang, membuat Faris merasa gemas, terlebih saat Nabil merengek dalam dekapan nya.
"Kenapa Mas pulang telat akhir-akhir ini?" tanya Nabil dengan wajah cemberut.
Cup...
Sebelum menjawab, Faris terlebih dahulu mencium kening sang istri lalu menarik cadar yang di gunakan Nabil, karna hanya menutup sampai hidung, membuat Faris lebih mudah menarik kain tersebut.
"Sudah ku katakan jangan gunakan penutup wajah jika bersama ku, sayang!" ujar Faris tanpa memperdulikan pertanyaan sang istri.
"Untuk jaga-jaga takut nya nanti ada lelaki lain yang melihatnya," imbuh Nabil yang bergelayut manja di dada bidang Faris.
"Maka aku akan mengeluarkan mata orang tersebut dari tempat nya!" timpal Faris dengan nada dingin.
Nabil sampai bergidik mendengar penuturan sang suami yang tampak begitu serius. Tangan nya langsung mengelus rahang ayah dari anaknya, agar suaminya itu tidak terlalu tegang.
"Apa kamu tidak ingin menyapa anak mu, Mas? Sedari tadi dia seperti nya merindukan mu!" tukas Nabil mengalihkan pembicaraan.
"Apa kabar anak Abi? Kamu buat apa Ummi mu ini, semakin hari dia semakin manja pada Abi?" tanya Faria seraya mengelus lembut perut Nabil yang mulai membuncit.
Sontak Nabil langsung mengerucut bibirnya "Jadi Mas tidak suka dengan sikap ku sekarang ini?" tanya Nabil langsung menunduk.
__ADS_1
Faris terkekeh, meraih dagu sang istri mengangkat wajah cantik itu hingga menatap pada nya.
"Hei ... Ada apa denganmu, sayang? Bahkan aku sangat menyukai sikap mu sekarang ini,"
"Apa lagi sifat agresif mu di atas ranjang, sayang!" lanjut Faris sengaja berbisik dengan nada sensual di telinga sang istri.
Membuat Nabil reflek mencubit perut padat sang suami.
"Dasar mesum,"
"Tapi kamu suka kan?" tanya Faris lagi menggoda Nabil.
"Ayo masuk, apa Mas tidak ingin membersihkan tubuh Mas, apa tidak gerah? Bahkan ini hampir magrib!" Nabil mengambil alis tas kerja sang suami, menggandeng tangan Faris, langsung menuju masuk ke dalam lift.
...****************...
Sementara di tempat lain, Mira baru saja turun dari dalam mobil, di susul oleh seorang pria yang selalu bertengkar dengan nya.
"Maaf, Tuan! Saya sudah sampai di rumah dan tidak akan ada apa-apa dengan saya," tukas Mira dengan percaya diri.
Terkadang Mira bingung dengan situasi dirinya dan juga Diki, karna dia adalah lelaki yang sangat ingin dia hindari setelah insiden memalukan beberapa waktu lalu, dan mereka selalu bertengkar tiap kali bertemu, akan tetapi mereka selalu terjebak dalam sesuatu hal yang melibatkan keduanya.
Seperti sudah dua hari ini dia terus saja berdua dengan Diki karna sesuatu acara yang di serahkan pada mereka berdua, sebenarnya Mira sangat tidak nyaman karna interaksi yang sangat sedikit, karna Diki orang yang sangat pelit bicara, jika berbicara pun mereka hanya saling adu mulut, dan Diki selalu mengulang kata-kata yang Mira ucapkan saat pertama kali mereka bertemu.
Mira sebenarnya selalu ingin meminta maaf, tapi karna Diki yang selalu menjawab dengan nada ketus dan sinis.
"Saya hanya ingin meminta maaf pada ayah mu, kucing liar! Bukan karna mengkhawatirkan mu, hanya saja saya tidak enak karna mengantar mu pulang hampir magrib." jawab Diki telak, membuat Mira bungkam juga malu.
"Oh, terserah." Mira menjawab dengan singkat, langsung melangkah masuk dalam rumah, akan tetapi langkah kaki nya tertahan karna mendapatkan sang ayah yang berdiri di hadapannya.
"Baru pulang?" tanya ayah Mira menatap intens Mira dan Diki bergantian.
__ADS_1
"Ah iya, Om! Saya juga mau minta maaf karna sudah mengantar Nona Mira hampir malam, tadi ada hal yang harus di selesaikan juga hari ini," tukas orang tua lelaki Mira.
"Iya, tidak apa-apa! Apa semuanya sudah siap?" tanya ayah dari Mira lagi.
"Sudah, Om! Acaranya akan di adakan lusa, bukan kah Om juga sudah mendapatkan undangan nya?" tanya Diki balik.
Orang tua dari Nabil ini tersenyum dan mengangguk, Mira terlihat bingung memperhatikan interaksi dua orang di hadapannya, bagaimana bisa ayah nya begitu mempercayai lelaki yang baru mereka kenali.
"Kalau begitu saya permisi dulu, Om!" pamit Diki sedikit membungkukkan badannya.
"Iya, Nak! Hati-hati." Diki memutar tubuhnya setelah berpamitan tanpa melihat sekilas pun pada Mira.
"Sudah, dia sudah pulang! Mau sampai kapan menatap pintu yang terbuka kosong? Ingat, dia bukan mahram mu." celetuk sang ayah, membuat Mira tersadar jika dirinya terus menatap Diki sampai dia berlalu dengan mobil nya.
Seketika Mira langsung menunduk wajahnya merasa sangat malu.
"Ah ... Ayah, Mira pamit ke kamar dulu ya!" ucap Mira salting, langsung berlalu dari hadapan cinta pertama nya ini.
.
.
.
.
~Bersambung.
Wah wah, Diki dan Mira ada perubahan ya, dan seperti nya ayah nya juga memberikan restu, tapi bagaimana perasaan keduanya ya?
Jangan lupa Like komen dan juga Vote ya kakak ku sayang.
__ADS_1
Dukung juga dengan bintang dan juga hadiah sebanyak-banyak nya.