Istri Taruhan Kunci Surgaku

Istri Taruhan Kunci Surgaku
Kebenaran 2.


__ADS_3

Mendengar ucapan dari bi Mila, Faris langsung berlari dengan begitu cepat, masuk ke dalam lift, tanpa sabar penerus tunggal Bagaskara ini memencet tombol lantai tiga. Rasa lelah yang sedari tadi dia pikul kini telah hilang, terganti dengan kekhawatiran kepada sang istri, takut jika Nabil sakit atau apapun yang membuat istri nya sampai tidak keluar kamar walaupun hanya untuk makan.


Ceklek...


Pintu kamar terbuka, Faris menarik nafas lega ketika mendapati sang istri sedang mengaji, dan itupun bisa membuat nya merasa tenang, sejuk dan tentram.


"Shadaqallahul Adhim!" menyadari sang suami sudah pulang, Nabil menutup Al-Qur'an, mencium lalu meletakkan nya, dia juga membuka mukena nya, merapikan juga menyimpan nya.


Saat melihat pada Faris yang tersenyum kepada nya, hatinya kembali sakit, ingin rasanya dia menanyakan sekarang juga, tapi mengingat jika Faris baru saja pulang kerja, membuat Nabil mengurungkan niatnya.


"Mas, sudah pulang?" tanya Nabil mendekati Faris, lalu mencium tangan suaminya itu.


Masih seperti biasa, Faris tidak merasa curiga, hanya saja dia melihat jika wajah sang istri terlihat lebih murung, dan matanya terlihat sembab.


"Katakan padaku, apa kamu sedang sakit? Hingga kamu tidak mau makan, bahkan kamu tidak ingin keluar dari dalam kamar sejak pulang ke dari kampus?" tanya Faris dengan begitu lembut.


"Aku hanya capek, Mas! Dan tidak merasa lapar!" jawab Nabil seadanya, sambil tangannya bergerak lincah membuka jas, dasi sampai sepatu yang dia pakai oleh suaminya.


Sedikit aneh juga, biasanya istri nya itu sudah mulai berani menatap dirinya saat berbicara, akan tetapi saat ini dia kembali seperti orang yang enggan melihat wajahnya.


Faris mencondongkan badannya, lalu di raihnya kedua lengan sang istri, dan membimbing nya untuk bangun.


Dengan penuh cinta Faris memegang dagu sang istri, menyuruh Nabil menatap dirinya "Lihat aku, sayang! Kenapa kamu terlihat tidak semangat hari ini? apa kamu menangis? Katakan padaku, apa aku melakukan kesalahan" tanya Faris yang langsung mencium bibir ranum sang istri.


Nabil kembali merasa sakit, ingin rasanya dia menangis mengeluarkan semua unek-unek yang sudah sangat membuat dirinya sakit.


"Lebih baik Mas mandi dulu, aku akan menyiapkan air nya! Mas pasti sangat capek!" ujar Nabil, dan akhirnya Faris mengangguk meski semakin merasa aneh dengan sikap Nabil.


Hanya dalam waktu dua puluh menit, Faris sudah selesai membersihkan dirinya, keluar dengan handuk yang melilit di pinggang nya, dia melihat Nabil baru saja meletakkan pakaian untuk dirinya.


Bukan nya menggunakan pakaian, Faris malah mendekap tubuh sang istri dengan keadaan telanjang dada, Nabil masih mencoba sebisa mungkin agar dia tidak menangis, sungguh sakit di saat dirinya masih bersikap baik kepada orang yang sudah menyakiti hati nya.


"Mas, pakailah bajumu dulu, sebentar lagi mau magrib, aku ingin berwudhu!" ujar Nabil sambil melepaskan dirinya dari pelukan sang suami.


Mendengar masalah solat, Faris melepaskan pelukannya, sekarang ini ... meski dia belum mau mengerjakan kewajiban nya, akan tetapi dia sudah tidak lagi melarang Nabil untuk mengerjakan nya.


Saat adzan Maghrib berkumandang, Faris duduk di atas sofa menyibukkan dirinya dengan data yang dikirimkan Diki dan staf lain kepada nya. Akan tetapi dia melirik dengan ekor mata nya setiap pergerakan sang istri.


Lagi, Faris merasa ada yang mengganjal biasanya wanita nya itu selalu mengajak dirinya solat, meskipun selalu dia tolak, tapi sore ini setelah berwudhu, Nabil langsung melaksanakan solat tanpa mengatakan apapun pada dirinya.

__ADS_1


"Apa aku punya salah, mengapa sikapnya sedikit berbeda!" batin Faris melihat pada Nabil yang begitu khusyuk melaksanakan kewajiban nya.


Sebenarnya hati kecil Faris sudah ingin melaksanakan solat, akan tetapi dia masih terlalu gengsi untuk mengatakan nya kepada sang istri.


Selesai solat, Nabil berdoa meski mulutnya diam, akan tetapi hatinya mengucap doa sama seperti yang dia panjatkan di waktu siang dan juga ashar.


Air matanya kembali keluar, di saat dia menghambakan diri di hadapan sang khaliq, masih memohon petunjuk kepada nya agar di beri jalan yang tepat.


Seakan lupa akan suaminya, selesai berdoa, Nabil kembali mengaji, melantunkan nya dengan begitu merdu, hingga bisa membuat hati sejuk bagi siapa yang mendengar nya, termasuk Faris, suaminya.


"Kamu sungguh istri yang sempurna, sayang, apakah wanita sesempurna dirimu pantas hidup dengan ku yang hina ini?" batin Faris sudah mulai menyadari jika dirinya sudah berjalan terlalu jauh dalam kemaksiatan.


...****************...


Pukul delapan malam, Nabil baru selesai melaksanakan solat isya, setelah membuka mukena nya, dia langsung mendapati sang suami yang berdiri di belakangnya.


Tanpa aba-aba Faris langsung memeluk tubuh nya, sungguh dia merasa sangat rindu terhadap Nabil.


"Tumben lama!" bisik Faris pada telinga sang istri.


"Maafkan aku, Mas! Aku lupa jika Mas belum makan! Tunggu di sini, aku akan mengambil makanan untuk mu!" celetuk Nabil ingin melepaskan tangan Faris yang sudah melingkar si pinggang nya yang ramping.


"Siapa yang menyiapkan ini semua, Mas?" tanya Nabil penasaran.


"Ya tentu saja aku, pelayan mengatakan jika kamu belum makan sejak siang tadi, apa kamu sedang tidak enak badan? Hingga kehilangan selera makan?" tanya Faris lagi kepada sang istri.


Nabil menggeleng dan berusaha tersenyum "Aku hanya tidak berselera!" jawab Nabil seadanya.


"Ya sudah, kita makan sekarang ya!" ajak Faris, dan Nabil hanya mengangguk kecil.


Tidak terlalu banyak pembicaraan, itu karna Nabil lebih banyak diam, Faris semakin menduga dengan apa yang terjadi kepada sang istri, dia harus mencari tahu, terlebih dia belum mendapatkan informasi dari anak buahnya yang selalu mengawasi sang istri di saat tidak berada di sisinya.


Makan malam hening pun telah lewat, kini Faris menuntun Nabil duduk di atas sofa panjang, seperti biasa, dia berbaring di atas paha Nabil, dan istrinya juga masih mengelus kepalanya dengan lembut.


Nabil memang masih melayani Faris seperti biasa, karna walau bagaimanapun, Faris tetap suaminya, dan masih kewajiban untuk selalu membahagiakan nya, tapi rasa sesak di hatinya sudah tidak bisa dia bendung lagi, semakin lama semakin sakit, dia harus tau kebenaran nya langsung dari suaminya.


Meski merasa ragu, Nabil mulai membuka suara "Mas!" panggil Nabil sambil menggigit bibir bawahnya.


Faris yang sedang menutup mata kembali membuka dua netra yang berwarna biru itu.

__ADS_1


"Ada apa, sayang?" tanya Faris lembut, tangan nya terangkat mengelus pipi Nabil.


"Bolehkah aku bertanya sesuatu?" tanya Nabil, dia melihat jika suaminya itu hanya mengangguk.


"Apa Mas mencintai ku?" Nabil sudah tidak memikirkan rasa malunya lagi, yang terpenting dia ingin semuanya kelar dan juga jelas.


"Mengapa bertanya seperti itu? Sudah pasti aku mencintaimu!" jawab Faris dengan heran.


"Hem ... Sejak kapan Mas mencintai ku? Apa sejak Mas meminta ku untuk menjadi istri mas, apa setelah kita menikah?" tanya Nabil lagi, tidak menghiraukan meski Faris sudah berwajah datar.


Faris bangkit dari paha sang istri, memegang tangan Nabil, seakan dia mulai merasakan sesuatu memang sedang di alami oleh Nabil.


"Memang apa pentingnya semua itu, yang jelas sekarang aku sudah sangat mencintaimu!" tukas Faris, dia masih ragu untuk mengatakan jika dia memang mencintai Nabil setelah mereka menikah.


"Aku hanya ingin tau, sejak kapan hati Mas mencintai ku!" ulang Nabil lagi, tidak memperdulikan ucapan sang suami.


Faris ragu, tapi dia tetap menjawab "Aku mencintai mu ya sudah sejak dulu, kalau tidak mana mungkin aku mengejar dirimu!" bohong Faris yang semakin melukai hati wanita di hadapannya saat ini.


Nabil tersenyum getir, padahal dia ingin mendengar kejujuran dari Faris, mungkin itu bisa sedikit mengurangi rasa kecewa nya, tapi melihat Faris masih kekeh menyembunyikan nya, semakin membuat hatinya merasa tercubit.


"Benarkah Mas mencintai ku sejak dulu, benarkah Mas mengejar ku karena hati Mas menginginkan ku, atau hanya karna sebuah taruhan konyol yang di buat oleh sahabat Mas?"


Deg......


.


.


.


.


.


.


~Bersambung.


Jangan lupa ya berikan dukungan nya, dengan cara Like, komen dan juga Vote sebanyak-banyak nya, supaya aku semangat lagi.

__ADS_1


Satu komentar dari kalian sangat mempengaruhi semangat atau down nya penulis, jadi jangan bosan ya memberikan komentar kalian, agar aku selalu bisa up teratur 🥰.


__ADS_2