
Nabil langsung melotot tatkala mendengar penuturan lelaki paruh baya yang di sebut nya Abi ini.
"Apa maksud Abi?" tanya Nabil yang tampak tak mengerti.
"Kita pulang, Bil! Ummi menunggu di rumah," jawab abi Zainal sambil menatap mata sang putri.
"Tapi kenapa tiba-tiba? Nabil pun belum pamit sama Mas, Faris," tukas Nabil yang semakin bingung dengan ajakan sang Abi.
"Lebih baik kita masuk dulu, Bi! Jika memang Ummi merindukan Nabil, maka Nabil akan pulang, tapi mungkin besok, karna hari ini Mas Faris sudah berangkat ke kantor!" seru Nabil pada Abi nya itu.
"Kenapa harus menunggu besok, hari ini Abi sudah datang untuk menjemput mu, kamu harus ikut pulang Abi hari ini juga." kekeh abi yang tidak mau mendengar ucapan putrinya.
Nabil mengerutkan keningnya, kenapa abi nya jadi seperti ini, apa dia sudah tau tentang permasalahan yang baru saja dia dan suaminya hadapi, tapi Nabil memilih untuk tidak menanyakan pada sang abi.
"Kenapa Abi tiba-tiba datang mengajak pulang Nabil? Bukan kah Abi tau sendiri jika tanpa izin suami Nabil tidak boleh pergi, bahkan hanya sekedar keluar dari rumah saja tidak boleh!" celetuk Nabil menatap intens pada lelaki paruh baya yang terlihat bingung, mungkin dia tengah memikirkan jawaban.
"Tidak usah banyak tanya, Bil! Ayo kita pulang!" tanpa memberikan alasan nya pada Nabil, abi langsung menarik paksa tangan putri semata wayangnya itu.
"Tunggu, Bi! Nabil minta izin dulu sama Mas Faris!" pinta Nabil, akan tetapi abi Zainal langsung menarik nya masuk ke dalam mobil.
"Kamu boleh menghubungi dia dalam mobil," tukas abi, setelah itu dia langsung menghidupkan mobil nya, dan melakukan kendaraan nya membelah jalan raya.
Dengan perasaan campur aduk, antara sedih dan juga takut, Nabil langsung mengambil ponsel abi Zainal dan menelpon sang suami, akan tetapi sudah berkali-kali dia mencoba menghubungi Faris, lelaki nya itu tidak menjawab.
"Mas Faris tidak menjawab, Kenapa Abi lakukan ini? Apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa tiba-tiba menjemput ku?" tanya Nabil, air matanya sudah tidak bisa dia tahan, pikiran buruk terus saja menggerogoti dirinya.
"Kamu akan tau besok, Nak!" jawab abi ambigu.
"Ini tidak sesuai rencana, tapi sungguh aku tidak sanggup melihat putri ku menangis." lanjut abi membatin.
Sedangkan di kantor, Faris langsung masuk ke dalam ruangan meeting, dia duduk di kursi kebesaran yang memang milik Presdir perusahaan AB.
__ADS_1
"Bisa di lihat sendiri motif gelang simpel dan pintar ini," ujar Faris memperlihatkan sepasang gelang dari perusahaan nya yang baru saja selesai di rancang.
Para pemegang saham memperhatikan gelang yang satu berwarna salem dan yang satu berwarna grey mengkilap.
"Apa kegunaan gelang ini?" tanya seorang yang duduk di sebelah Faris.
Faris mulai menjelaskan kegunaan gelang tersebut "Gelang di rancang sepasang dengan kecanggihan teknologi, gelang ini mampu memberikan data pribadi pasangan yang memakai nya, gelang ini juga mampu mendeteksi pasangan yang memakai nya, jika di pakai oleh sepaasang lelaki dan wanita, maka mereka akan sama-sama mengetahui detak jantung, keadaan atau kehadiran pasangan mereka, misalkan suhu tubuh wanita naik, maka lelaki yang juga menggunakan nya tau, karna keluar dengan sendirinya suhu tubuh pasangan nya sendiri, begitupun dengan detak jantung, jadi akan sangat mudah mengetahui perasaan pasangan kita dengan gelang pintar ini, dan juga gelang canggih ini mampu mendeteksi pasangan yang menggunakan nya, jika berjarak 500M maka gelang di tangan langsung berbunyi dan menunjukkan titik keberadaan pasangan kita!" jelas Faris panjang lebar, mereka yang mendengar nya mengangguk-angguk kagum dengan gelang simpel rancangan Faris ini.
"Baik, kami mengerti dan sangat kagum dengan kecanggihan gelang kecil ini, jadi bagaimana dengan pemasaran nya? Apa anda juga akan melakukan lelang?" tanya seorang lelaki yang juga memiliki saham di perusahaan Faris.
Faris menggeleng "Kali ini kami tidak melelang, karna perusahaan kami mengeluarkan banyak gelang canggih ini, maka dari itu kami akan menjualnya sama seperti ponsel atau barang-barang lainnya,"
"Dan kami juga akan menawarkan pada perusahaan stasiun televisi untuk mempromosikan nya secara khusus." jelas Faris panjang lebar. Dan mereka semua hanya bisa mengangguk paham.
Setelah rapat selesai, Faris dan Diki langsung berjalan keluar dari ruangan meeting, tangan nya langsung meraba ponsel di dalam saku celananya.
Alisnya langsung terangkat dengan kening berkerut "Abi menelpon ku sebanyak ini?" tanya Faris pada diri nya sendiri.
"Abi menelpon ku 15 kali, apa ada masalah?" kini Faris malah bertanya pada sang asisten.
Diki sontak mengangkat bahunya "Coba anda telpon kembali, siapa tau itu memang penting!" usul Diki pada atasannya itu.
"Kamu benar, Diki! Tapi semuanya sudah siap dan tidak ada yang tertinggal kan?" tanya Faris sebelum melangkah masuk dalam ruangan nya.
"Sudah siap, Tuan!" jawab Diki sedikit membungkukkan tubuhnya.
"Hem ... Kamu boleh kembali ke ruangan mu!" tukas Faris, tangan kanan nya langsung mendorong pintu ruangan nya sementara tangan kirinya memegang ponsel yang di letakkan di telinga nya.
Hanya dua kali berdering, panggilan sudah di angkat dari seberang.
"Assalamualaikum, Bi!" ucap Faris tak lupa memberi salam jika berbicara dengan mertuanya.
__ADS_1
Tapi bukan suara abi Zainal yang terdengar, melainkan suara lembut sang istri.
"Waalaikumsalam, Mas!" jawab Nabil sedikit ragu.
"Sayang, apa Abi di rumah? Mengapa menelpon menggunakan ponsel Abi?" tanya Faris pada istrinya.
"A-aku di rumah Abi, Mas! Tadi Abi datang menjemput ku," jawab Nabil dengan begitu ragu.
"Apa, kenapa kamu di sana? Kenapa tidak menelpon Mas dulu?" tanya Faris mengintimidasi.
"Maaf, Mas! Aku tidak sempat memberitahu pada Mas, karna Abi buru-buru mengajak pulang!"
"Apa!"
.
.
.
.
.
.
~Bersambung.
Apa gerangan ya Nabil di bawa pulang oleh Abi Zainal?
Jangan lupa Like komen dan juga Vote ya kakak ku sayang.
__ADS_1
Bantu dukung juga dengan bintang dan juga hadiah sebanyak-banyak nya.