
...Saat harta menjadi raja, maka tanpa sadar kita di perbudak nya untuk melakukan segala hal, meski di luar kata wajar....
...****************...
Diki dan Faris sudah sampai pada tujuan mereka, di sebuah desa yang sedikit jauh dari kota. Di dampingi juga oleh beberapa anak buah Faris dan seorang penduduk desa yang lebih dulu di temui oleh anak buah Faris, mungkin dia yang akan di di jadikan Faris sebagai pengelola perkebunan dan juga pabrik yang akan di dirikan nya nanti, mereka juga membawa serta pengacara yang mengurus surat tanah tersebut.
Di sana, Faris di sambut oleh beberapa orang yang akan siap bekerja sebagai buruh di ladang persawahan dan gandum pada tanah terbentang luas itu.
Tanah sekitar 1000 hektar sangat memuaskan Faris, karna bisa di jadikan ladang untuk gandum dan persawahan untuk padi, juga bisa dia dirikan pabrik pembuat minuman langsung di sana.
"Diki, urus segalanya, perpanjangkan kontrak dengan perusahaan Wijaya, agar dia mau menanamkan sahamnya lagi, juga ajukan kerjasama dengan beberapa perusahaan lainnya. juga carikan buruh dan pekerja sekitar seratus orang dulu, dan peringat kan mereka jangan pernah berkhianat, karna jika itu terjadi, maka nyawa mereka sebagai gantinya nya!" ucap Faris dengan begitu dingin, setiap katanya mengandung ancaman, membuat orang yang mendengar nya gemeteran, bahkan dalam hati mereka sendiri berjanji, tidak akan mengkhianati Faris.
"Baik, Tuan!" jawab Diki dengan sedikit menunduk.
Setelah itu, Faris langsung berjalan meninggalkan tempat tersebut. Mereka sudah kembali berjalan, tujuan mereka saat ini adalah hotel, dimana mereka bisa mengistirahatkan tubuh yang terasa lelah.
Sampai di penginapan, Faris langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur, rasanya sungguh nyaman, karna seharian dia menelusuri tanah yang luas di bawah terik matahari.
Dia melihat jam di dinding menunjukkan pukul lima sore, sejenak dia memejamkan matanya. Tapi beberapa detik kemudian dia kembali membuka matanya, bayangan sang istri langsung melintas di pikiran nya.
Sekilas bayangan kejadian semalam, membuat yang sedang adem tidur, bangun, ntah kenapa hatinya tidak tenang, saat wajah cantik Nabil terus berputar di kepalanya.
__ADS_1
"Sssssstttttttttttt!" Faris meringis, saat burung nya sudah berdiri tegak, membuat nya kembali tersiksa.
"Sial!" umpat nya, tangan nya sibuk meraba saku celana nya, mencari sesuatu. Setelah dia mendapatkan benda pipih yang dia cari, lelaki dua puluh delapan tahun ini langsung menghubungi Nabil.
Sudah beberapa kali dia menghubungi Nabil, tapi tidak ada jawaban dari wanita yang sedang bermain di hati dan pikirannya ini, membuat Faris merasa begitu kesal.
"Kemana wanita itu pergi, kenapa dia tidak menjawab telepon dari ku!" gumam Faris, sambil menggeratkan giginya, tatapan nya terlihat begitu tajam, menandakan jika cucu tunggal Bagaskara ini sedang menahan amarah.
Karna rasa penasaran yang membuncah di hatinya, Faris kembali menelpon Nabil. kali ini berhasil, karna Nabil sudah menjawab telepon dari nya, Faris sudah menyiapkan cercaan untuk Nabil, karna telah berani mengacuhkan panggilan dari dirinya.
Akan tetapi, saat mendengar jawaban sang istri dengan suara lembut di seberang, membuat nya terbungkam, rasanya dia tidak bisa lagi berkata apapun.
"Assalamualaikum, Mas!" ucap Nabil dari seberang. Faris masih diam, niat nya ingin memarahi, seolah dia kehilangan kata-kata apa yang akan dia ucapkan.
"Kemana kamu dari tadi? capek saya menghubungi mu!" tanya Faris seolah dia tengah marah besar, tapi terdengar nada kesal di telinga Nabil.
"Maaf, Mas! tadi saya sedang mandi!" jawab Nabil, memberikan pengertian pada Faris.
"Kamu sudah berani mengacuhkan panggilan dari ku, maka persiapkan dirimu, aku tidak akan mengampuni mu malam ini! tukas Faris memberikan ancaman pada Nabil.
Faris langsung mematikan sambungan nya, dia kira dengan menelpon Nabil, rasa aneh di hatinya bisa hilang, tapi yang terjadi malah sebaliknya, setelah mendengar suara indah wanita bercadar itu, semakin bertambah membuat nya gelisah, dia ingin cepat pulang, agar bisa menemui wanita itu secepatnya.
__ADS_1
Tanpa memikirkan apapun lagi, Faris langsung menghubungi asistennya, yang memang berada di kamar lainnya.
"Diki, kita pulang sekarang!" tanpa mendengar jawaban Diki, Faris langsung mematikan telepon nya.
Sedangkan di seberang, Nabil mulai merasakan ketakutan, dia belum pahan apa maksud suaminya itu, apa dia akan di sakiti, apa dia akan di pukul hanya karna tidak menjawab panggilan dari nya.
.
.
.
.
~Bersambung.
Hai, hai, hai ... Maaf ya telat up, tapi aku up dua, juga dengan durasi panjang loh.
Jadi, mau kan kalian memberikan dukungan untuk ku ini, dengan cara Like, komen, dan juga Vote yang sebanyak-banyak nya, di kasih kopi sama bunga juga tidak bakalan nolakπ€π€π.
Oh ya, rasanya kita tuh jauh ya, gimana biar kita lebih dekat lagi dan saling mengenal, kalian Add Fb nya ku, nanti aku konfir deh, biar kita tuh bisa jadi temen dan juga saudara, meski secara online.
__ADS_1
Ini nih, nama Fb ku, jika kalian berminat mari silahkan, aku akan menerima nya dengan rasa senang π€ππ.