Istri Taruhan Kunci Surgaku

Istri Taruhan Kunci Surgaku
Minggu depan.


__ADS_3

Malam hari, para keluarga sudah berkumpul di meja makan, malam ini mereka makan dengan suasana hati yang menghangat, karna bisa makan dengan keluarga lengkap.


Selesai makan, mereka langsung duduk di ruang keluarga, Nabil yang sudah pasti duduk di sebelah Faris, Abi Ummi juga duduk berdempetan, hanya Diki yang duduk seorang diri di sofa tunggal.


"Mas mau aku buatkan kopi? Abi dan Ummi mau minum apa? Dan Kak Diki apa juga mau aku buatkan kopi?" tanya Nabil yang ingin ke dapur membuat mereka kopi dan cemilan.


"Tidak usah, sayang! Kan ada pelayan. Kenapa kamu harus repot-repot, nanti kalau tangan mu terkena air panas bagaimana? Aku tidka ingin kamu kenapa-kenapa," celetuk Faris mengundang perhatian semua orang du ruang keluarga tersebut.


"Astaghfirullah, Mas! Aku mau bikin kopi loh, bukan mau meledakkan bom, aku bisa hati-hati. Mas jangan khawatir ya," balas Nabil.


Ketiga orang yang menyaksikan nya, tepatnya Diki, dia langsung memutar bola mata malas melihat tingkah pasutri yang sangat berlebihan di hadapannya itu.


Nabil bangun saat sang Abi dan Diki sudah mengiyakan tawaran nya "Nak, Ummi juga ikut, biar suamimu tidak perlu khawatir," Ummi langsung bangun juga ingin membantu sang putri.


"Ayo, Mi!" Kedua wanita bercadar ini berlalu dari hadapan para lelaki.


Sampai di dapur, Ummi langsung mengambil canggih, kopi dan gula, sedangkan Nabil, ummi menyuruh menyiapkan cemilan saja untuk di menemani mereka mengobrol.


"Ummi sangat bahagia, Nak! Faris benar-benar sangat menyayangi dan melindungi kamu. Terlihat jelas di matanya jika dia sangat mencintai mu," ucap Ummi sambil mengaduk kopi yang sudah di seduh air panas.


Nabil tersenyum dan tersipu malu mendengar perkataan sang ummi.


"Hehe ... Ummi bisa saja, tapi Mas Faris memang sangat baik, tidak pernah sekalipun marah atau membentak Nabil selama ini, meski dia tengah di hadapkan dengan masalah yang bertubi-tubi. Bahkan Mas Faris yang kata orang-orang kejam dan tidak tau belas kasih, sangat berbeda perlakuan saat bersama Nabil, dia begitu lembut, hangat dan peduli dengan Nabil," jawab Nabil berceloteh dengan bibir tersenyum.


Ummi juga ikut tersenyum mendengar pujian Nabil kepada menantunya. Dia tau rasa apa yang tengah di rasakan oleh putri semata wayangnya itu.


"Syukur lah, Nak! Kebahagiaan seorang ibu adalah melihat anak-anak nya hidup bahagia, meskipun sudah tidak lagi bersama kita, semoga kalian selalu di berikan kebahagiaan dan selalu bersama-sama hingga mau yang memisahkan," imbuh ummi yang sudah siap dengan nampan yang penuh dengan kopi di atasnya.


Sementara Nabil hanya membawa nampan yang berisi cemilan. Mereka meletakkan apa yang keduanya bawa, setelah itu kembali Nabil dan Ummi duduk di sebelah lelaki mereka masing-masing.


"Kamu tidak apa-apa kan, sayang?" tanya Faris tanpa malu di hadapan sang mertua, Faris langsung memeluk dan mencium punggung tangan Nabil.


"Tidak apa-apa, Mas!" jawab Nabil dengan senyuman kikuk nya.


Abi hanya menggeleng dengan tingkah Faris yang tidak kenal waktu dan tempat jika bermesraan dengan Nabil, akan tetapi dia juga ikut bahagia, karna melihat Faris sangat mencintai putri kesayangannya itu.


"Baiklah ... kita mulai saja, Jad,Diki, kami selaku orang tuamu ingin mengetahui, apa benar kamu mencintai, Mira " tanta Abi Zainal pada asisten menantunya itu.


"Benar, Abi!"

__ADS_1


"Jadi kamu sudah melamar Mira tempo hari kepada orang tuanya?"


"Iya, Bi!"


"Apa mereka menerima mu?"


"Dengan senang hati, Abi!"


Mendengar jawaban Diki, mereka yang ada di sana mengernyitkan dahi.


"Ternyata kamu sedikit mewarisi sifat sombong, Faris!" celetuk Abi kemudian.


Faris yang di sebut namanya langsung batuk saat ingin menyeruput kopi hangat bikinan mertua nya.


"Kok jadi aku?" tanya Faris tidak terima.


"Sudah-sudah, lupakan!"


"Karna sekarang acara Nabil sudah selesai, apa pernikahan mu di adakan Minggu depan saja?" tanya Abi pada Diki dan kepada Nabil, Faris dan Ummi.


"Boleh, Bi!" jawab Diki singkat, akan tetapi sebenarnya perasaan nya sudah sangat bahagia mendengar pernikahan nya di adakan Minggu depan.


"Dan kamu, Diki mulai sekarang perbanyak istirahat, jangan melakukan apapun, semuanya biar aku yang mengurus, gaun pernikahan, tempat dan dekorasi nya, itu jangan kau pikirkan lagi," timpal Faris membenarkan ucapan mertua nya.


"Baik, Ris! Terimakasih banyak," ucap Diki pada atasannya itu.


Nabil tersenyum bahagia melihat sang suami sangat perduli kepada Diki, bahkan dia terlihat sangat antusias mengenai pernikahan asisten pribadi nya itu.


"Baiklah, besok Abi ke sana untuk mengatakan hal ini,"


"Apa aku boleh ikut?" tanya Diki tiba-tiba, membuat senyuman mengembang di setiap bibir manusia yang berada di sana.


"Boleh, tapi kamu tidak boleh ikut masuk, nunggu di mobil saja," goda Abi membuat orang yang ada di sana terkekeh dan Diki bermuka masam.


"Bagaimana selama mempersiapkan acara pernikahan, Diki. Ummi dan Abi menetap di sini? Takutnya aku sedikit sibuk, jadi aku baru tenang jika ada Nabil di rumah ada yang menemani," usul Faris, terlebih dia ingin suasana hangat yang dia rasakan sekarang tidak pernah hilang.


"Iya, Mi, Bi! Nabil sangat bahagia jika Ummi dan Abi tetap tinggal di sini!" lirih, seolah memohon.


Ummi dan Abi saling melirik kemudian mereka mengangguk "Baiklah, kami akan di sini," timpal Ummi, membuat Nabil dan Faris langsung tersenyum bahagia.

__ADS_1


"Mungkin besok atau lusa Kakek juga sudah membaik keadaan nya, jadi dia akan terbang ke sini juga," ucap Faris.


Alasan Kakek Adinata tidak pulang di acara tujuh bulanan, Nabil, karna jantung nya kembali kambuh. Faris di beritahu dari dokter pribadi yang selama ini merawat Kakek nya. Sebenarnya Faris ingin terbang ke negara di mana sang Kakek tempati, akan tetapi dia urungkan karena mengingat kasihan jika mengajak Nabil berpergian jauh dengan perut besar nya. Dan dia juga tidak tega meninggalkan sang istri dalam keadaan seperti itu. Akhirnya dia hanya menyuruh dokter pribadi Kakek nya untuk melakukan yang terbaik dalam pengobatan sang Kakek, tidak lupa puluhan anak buah yang menjaga Kakek yang sangat dia sayangi itu.


"Alhamdulillah, semoga Kakek selalu di berikan kesehatan," ucap Ummi Fatimah yang di Amin kan oleh mereka semua.


"Baiklah kalau seperti itu, kami permisi duluan," ucap Abi langsung bangkit dan menarik tangan sang istri untuk ikut bangun.


"Kita mau kemana, Bi? Mungkin mereka belum selesai bicara?" sergah ummi, akan tetapi dia langsung ikut bangun.


"Ke kamar lah, kalau ada yang perlu di sampaikan, kan bisa besok hari, sekarang ini sudah malam, Abi sudah sangat mengantuk," cecap Abi langsung menarik tangan sang istri.


Mereka yang di tinggal hanya saling melirik, Faris sudah tersenyum sambil menaik turunkan alis matanya, Nabil sudah paham dengan tingkah suami di hadapannya ini.


"Ayo kita masuk ke kamar juga, sayang! Aku sudah sangat tidak tahan. Biarlah yang masih jomblo ngobrol sama sofa di sini," ajak Faris dengan ejekan terhadap Diki.


"Siapa yang jomblo, sebentar lagi aku juga akan menikah, lihat saja, aku juga akan bermesraan selalu dengan Mira ku," batin Diki menjerit dengan tingkah bos nya itu.


"Baiklah, Kak! Kami permisi dulu, selamat malam Kakak, cepat lah tidur, agar hari kembali datang, supaya acara mu bisa terasa cepat," cerocos Nabil sambil ikut bangun karna tangan nya sudah di tarik.


"Makasih, Nabil! Kakak juga mau tidur," imbuh Diki lagi.


Seketika wajah Faris langsung berubah, dia juga semakin menggenggam erat tangan sang istri, genggaman yang membuat Nabil meringis.


"Ma--mas!"


"Apa harus semanis itu bicara dengan lelaki lain?"


.


.


.


.


.


~Bersambung.

__ADS_1


...Cie babang Faris cemburu ni ye ... Oh iya, acara pernikahan Diki dan Mira kan Minggu depan, jangan lupa hadir ya, jangan lupa juga bawa kado, like, komen, dan juga vote kakak ku sayang....


__ADS_2