
Keluar dari ruangan Dr.Rona, abi Zainal terlihat lemah dan begitu terpukul, langkah nya terasa berat, otot kakinya terasa juga terasa lemah.
Bagiamana tidak, pasalnya lelaki berumur 54 tahun ini baru mengetahui jika istri tercintanya sakit karna luka lama, dan juga sangat berbahaya.
Bagaikan buah simalakama, jika ummi Fatimah tidak di operasi maka itu akan terus menyakiti dan dapat membahayakan istrinya juga, tapi jika setuju untuk di operasi, kemungkinan untuk selamat juga sangat kecil.
Abi Zainal menjatuhkan tubuhnya di kursi tunggu tepat di depan ruangan sang istri, agar bisa menenangkan pikirannya terlebih dahulu.
Setelah beberapa menit, pria paruh baya ini bangkit, kemudian melangkah masuk ke dalam ruangan tempat istrinya di rawat. Kakinya terus melangkah mendekati brangkar, dia melihat sang istri sudah membuka matanya.
"Abi!" panggil Nabil saat melihat lelaki yang di sayangi nya sudah berada di dekat mereka.
"Bagaimana, apa yang di katakan Dokter, Abi?" lanjut Nabil bertanya.
Abi Zainal mencoba untuk tersenyum, tangan nya memegang pundak Nabil dan juga kepala sang istri, lalu mengatakan apa yang di jelaskan oleh Dokter yang menangani ummi Fatimah.
Dalam seketika, air mata Nabil langsung tumpah, sungguh kenyataan yang sangat menakutkan.
"Astaghfirullah, ummi!" pekik Nabil langsung memeluk tubuh wanita yang sangat berarti dalam hidupnya.
Ummi tetap mencoba tegar, dia sudah tau tentang penyakit yang dia alami saat ini, tangan nya terangkat untuk mengelus kepala putri semata wayangnya.
"Nak! jangan nangis, Ummi saja kuat!" tukas ummi Fatimah menyemangati Nabil.
"Nabil sedih mendengarnya, Ummi. Nabil takut!" lirih Nabil masih memeluk sang ummi.
__ADS_1
"Jangan seperti ini Nak, kita harus bersabar, sakit bukan lah pilihan. Itu suatu cobaan dari Allah Nak!" jelas sang ummi dengan suara begitu lembut.
"Iya Nak, betul apa yang dikatakan Ummi mu ini!" timpal abi Zainal.
"Ingat ini. ِ
كُلُّ نَفْسٍ ذَالِٔـقَةُ الْمَوْت.
Artinya: "Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati"
"Jadi kita harus sabar, berdoa saja semoga ummi bisa menjalankan operasi nya dengan selamat!" ujar abi mencoba menenangkan keduanya, meski hatinya sendiri bergemuruh hebat.
Nabil bangkit, di usap nya air mata dari balik cadar, kemudian dia mengangguk kecil, menandakan bahwa dia paham akan ucapan dari abi nya itu.
"Tapi, sebelum itu Ummi mempunyai keinginan!" imbun ummi yang menatap kepada suami dan juga anak perempuan nya.
"Ummi ingin...!" ummi menggantung ucapan nya, ada keraguan dalam benak wanita beranak satu ini.
"Apa Ummi?" tanya Nabil lagi.
"Hem... Ummi ingin melihat putri Ummi menikah Nak!" ujar ummi membuat Nabil dan juga abi nya mengangkat alis mereka.
"Kenapa Ummi bicara seperti itu?" protes Nabil akan ucapan ummi nya itu.
"Pokok nya Ummi ingin, sebelum Ummi di Opera Ummi terlebih dahulu melihat mu menikah Nak!" timpal ummi lagi.
__ADS_1
"Kita kan tidak tau, setelah operasi Ummi akan selamat atau tidak, jadi sebelum itu, Ummi mau melihat anak semata wayang Ummi menikah"
"Ummi, kenapa bicara seperti itu?" tegur abi Zainal, marasa tidak senang dengan ucapan istrinya itu.
"Memang benar kan!" imbun ummi Fatimah lagi.
"Sudah-sudah, sebaiknya kita pulang sekarang. Karna Dokter mengatakan jika Ummi boleh pulang, tapi harus tetap datang ke rumah sakit seminggu sekali, untuk check up, selama Ummi belum melakukan operasi!" tukas abi, mengajak istri dan anak nya untuk pulang.
"Baik Abi!" Nabil bangkit, dan membantu sang ummi untuk bangun.
Tanpa mereka sadari, jika percakapan mereka di dengar oleh orang yang sengaja menguping di luar ruangan. Saat melihat mereka ingin keluar pun, orang tersebut langsung pergi dan menghubungi seseorang.
Setelah mendapatkan informasi dari anak buahnya, Faris langsung melebarkan senyumnya di bibirnya.
"Bagus, seperti nya kesempatan memang sedang berpihak padaku!" gumam lelaki itu, memutar gawai di tangan nya.
"Karna orang tuanya menginginkan dia menikah, dan itu pasti akan lebih memudahkan jalan ku untuk mendapatkan wanita aneh yang sok itu!" lanjut nya lagi.
.
.
.
.
__ADS_1
~Bersambung
Jangan lupa Like, komen dan juga Vote nya ya temen-temen.