Istri Taruhan Kunci Surgaku

Istri Taruhan Kunci Surgaku
Saya membenci Anda.


__ADS_3

Pagi hari di sebuah apartemen, pada saat baru membuka mata, Diki sudah mencibirkan bibir nya saat melihat siapa penelpon yang menghubungi dirinya.


"Ada apa dia menghubungi ku, mengganggu sekali pagi-pagi," umpat Diki merasa keberatan, tapi dia langsung menjawab panggilan masuk melalui via Whatsap yang penelpon nya tidak lain adalah Faris.


"Halo, ada apa Tuan pagi-pagi menghubungi saya?" tanya Diki tanpa menyaring ucapan nya.


"Berani sekali kamu bertanya seperti itu, terserah saya mau menelpon kamu jam berapa, lagian ini memang sudah waktunya bangun, dan kau masih bilang pagi? Dasar pemalas, makanya kamu sulit untuk mendapatkan jodoh!" cerca Faris panjang lebar membuat Diki menganga, pasalnya Faris menjadi lelaki yang cerewet akhir-akhir ini.


Tak ingin berdebat, Diki menarik nafas panjang dan menghembuskan nya."Ada apa, Tuan?" tanya Diki dengan begitu ramah.


"Sebelum kau ke sini, jemput lah teman istriku, kamu sudah tau rumahnya, katakan Nabil ingin bertemu!" perintah Faris dengan nada sangat tegas.


Diki menaikkan sebelah alisnya "Siapa yang tuan maksud?" tanya Diki yang belum sepenuhnya sadar.


"Siapa lagi kalau bukan wanita yang kau temui beberapa hari lalu bersama istriku," timpal Faris mengingat kan.


Diki mengerutkan keningnya sambil berpikir, seketika matanya langsung membola saat mengingat siapa wanita yang di maksud Faris. Bayangan wajah garang wanita yang tak lain adalah Mira melintas cepat di kepalanya, Diki sampai bergidik mengingat betapa menyebalkan nya Mira saat mereka bertemu.


"Untuk apa menjemput kucing liar itu, dan kenapa harus saya, suruh supir saja, saya akan kirimkan alamat nya.


Faris menyipitkan matanya mendengar cibiran Diki terhadap sahabat istri nya itu.


"Kucing liar? Rupanya kau sudah sedekat itu dengan nya. Aku tidak mau penolakan, atau gaji mu ku potong tujuh puluh persen!" setelah mengancam, Faris langsung mematikan sambungan teleponnya, tanpa memberi waktu untuk Diki menjawab, membuat asistennya berdecak kesal.


...****************...


Mengingat ancaman Faris yang tidak pernah main-main, sekarang ini Diki tengah berada di rumah Mira, tepat seperti dia bayangkan, saat ini mereka sedang adu mulut.


POV Mira.


Saat mengetahui si lelaki kaku yang datang, sesaat aku mengerutkan kening, untuk apa dia pagi-pagi ke sini, tapi itu hanya dalam pikiran ku saja.


Awal nya aku ingin minta maaf karna kemaren saat dia datang ke rumah, aku terlalu kasar dengan lelaki yang tidak mempunyai salah apa-apa dengan ku.


Akan Tetapi aku mengurungkan niat ku, saat ku lihat wajah nya yang kaku sedang melihat sinis ke arahku. Menyebalkan sekali.


Aku merasa semakin kesal saat mendengar ucapan nya "Nona, bisa siap-siap sekarang? Kita akan pergi ke rumah tuan Faris!"


Memang nya dia siapa bisa memerintah diriku seenaknya.

__ADS_1


"Wah-wah ... Anda sungguh hebat, Tuan! Datang ke rumah orang pagi-pagi kemudian langsung memberi perintah," aku mencibir dengan memberi tatapan tajam.


"Mira kamu tidak boleh seperti itu. Nak, duduk lah dulu!" timpal bunda begitu ramah saat melewati kami untuk mengantar ayah berangkat kerja.


Dan lelaki ini begitu sok akrab dengan orang tua ku, di hadapan ku dia berani mendekati ayah ku dan membisikkan sesuatu yang tidak aku ketahui, aku hanya melihat ayah mengangguk-anggukan kepalanya. mereka seolah tidak menganggap ku ada di sini.


"Ayah berangkat dulu ya, Nak!" Setelah ayah berangkat, dia kembali menatapku dengan tatapan sangat dingin.


"Saya akan menunggu anda di sini, dalam sepuluh menit kita akan berangkat!" dan lagi, berani sekali dia kembali memerintah ku.


"Saya tidak mau, memang nya anda siapa berani memerintah saya?" tanya ku sengit, aku memang tidak akan menolak menemui Nabil, tapi caranya menyuruhku sangat menyebalkan, tidak bisakah bersikap baik sedikit saja.


"Nona Nabil dan Tuan Faris sudah menunggu di sana!" ulang nya lagi, sungguh lelaki dingin sangat menyebalkan.


"Kalau saya tidak mau?" tanya ku menantang.


"Saya tidak punya pilihan lain lagi, terpaksa saya harus membawa anda dengan cara paksa!" aku terbelalak mendengar ucapan yang terlontar dari mulut lelaki dingin itu, berani-beraninya dia ingin menyeret ku.


"Apa kau akan menyeret saya di rumah saya sendiri?" tanya ku dengan nada mulai meninggi.


Dia tidak menjawab, akan tetapi berjalan mendekati ku, lagi-lagi mata ku membulat saat merasakan tubuhku melayang ke udara.


Mendengar isakan ku, akhirnya dia menurunkan ku dari pundak nya "Kenapa kamu malah menangis, bukan kah tadi kamu sendiri yang menantang saya?" tanya nya tanpa rasa bersalah.


"Saya sangat membenci anda!" ucap ku dengan tatapan bengis. Namun aku tidak melihat raut bersalah atau menyesal, hanya ekspresi datar yang dia perlihatkan.


Kakiku sudah ku ayunkan hendak menaiki tangga, akan tetapi suara lelaki kaku itu yang berbicara dengan seseorang membuat ku menghentikan langkah ku.


"Nona, anda tidak akan ada teman di rumah selama kami ke luar kota, karna teman anda tidak mau datang menemani anda!" jadi dia menjemput ku untuk menemani Nabil karna suaminya pergi ke luar kota, kenapa dia tidak bilang dari tadi. Kasian sekali sahabat ku sedang hamil di tinggal sendiri, aku tentu saja tidak tega jika tidak datang menemani nya di situasi seperti ini.


Ketika aku melihat lelaki itu berbalik dan ingin pergi, perasaan ku berkecamuk, antara ingin ikut dan juga merasa malu karna tadi sudah menolaknya.


"Tuan, tunggu!" ucap ku lantang, aku sudah tidak memikirkan perasaan malu, juga aku sudah tidak lagi menangis, karna sahabat ku jauh lebih penting daripada gengsi ku sendiri.


Dia mengehentikan langkah tanpa membalikkan tubuhnya "Aku ikut!" hanya itu yang keluar dari mulut ku.


...****************...


Dan sekarang di sini lah aku, duduk berdua dengan Nabil di taman kecil yang dia bilang milik almarhumah mertuanya.

__ADS_1


Suaminya dan lelaki kaku plus nyebelin itu sudah berangkat satu jam yang lalu.


Aku merasa kesal saat mengetahui jika lelaki itu tidak benar-benar menghubungi Nabil, dia hanya ingin membuatku terkecoh agar mau datang ke sini, tapi seketika rasa itu hilang tatkala melihat wajah Nabil berbinar ketika melihat ku, dia merasa sangat senang.


"Ngomong-ngomong apa kamu sudah berbaikan dengan Kak Diki?" aku sedikit tersentak dengan pertanyaan nya, tapi seketika wajah ku langsung berubah cemberut.


"Rencana nya begitu, tapi tidak jadi!" jawab ku ketus, Nabil melihat ke arahku dengan tatapan curiga, dia tau jika saat ini aku sedang kesal.


"Kenapa tidak jadi?" tanya nya kemudian.


"Karna lelaki yang kau sebut kakak itu sangat menyebalkan, Nabil!" sergah ku dengan nada kurang suka.


"Kalian bertengkar lagi?" tanya nya mengintimidasi. Aku hanya mengangguk kecil sebagai jawaban.


"Kalian sangat kekanakan!" tukas nya menilai sikap kami, dia tidak tau saja apa yang telah di perbuat oleh lelaki itu.


"Sudah jangan membahas pria kaku itu lagi, sekarang katakan apa kamu mau membuat ku makanan?" tanya ku mengalihkan pembicaraan.


Nabil tersenyum, kemudian aku melihat dia tersenyum dan menarik tangan ku untuk bangun.


"Kita akan makan sesuka hati mu, selama kau di sini, anggap saja rumah ini juga rumah mu ya!"


.


.


.


.


.


~Bersambung.


Duh ... Mira dan Diki kok kayak tom and Jerry ya, padahal mau aku ingin memperbaiki hubungan mereka, tapi kok nggak ada yang mengalah sih, Diki kamu harus lembut dengan Mira, dan juga buat Mira, kamu tidak boleh galak-galak dengan babang Diki, nanti jatuh hati loh. Wkwkwkwkwkw.


Jangan lupa Like komen dan juga Vote ya kakak ku sayang.


Bantu dukung juga dengan memberikan bintang dan juga hadiah sebanyak-banyak.

__ADS_1


__ADS_2