
Faris dan Diki saling adu pandang, kemudian mereka sama-sama melihat pada Nabil.
"Kenapa malah melihat ku seperti itu? Aku tidak akan mengizinkan Mas melakukan apa yang telah mereka lakukan dulu," ulang Nabil lagi,
"Tapi dia sudah membunuh Papa dan Mama dengan begitu sadis, sayang, kenapa kita tidak boleh membalasnya, dia harus merasakan bagaimana rasanya jika kehilangan orang yang dia cintai." sergah Faris tidak menyetujui usulan Nabil.
"Apa dengan membunuhnya atau membunuh keluarga nya akan menghidupkan kembali Papa dan Mama? Apa kamu bisa merasa puas? Jika memang iya, maka lakukan lah, Mas! Tapi itu artinya sama saja kamu dengan dirinya. Sama-sama pembunuh." cerca Nabil sambil melepaskan genggaman tangan sang suami.
"Sayang ... Jangan bicara seperti itu, jangan samakan aku dengan nya," pinta Faris kembali memegang tangan Nabil.
"Aku bahkan bukan hanya menyamai, tapi aku akan membencimu seperti kamu membencinya. Buka aku membela dia, akan tetapi Allah juga sangat murka kepada orang yang dendam, juta pembunuh,"
Faris langsung menggeleng, dan menarik paksa Nabil ke dalam dekapan nya "Jangan katakan jika kamu membenci aku, sayang! Aku tidak akan sanggup jika itu terjadi!" sarkas Faris berucap sambil mencium puncak kepala, Nabil.
"Mereka sudah menanggung dosa karna telah mencelakai Mama dan Papa, lalu apa kamu juga akan menanggung dosa yang sama? Bukan kah Allah telah menunjukkan keadilan satu persatu, Talia sudah depresi, dan seketika harus di tangani di dokter psikologi. Serahkan semua nya kepada, Allah, Mas! Kita cukup melihat bagaimana prosesnya,"
"Lagi pula, dengan membalas dendam tidak menjamin Papa dan Papa merasa senang. Mungkin saja saat ini Mama dan Papa sudah beristirahat dengan tenang karna keihklasan mu. Ingat, Mas! Orang yang sudah tiada hanya butuh doa, bukan balasan dendam." lanjut Nabil memberikan pemahaman dan pencerahan agar suaminya tidak berlarut dalam rasa dendam yang tidak pernah usai.
Faris diam, dia masih mencerna semua ucapan sang istri, pelukannya semakin erat pada baru sang istri, dia mengecup lama kening lembut wanita nya.
"Aku berjanji tidak akan melakukan hal yang akan membuat mu membenci diriku. Aku tidak akan melakukan nya, tapi izinkan aku tetap menahan lelaki itu di tempat ku." pinta Faris melirih pada sang istri.
"Aku tidak akan melarang mu, dan aku percaya jika kamu tidak akan mengecewakan aku." ucap Nabil.
"Aku berjanji tidak akan pernah mengecewakan mu, sayang!" celetuk Faris lagi.
Diki yang menyimak dari tadi interaksi antara Faris dan Nabil yang mengangguk paham, dia sungguh salut dengan pemikiran Nabil, yang selalu bisa memutar pemikiran Faris agar lebih tenang dan memberikan solusi yang tepat.
"Lebih baik kalian pulang saja hari ini, biar aku yang menghandle semua pekerjaan di sini!" seru Diki yang mengerti dengan keadaan Faris yang masih sangat shock dengan Kenyataan yang baru dia ketahui.
"Apa Kakak tidak keberatan?" tanya Nabil memastikan dan Diki mengangguk pasti.
"Baiklah, Kak! Kami permisi dulu." Nabil membantu sang suami untuk bangun, dia juga membantu Faris berjalan keluar dari ruangan nya kemudian masuk ke dalam lift.
__ADS_1
...****************...
Setengah jam di perjalanan, Nabil dan Faris sudah sampai di rumah. Wanita dengan perut besar inipun kembali membopong tubuh Faris yang tampak begitu lemah.
Faris terlihat diam dan menunduk, meski kakinya masih terasa sedikit bergetar, akan tetapi sekuat tenaga calon ayah ini berjalan agar tidak menopang pada Nabil seutuhnya.
"Astaghfirullah, Tuan Faris kenapa, Nona? Kenapa mukanya pucat begitu?" tanya bi Mila yang baru datang dari dapur.
"Mas Faris hanya kelelahan, Bi! Nabil mau bawa Mas ke dalam kamar dulu, ya Mas." tukas Nabil pamit pada bi Mila.
"Baik, Nona! Apa perlu bibi buatkan teh atau makanan untuk Tuan?" tanya bi Mila lagi.
"Tidak usah, Bi! Nanti biar Nabil yang akan turun membuat nya," sergah Nabil.
Dia tau, jika keadaan Faris sudah seperti ini, lelaki nya itu pasti tidak akan makan atau minum jika bukan dirinya yang membuatnya.
Meski agak kesusahan, Nabil akhirnya berhasil membawa calon ayah dari anaknya masuk ke dalam kamar. Dengan hati-hati Nabil mendudukkan tubuh lemah Faris, kemudian membaringkan nya dengan lembut.
"Sebaiknya aku bantu ganti pakaian Mas dulu ya," imbuh Nabil, tangan nya bergerak lincah, untuk membuka sepatu sang suami, kemudian tangan nya berpindah membantu Faris membuka jas kerja dan kemeja nya.
Satu persatu kancing kemeja Faris terbuka, mata Nabil terbelalak saat tanpa sengaja tangan nya menyentuh kulit Faris.
"Astaghfirullah, Mas! Kamu demam. Badan kamu sangat panas, kenapa tiba-tiba," gumam Nabil begitu khawatir, dia langsung memegang dadi sang suami yang terasa sangat panas, di tambah bibir pucat juga muka yang mulai memerah.
"Apa yang terjadi sama kamu, Mas!" lirih Nabil, tidak jadi membuka kemeja sang suami, dia langsung menarik selimut dan menutupi tubuh bergetar Faris.
"Tunggu sebentar, sayang! Aku akan mengambil air panas dan kompres untuk mu," cecap Nabil ingin keluar, akan tetapi tangannya langsung di tahan oleh tangan panas Faris.
"Ja--jangan pergi, jangan tinggalkan aku sendiri." pinta Faris, suaranya begitu lirih, hingga membuat hati Nabil tercubit karena nya.
Nabil mengurungkan niatnya, dia bahkan langsung menhujami wajah Faris dengan ciuman nya.
"Aku tidak akan kemana-mana, Mas! Aku akan selalu berada di sisimu," ucap Nabil, dia menghidupkan Jane, untuk menghubungkan pada lantai dasar, lalu meminta bi Mila untuk membawakan baskom air hangat juga kompres, setelah mendapatkan anggukan dari bi Mila, Nabil juga menghubungi dr. Riska, agar menyuruh dokter ke rumah nya.
__ADS_1
Tak lama kemudian, bi Mila datang dengan membawakan tempat berisi air hangat, Nabil menerima nya dan kembali menutup pintu.
Dengan telaten Nabil mengompres dahi sang suami, air matanya sudah tidak tertahankan, bibirnya sedari tadi terus melantunkan solawat, hatinya benar-benar tidak tenang melihat keadaan Faris.
Bagaimana mungkin seorang lelaki yang sering di sebut kejam, dingin dan datar bisa selemah ini, akan tetapi itu hal yang wajar, karna Faris sudah melalui begitu banyak rintangan dalam hidupnya, dan menyisakan trauma yang bisa bangkit menghantui dirinya kapan saja.
Beberapa saat mengompres, Faris, tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk, sebelum membuka Nabil memakaikan kain penutup terlebih dahulu.
"Tante...!" ucap Nabil saat melihat wanita hampir paruh baya berdiri di depan kamarnya bersama seorang dokter laki-laki.
"Katakan, apa yang terjadi dengan Faris?"
.
.
.
.
.
.
.
.
~Bersambung.
Huhuhu sedih lihat kondisi Faris yang sangat terpukul.
Jangan lupa Like komen dan juga Vote kakak ku sayang.
__ADS_1
Bantu dukung juga dengan bintang dan hadiah sebanyak-banyak nya.