
Situasi di dalam sebuah ruangan kumuh, kotor dan tak terawat begitu mencengkram. Nabil tengah menebak orang yang berdiri di hadapannya. matanya menatap dengan intens, berharap mengenali pria bertopeng itu.
"Kenapa menatap ku seperti itu, sayang?" tanya lelaki bertopeng itu kini duduk di hadapan Nabil.
Sementara Nabil memicingkan matanya, dia seperti mengenal suara lelaki itu, akan tetapi dia tidak bisa mengingat, siapa orang yang telah menculik dirinya.
"Siapa kamu?" tanya Nabil tegas tanpa basa-basi.
Lelaki itu menaikkan alisnya sebelah di dalam topeng, sambil tersenyum sinis "Rupanya kamu sudah tidak mengenali ku lagi," ujar lelaki itu berpura-pura sedih.
"Apa mau mu?" tanya Nabil.
"Rupanya kamu tidak sabaran ya, sayang!" ucap nya seraya tangan nya terangkat ingin mengelus perut besar Nabil.
"Jangan pernah sentuh saya." sentak Nabil tegas, bahkan dia tidak terlihat ketakutan. Wanita lembut yang mudah tersentuh ini seketika menjadi berani dan meradang saat tangan lelaki lain ingin menyentuh dirinya.
"Ups, kamu sungguh berbeda sekarang, bukan lagi wanita lembut dengan penuh kasih sayang. Kamu jadi wanita kasar sekarang." lelaki itu seolah menjaga, dia tidak jadi menyentuh perut Nabil.
"Apa mau mu?" ulang Nabil bertanya, sama sekali tidak merespon perkataan lelaki misterius itu.
"Apa tidak sebaiknya kita menunggu suamimu datang dulu, baru aku akan memperkenalkan diriku!" sergah pria itu.
"Lebih baik kamu katakan dirimu sekarang, karna kalau nanti Faris sudah datang, aku takut kamu tidak mempunyai waktu banyak!" celetuk seorang wanita yang tengah berlenggak-lenggok masuk ke dalam tempat penyekapan.
Mata Nabil langsung terbelalak saat melihat orang yang sangat dia kenali. Seketika tubuhnya bergetar, hatinya berdetak tidak karuan, keringat dingin mulai keluar.
"Ta--Talia!" lirih Nabil, dia gemetaran bukan karna takut akan keselamatan dirinya, akan tetapi yang dia pikirkan ke dua calon bayi yang tengah dia kandung.
...****************...
Sementara di tempat lain, Faris dan Diki tengah dalam perjalanan. Kali ini bukan Diki yang membawa mobil nya, akan tetapi Faris, lelaki 28 tahun ini melajukan kendaraan beroda empat itu dengan kecepatan tinggi, dia bahkan tidak takut akan membahayakan dirinya sendiri dan juga Diki.
Yang dia pikirkan saat ini hanyalah sang istri dan anak kembar yang beberapa minggu lagi akan lahir.
Hati suami mana yang tak kalang kabut dan khawatir saat mengetahui jika sang istri di culik dalam keadaan hamil besar. Harapan yang besar hidup bahagia bersama keluarga kecilnya akan kah terwujud, khayalan menyambut kelahiran kedua anaknya akan kah tersampaikan. Hanya doa yang saat ini bisa panjatkan.
__ADS_1
"Kalian harus selamat, anak-anak Abi. Jaga Ummi juga, Nak!" batin Faris menjerit.
"Diki, beritahu kelima bertopeng, di perjalanan masuk ke dalam gedung tua itu banyak penjaga yang berada di atas pohon. Serahkan tugas ini pada mereka!" seru Faris tanpa melihat ke arah Diki.
"Baik!" Diki langsung melakukan perintah Faris, dia terlihat tenang, meski Faris menyalip dan menerobos lampu merah. Dia sudah tidak meragukan Faris dalam berkendara. Lagipula dia tau apa yang Faris rasakan saat ini, karna dia juga sudah menjadi suaminya dan sebentar lagi jadi seorang ayah.
"Renald dan pasukan nya juga sudah datang ke sini!"
"Suruh mereka langsung ke sana!"
"Baik!"
"Apa kamu mencurigai seseorang? Apa menurutmu teman kampus Nabil yang dari dulu terlihat tertarik pada istrimu?" tanya Diki.
"Aku tidak yakin. Aku merasa jika dia adalah umpan, dan aku juga sudah peringatkan jangan dekati Nabil lagi, atau orang tua nya yang akan menjadi taruhannya." jawab Faris.
Dia bukan orang bodoh yang mudah terkecoh dengan drama yang selama ini Abiyan mainkan. Faris selama ini tidak diam saat wanita nya di ganggu oleh lelaki lain, dan yang dia ketahui Abiyan bukan lah semata-mata menyukai Nabil, melainkan hanya ingin membuat rumah tangga mereka hancur. Dan untuk Abiyan, selama tiga Minggu Faris mengurung lelaki itu di markas dan di beri siksaan.
Diki hanya mengangguk, menang sudah dia akui, Faris orang yang cerdik, yang tidak mudah di kelabui.
Kini mereka telah berhenti di pinggir jalan, mobil yang di kendarai oleh Nabil sudah di periksa oleh anak buah nya. Dan benar saja, mereka menukar mobil saat menculik Nabil.
...****************...
Dia kira wanita itu sudah berubah dan memperbaiki diri, akan tetapi perkiraan nya salah. Buktinya sekarang ini lelaki itu berdiri di hadapannya dengan sombong, matanya tersirat kebencian terhadap dirinya.
"Kenapa, apa kamu kaget melihat ku?" tanya Talia dengan santai nya.
"A--apa yang kamu mau? Bukan kah kamu berjanji tidak akan mengganggu keluarga ku lagi?" tanya Nabil dengan suara bergetar.
Talia tersenyum sinis, dia berjalan mendekati Nabil "Apa kamu bilang, tidak akan mengganggu kalian lagi? Setelah suamimu menghabisi Papa ku, aku akan bertepuk tangan melihat kebahagiaan kalian, hah?" tanya Talia dengan mata berapi-api, dia juga sudah mencengkram dagu Nabil.
"Talia, lepaskan dia! Ingat kesepakatan kita. Jangan sampai kamu lukai dia, sedikitpun!" sentak lelaki itu marah saat Talia menyakiti wanita yang dia cintai.
Dengan kasar Talia melepaskan cengkraman nya hingga wajah Nabil berpaling.
__ADS_1
"Papa mu bunuh diri di saat Mas Faris ingin menyerahkan nya ke kantor polisi!" sarkas Nabil, dia tidak rela suaminya di sebut pembunuh.
"Mencebloskan Papa ku ke dalam penjara tanpa dia melakukan kesalahan apapun?" tanya Talia kembali menatap tajam Nabil.
"Kamu tidak tau apa yang sudah di lakukan oleh Papa mu pada Papa dan Mama nya Mas Faris, dia dalang meninggal Mama dan Papa!" hardik Nabil dengan suara meninggi. Nafas nya sudah memburu, dadanya naik turun, mencoba bisa menguasai amarah nya.
Bagaimana Nabil tidak marah, Talia tidak mau membuka mata dan melihat kesalahan orang tuanya, dia malah menyalahkan orang lain atas kejadian menimpa Papa nya.
"Dan kamu pikir aku percaya? Tidak semudah itu Nyonya Zayyan Nabila Adinata Bagaskara!" cibir Talia, menekan setiap kata.
"Urus dia, aku bisa melenyapkan nya jika terus berada di sini! seru Talia pada lelaki yang berdiri di sebelah Nabil.
"Kamu tidak apa-apa kan?" tanya lelaki itu sedikit panik. Perlakuan nya membuat Nabil tertegun, mana ada penculik yang mengkhawatirkan tawanan nya.
"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Nabil menghiraukan pertanyaan lelaki bertopeng itu.
Seketika lelaki itu tersenyum, dia bangun, kemudian membuka topeng yang menutupi wajahnya.
Mata Nabil rasanya ingin keluar saat melihat lelaki yang berdiri di hadapannya saat ini. Dia bahkan lebih terkejut saat melihat Talia, sungguh yang dia lihat saat ini, hal yang tidak pernah dia bayangkan.
"Ka--kakak, Rangga!"
.
.
.
.
.
.
~Bersambung.
__ADS_1
...Apa, Rangga? Kok bisa ya? Duh kok Talia nongol lagi sih, aku tuh gak benar-benar doain Faris dan Nabil pisah. Ekspresi sedih....
...Jangan lupa Like komen dan juga Vote kakak ku sayang....