
Mata Diki membulat sempurna saat mendengar pertanyaan dari penelpon yang ternyata adalah orang tua Mira.
"Kamu dimana, Nak? Apa Mira bersamamu?"
"Apa?" tanya Diki terkejut, bagaimana bisa Ayahnya Mira malah menanyakan putri nya pada dirinya.
"Iya, Nak! Tadi Mira minta langsung di antarkan ke taman, katanya mau menemui mu," ucap Ayah Mira dari seberang.
Mendengar itu Diki langsung panik, ada rasa haru dan bersalah menyeruak relung hati.
"Mira menemui ku?"
"Iya, Nak! Ayah hanya ingin tau dia bersama mu atau tidak, karna sekarang juga tengah hujan deras,"
"Aku hubungi Ayah nanti lagi,"
Tanpa menunggu Ayah Mira menjawab, Diki langsung mematikan sambungan telponnya, dengan langkah lebar Diki berlari masuk ke dalam mobil.
"Ya Allah ... Apa yang aku lakukan, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika sampai terjadi apa-apa dengan mu, sayang!" sambil terus menyerapah dirinya sendiri, Diki menancap pedal gas pada mobil nya.
...****************...
Sementara Mira masih setia duduk di taman, meski tubuhnya sudah bergetar, akan tetapi hatinya tetap tidak rela meninggalkan tempat tersebut, bunga di dadanya semakin erat dia peluk.
Mira sudah menunduk, tidak bisa lagi melihat ke arah manapun, itu karna hujan deras yang menghalangi pandangan nya.
Sesampainya Diki di taman, tanpa rasa ragu lelaki dengan tubuh tegap ini langsung berlari menerjang hujan yang turun begitu deras, bahkan sekelilingnya hanya terlihat memutih.
Lama Diki berlari, akhirnya dia sampai di dekat yang di janjikan Mira menemui dirinya, perlahan tapi pasti, kakinya terasa begitu lemah, saat melihat pujaan hatinya tengah memeluk bunga yang dia tinggalkan tadi, tubuh Mira terlihat bergetar, melihat itu hati Diki benar-benar terasa hancur.
Karna sikap egoisnya yang tidak mencari tau terlebih dulu hingga membuat wanitanya harus kehujanan seperti itu.
Tanpa berpikir panjang, Diki langsung mengayunkan langkah mendekati Mira.
"Mi--Mira," panggil Diki dengan suara bergetar.
Mira yang masih menunduk pun langsung mengangkat kepalanya saat mendengar suara seorang memanggil namanya, suara yang begitu familiar.
Mata Mira langsung mengeluarkan cairan bening bersamaan dengan air hujan yang terus turun membasahi wajahnya, ada rasa haru, bahagia juga sedih saat melihat Diki yang berdiri di hadapannya saat ini dalam keadaan basa kuyup.
"Ka--Kak Diki,"
Diki tidak lagi bisa berkata-kata, dia langsung melebarkan langkah nya bersimpuh di hadapan Mira, tanpa memikirkan apapun lagi langsung di genggam kedua tangan Mira, dia bahkan menjatuhkan kepalanya di atas lutut wanita nya.
"Maafkan, sayang, Maafkan aku, aku benar-benar menyesal!" lirih Diki, tangan nya semakin erat menggenggam tangan Mira.
__ADS_1
"Kakak enggak perl--"
"Jangan katakan apapun, pukul aku Mira, pukul aku, karna aku sudah membiarkan kamu kedinginan di sini," ucapan Mira langsung di potong oleh Diki.
"Kenapa kamu masih menunggu ku di sini? Kenapa kamu tidak langsung pulang, kenap kamu rela duduk di bawah guyuran hujan deras seperti ini? Jika kamu sakit bagaimana? Apa kamu tidak memikirkan aku yang tidak bisa melihat mu sakit, apa kamu tidak bisa mengerti jika aku tidak bisa kehilangan mu?" tanya Diki lagi, dia sedikit berteriak karna keras nya suara hujan.
"Aku tidak ingin kehilangan cinta ku lagi, cukup sekali aku merasakan kecewa, aku tidak ingin kehilangan orang yang telah membuat luka ku sembuh, aku tidak ingin kehilangan Kakak, cukup satu bulan ini aku mencari jawaban tentang dirimu. Aku tidak ingin di saat memutuskan kamu yang menjadi imamku, aku malah kehilangan dirimu,"
"Dan aku juga tidak ingin mengingkari janji ku yang ku buat sendiri memberikan jawaban untuk mu di si--" kata-kata Mira langsung terhenti saat merasakan tubuhnya di dekap oleh tubuh Diki.
Badan Mira mematung, jantung nya berdegup tak karuan, ini kali pertama nya, dan di lakukan oleh lelaki yang bukan mahram nya.
Sementara Diki terus mendekap tubuh bergetar Mira sambil memejamkan mata, sungguh rasa bahagia, sedih dan haru bercampur menjadi satu, rasanya dia ingin menghentikan waktu saat mendengar ucapan yang kelihatan dari mulut wanita nya.
"Kak, jangan seperti ini! Kita belum menikah," tegas Mira yang masih memegang teguh pendirian nya. Ntah kenapa cuma Diki yang telah berbuat sesukanya pada diri Mira, dulu lelaki itu melihat wajah dan bentuk tubuh nya, sekarang dia malah memeluk Mira.
Mendengar itu, reflek Diki langsung melepaskan Mira, seolah dia baru tersadar jika wanita yang dia peluk masih belum menjadi istri nya.
"Maaf, aku tidak sengaja," pinta Diki, dia masih dalam keadaan bersimpuh di hadapan nya.
"Kita pulang sekarang ya," ajak Diki dan Mira pun mengangguk.
Sampai di dalam mobil, Diki masih melihat tubuh Mira yang bergetar, mungkin Mira kedinginan melihat tangan nya yang juga sudah pucat.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Diki pada wanita nya.
"Darimana bunga itu? Kenapa kamu tidak ingin melepas nya?" tanya Diki yang berpura-pura tidak tau.
"I--ini bunga dari laki-laki yang tidak punya mental untuk menemui ku secara langsung, dia yang menyerah sebelum berperang, dia yang salah paham tanpa mencari tau kebenaran nya," jawab Nabil tanpa melihat ke pada Diki.
Mendengar kata sindiran dari Mira, Diki merasa sangat bersalah, benar yang di katakan Mira bahwa dia adalah lelaki yang egois, yang tidak mencari tau kebenaran nya terlebih dahulu.
"Maaf, aku kira kalian akan kembali bersama, dan aku tidak sanggup melihat itu," pinta Diki lirih.
"Tidak apa, aku mengerti." timpal Mira kembali ketus.
Tidak ingin membuat wanita nya masuk angin, Diki langsung membawa pulang Mira, Diki tidak langsung mengantarkan Mira ke rumah orangtuanya, akan tetapi dia membawa Mira ke apartemen miliknya.
...****************...
"Kenapa kita ke sini? Ini bukan rumah ku!" tanya Mira meneliti bangunan di hadapannya.
"Ini Apartemen ku, aki taku ayah khawatir jika melihat mu seperti ini," mendengar itu pikiran Mira sudah berkelana.
"Tenang saja, aku tidak akan melakukan apapun padamu," sarkas Diki yang tau isi pikiran Mira.
__ADS_1
Sampai di dalam Apartemen, Diki langsung menyuruh Mira untuk mandi duluan, karna kamar dalam apartemen nya itu hanya satu.
Mira sudah menolak, akan tetapi Diki memaksanya. Diki gelisah mondar-mandir di depan pintu, dia tengah menunggu paket yang dia pesan untuk kekasih hatinya itu. Meski dalam hujan deras, akan tetapi Diki tetap mau paket itu segera sampai di tangan nya.
Kegelisahan Diki terjawab, saat suara bel apartemen nya berbunyi, saat membuka pintu, seorang memberikan paket untuk, Diki.
Dengan sangat ragu Diki mengetuk pintu kamarnya "Ini aku belikan pakaian untuk mu," ucap Diki dari luar.
"Letakkan saja di depan pintu kak, dan Kak Diki pejamkan mata, Kaka aku tidak mempunyai niqab lagi," teriak Mira dari dalam.
Mendengar itu, Diki sangat paham, dia pun membalikkan tubuhnya saat Mira membuka pintu dan hanya mengeluarkan sedikit kepalanya yang berbungkus selimut kasur Diki.
Bibir Mira melengkung indah, Diki membelikan pakaian lengkap untuk dirinya, baju, khimar lengkap dengan niqab dengan warna senada.
Selesai menggunakan pakaian, Mira keluar dan bergantian Diki yang masuk membersihkan tubuhnya.
Sambil menunggu Diki, Mira memilih untuk membersihkan lantai Apartemen Diki yang sudah basah akibat pakaian mereka tadi.
Kini Diki dan Mira sudah selesai mandi dan menggunakan pakaian baru, keduanya terlihat sangat canggung, baik Diki maupun Mira sama-sama bungkam.
"Ekhem," Diki berdehem, ingin mencairkan suasana.
"Darimana kamu tau jika bunga itu dariku?"
Deg...
.
.
.
.
.
.
.
~Bersambung.
...Meleleh adek bang... Oh bang Diki. Aku up empat bab hari ini, demi apa coba, wkwkwk....
...Jangan lupa Like komen dn juga Vote kakak ku sayang....
__ADS_1
...Bantu dukung juga dengan bintang dan hadiah sebanyak-banyak nya....