
Sementara di tempat lain, tepatnya di kota yang saat ini Faris berada, sekarang ini Faris tengah berada di sebuah ruangan yang tampak gelap, hanya ada cahaya dari tiga lampu di atas kepala tiga orang yang sedang di ikat pada kursi.
Faris berdiri di hadapan mereka, dengan melihat berkas tentang laporan keuangan yang sangat janggal.
"Katakan pada saya, siapa yang menyuruh kalian memalsukan data pemasukan dan pengeluaran perusahaan ini, hah?" tanya Faris dengan nada yang begitu dingin, hingga membuat tiga orang itu bergidik ngeri.
"Jawab!" bentak Faris sambil memukul keras meja di hadapannya saat tidak ada di antara mereka yang bersuara.
"Ti--tidak ada yang memalsukan nya, Tuan! Semuanya sesuai dengan pendapatan dan pengeluaran perusahaan kita!" karna terkejut, manager keuangan reflek menjawab.
Faris tersenyum sinis mendengar jawaban yang di berikan lelaki berumur sekitar 40 tahun itu.
Dengan nada datar dia memanggil asistennya "Diki!" Yang di panggil langsung menyerahkan beberapa berkas pada tuannya.
"Lihat ini," bentak Faris memperlihatkan kertas yang di penuhi tulisan jumlah uang yang masuk dan yang keluar.
"Ini adalah pendapatan dan pengeluaran yang benar. Kalian pikir saya tidak tau, selama ini perusahaan di sini pengeluaran nya sangat banyak, dan pemasukan semakin sedikit, hingga pemegang saham protes kepada saya karna mereka lebih banyak memberikan modal ketimbang mendapatkan keuntungan nya!" jelas Faris, meski perusahaan yang di sana hanya cabang, tapi juga banyak mendapatkan penanam saham dan modal.
Dua orang lelaki dan satu orang perempuan itu terlihat gemeteran setelah mereka tidak bisa mengelak lagi, karna bukti sudah berada di tangan Faris.
"Sekarang katakan pada saya, apa motif kalian mengkhianati saya? Apa kurang saya memberikan gaji untuk Kalian?" tanya Faris dengan nafas menggebu, dia merasa sangat marah karna di khianati.
"Ti--tidak ada motif Tuan, itu memang kemauan kami," jawab seorang pria yang di samping wanita.
Faris lagi-lagi tersenyum sinis " Katakan, siapa yang menyuruh kalian? Jika kalian mengatakan itu, maka saya akan membebaskan kalian semua," bisik Faris pada manager keuangan.
Dari kata-kata mereka dapat Faris simpulkan, jika ketiga orang tersebut melakukan nya atas arahan orang lain, tapi mereka tetap kekeh pada pendirian mereka, tidak ingin buka mulut siapa dalang dari semua nya.
"Baiklah jika kalian tidak ingin memberitahu saya, maka kalian rasakan hukuman dari saya!" Faris sudah memegang pistol di tangannya, sambil memasukkan tiga peluru ke dalam nya.
__ADS_1
Saat mengarahkan pistol tersebut pada lelaki di tengah, tiba-tiba Diki membisikkan sesuatu yang membuat matanya membulat.
Faris langsung beralih pada Diki, menatap asisten nya dengan begitu tajam, nafasnya langsung menggebu seirama dengan detak jantung yang berpacu begitu cepat.
"Selesaikan urusan ini, Max! Diki, ayo ke ruangan ku sekarang!" ucap Faris pada anak buahnya sambil melemparkan pistol di tangannya.
"Baik, Tuan!" jawab Max yang kini beralih tersenyum sinis dan menatap tajam pada tiga orang yang menjadi tersangka.
Sedangkan Faris langsung berlari masuk ke dalam ruangan nya, tanpa menunggu apapun lagi, tangannya langsung mencari kabar berita di kota yang dia tinggali hampir dua hari.
"Omong kosong apa ini?" ucap Faris dengan suara memekik di dalam ruangan sambil menggebrak meja di hadapannya.
Amarah yang belum sempat mereda kini semakin bertambah, wajahnya memerah demikian juga dengan matanya, keringat sampai keluar dari kedua netra penglihatan nya, tangan Faris terkepal kuat di atas meja tatkala melihat sang istri dikerumuni oleh orang banyak, dan di berikan pertanyaan-pertanyaan yang menyakiti kan.
Berita yang baru saja di input adalah kejadian di mana Nabil di desak oleh para wartawan yang mendatangi nya.
Diki yang berada di sana sudah merasakan hawa panas yang dan mencengkram, dia tau jika Faris sedang sangat marah.
"Hubungi pemilik perusahaan Hot News sekarang juga, Diki! Suruh mereka menutup cepat berita ini, aku tidak ingin membuat istri ku semakin di anggap seperti itu oleh orang-orang di luar sana!" perintah Faris begitu tegas, hingga tanpa kata Diki langsung melaksanakan.
"Tidak bisa Tuan, kata resepsionis Tn.john sedang berada di luar," jelas Diki dengan ragu-ragu.
"Berikan pada ku!" Faris meminta ponsel milik Diki.
"Katakan pada Tuan mu, jika dalam sepuluh menit berita tentang saya dan istri saya belum di hapus, maka saya berjanji akan menutup perusahaan Hot News saat ini juga!" ancam Faris tidak main-main pada resepsionis perusahaan yang telah mengeluarkan berita tidak benar tentang istrinya.
"Ba--baik Tu---"
Faris langsung melemparkan ponsel ke sembarang arah, Diki hanya mengikuti gerakan tangan Diki yang sedang membuang ponselnya hingga masuk ke bawah meja.
__ADS_1
"Aku tetap tidak akan mengampuni kalian karna telah berani menjual berita tentang istri ku, lihat saja apa yang akan aku lakukan." tukas Faris dengan tangan semakin terkepal kuat, hingga menimbulkan urat-urat berwarna hijau di balik kulit nya yang putih.
"Untung ponsel ku di rancang tahan banting dan air, jadi tetap selamat meski berusaha di hancurkan." dalam situasi seperti ini Diki masih sempat memikirkan ponsel milik nya.
"Sekarang bagaimana keadaan istri ku?" tanya Faris tiba-tiba dengan nada begitu dingin tanpa menata ke arah Diki.
"Sahabat nya bilang, No--nona pingsan, Tuan!" jawab nya dengan sangat ragu, dia tau berita yang dia sampaikan pasti akan membuat Faris semakin ingin meledak.
Faris menatap Diki dengan sangat tajam "Sial, Kenapa kamu baru mengatakan nya sekarang." umpat Faris sambil mengayunkan langkah kakinya.
"Kita pulang."
.
.
.
.
.
~Bersambung.
Siapa ya kira-kira orang yang berani main-main sama keluarga Bagaskara, siapa sih orang yang mengambil foto mereka secara diam-diam, bingung juga ya.
Jangan lupa Like komen dan juga Vote ya kakak ku sayang.
Dan bantu dukung juga dengan bintang dan hadiah sebanyak-banyak nya.
__ADS_1