Istri Taruhan Kunci Surgaku

Istri Taruhan Kunci Surgaku
Menikahlah denganku.


__ADS_3

Lanjut ya, meski sudah lama libur.


Sejak saat Faris mengikuti Nabil malam itu, sampai sekarang pun Faris masih juga terus melakukan hal demikian.


Rangga pun semakin hari semakin bersemangat untuk mencoba mendekati Nabil, meski usahanya selalu gagal. Tentu saja karna lebih unggul Faris, karna Faris mendekati Nabil dengan melakukan apa yang di sukai Nabil, sedangkan Rangga, dia hanya bisa mengajak Nabil pulang bersama atau pergi keluar yang tidak akan pernah di tanggapi oleh wanita bercadar itu.


Saat ini Faris dan Nabil sudah sedikit lebih dekat, meski belum bisa di katakan berteman, namun Nabil sudah tidak lagi ketakutan saat Faris mengajak pergi atau pulang bersama. Tentu saja dari mesjid.


Meski jarak saat mereka pulang agak jauh, namun itu merupakan kesempatan untuk Faris terus mendekati Nabil dan berencana akan segera melamar Nabil, mengingat jika batas waktu hanya dua hari lagi sejak dia mengatakan satu Minggu lagi.


Seperti saat ini, Faris berjalan di depan Nabil, tapi keduanya tetap masih bisa berbicara.


"Ukhti boleh saya bertanya?" celetuk Faris sambil terus melangkah kan kaki nya.


"Iya!" hanya jawaban singkat yang di lontarkan Nabil.


"Berapa lama ukhti mondok?" imbun Faris lagi.


"Saya masuk pondok sejak lulus sekolah menengah pertama Tuan!" jawab Nabil halus.


"Oh... Berarti sudah lama ya!" tanya Faris lagi, dia sengaja melambat kan langkah nya.


"Tidak juga Tuan!"


"Hemm... Apa aku boleh bertanya lagi?" tanya Faris lagi.


"Kalau saya bisa jawab Tuan!"


"Apa kah ukhti mempunyai kekasih, atau orang yang kamu cintai?" tanpa beban Faris melontarkan pertanyaan itu untuk Nabil.

__ADS_1


Tanpa Faris tau, pertanyaan nya langsung menusuk ke dalam relung hati Nabil.


"Saya rasa itu pertanyaan yang tidak berhak saya jawab!" timpal Nabil dengan nada sedikit bergetar.


Nabil melangkah cepat hingga mendahului Faris yang kini berdiri mematung tepat di depan pagar rumah nya.


"Kalau saya mau kamu menjadi pacar saya, apa ukhti akan menerima saya?" tanya Faris sedikit berteriak, dia sengaja memancing Nabil. Membuat langkah Nabil ikut berhenti.


Nabil sempat melihat ke arah Faris "Maaf  Tuan, dari sejak dulu saya tidak pernah berpacaran, dan saya tidak berniat sama sekali untuk menjalani hubungan dengan status pacaran!" sargah Nabil, dia kembali ingin melangkah, namun langkah nya kembali terhenti saat suara Faris kembali dia dengar.


"Kalau begitu menikah lah dengan saya, ukhti!" teriak Faris lagi, memang ini yang dia ingin kan.


Keadaan pun begitu mendukung, karna di tempat mereka berada begitu sepi. Abi Nabila memang sudah jarang datang ke masjid, karna ummi Fatimah kesehatan nya terus menurun.


Nabil menghela nafas nya, lalu kembali melangkah tanpa melihat apa lagi menjawab perkataan Faris. Wanita bercadar ini memegang dadanya, ntah kenapa hati nya sedikit berdebar tatkala Faris mengatakan pasal menikah.


Namun, Nabil segera menepis nya, karna takut jika Faris hanya membual, dan dia akan kembali kecewa.


Nabil membuka pintu saat dirinya sampai di depan rumah, dan betapa terkejutnya dia melihat sang abi sedang menggendong ummi yang sudah memejamkan matanya dan juga terlihat sangat lemah.


"Astaghfirullah... kenapa dengan Ummi, Abi?" tanya Nabil dengan sangat panik.


"Ummi pingsan Nak, sekarang Abi mau membawa Ummi ke rumah sakit!" jelas sang abi yang segera keluar dari rumah dan memasukkan istrinya yang pingsan ke dalam mobil.


"Nabil ikut Bi!" ujar Nabil.


"Ya sudah ayo!" timpal sang abi.


"Sebentar, Nabil ganti mukena dulu ya, Bi!" imbun Nabil lagi dan mendapat anggukan dari abi Zainal.

__ADS_1


Mobil mereka berjalan setelah Nabil masuk ke dalam nya, dari teras rumah Faris dapat melihat, setelah itupun dia langsung menelpon seseorang.


Beberapa menit, mereka sampai di rumah sakit, abi Zainal kembali mengangkat sang istri, kemudian melangkah masuk ke dalam rumah sakit.


Mereka langsung di sambut oleh perawat yang membawakan brangkar, ummi Fatimah langsung di baringakan di atas brangkar tersebut dan di masukkan ke dalam ruangan pemeriksaan.


Dokter Rona langsung masuk ke dalam ruangan tersebut saat mengetahui jika pasiennya yang berada di dalam.


"Dokter bagaimana keadaan istri saya?" tanya abi Zainal saat melihat dr. Yang memeriksa sang istri keluar. Nabil juga ikut bangun  menghampiri abi dan juga dr. di depan ruangan.


"Mari ikut saya, nanti saya akan menjelaskan nya!" dr.Rona mengajak abi Zainal untuk ikut ke dalam ruangan nya.


Nabil tidak ikut, dia memilih masuk ke dalam ruangan dan menemani sang ummi yang masih belum sadarkan diri.


Di sebuah ruangan, tepatnya di ruangan dr.Rona, abi Zainal sedang mendengarkan penjelasan dari sang dokter.


Dr.Rona memberitahu kepada abu Zainal sama persis saat dia mengatakan pada ummi tentang gejala nya saat ini yang mengharuskan nya operasi kembali, dan juga memiliki resiko yang besar. Dan itu cukup membuat lelaki paruh baya ini sangat terkejut.


"Apa tidak ada cara lain, Dok?" tanya abi Zainal.


"Bisa saja Ummi mengkonsumsi obat terus menerus, tapi itu hanya meredakan rasa sakit bukan menyembuhkan nya!" terang Dr.Rona lagi.


.


.


.


.

__ADS_1


.


~Bersambung.


__ADS_2