
Melihat Nabil yang sedang fokus pada pekerjaan nya, ide jahil lagi-lagi terbesit di hatinya, dengan sengaja Faris menggoreskan pisau di jari telunjuknya, kemudian dengan sengaja pula dia menjerit begitu keras.
"Aw ...!" teriak Faris langsung mengalihkan perhatian Nabil.
"Mas!," pekik Nabil yang terkejut melihat tangan suaminya sudah mengeluarkan darah.
Dengan begitu cepat dia menyambar tangan sang suami, lalu menariknya untuk di cuci pada wastafel, Faris yang memperhatikan reaksi sang istri merasa sangat senang, karna terlihat jelas raut kekhawatiran di wajah cantik istri nya, meski itu hanya goresan kecil, yang tidak membuat Faris merasa sakit sedikit pun.
"Kenapa tidak hati-hati, kan sudah ku bilang, Mas tidak bisa melakukan nya, kenapa masih memaksa, sekarang lihat, kan jadi luka seperti ini!" omel Nabil pancang lebar, semakin membuat Faris tersenyum.
Nabil meniup jari telunjuk Faris, dengan mimik wajah yang begitu serius, istrinya melepaskan celemek yang masih melekat pada tubuh sang suami dan juga dirinya, setelah itu dia langsung menarik tangan Faris ke ruang keluarga dan menyuruh nya duduk.
"Duduk di sini dulu, aku akan mengambil obat!" perintah Nabil, Faris ingin mencegah sang istri, yang benar saja hanya luka kecil kenapa istri nya sangat berlebihan.
"Aku tidak apa-apa, sayang! Ini hanya luka kecil!" cegah Faris, tapi Nabil kali ini tampak tidak menghiraukan nya.
"Duduk di sini saja, jangan membantah" tukas Nabil begitu tegas, ntah keberanian dari mana, hingga dia sudah berani memerintah suami nya itu.
Setelah beberapa saat, Nabil kembali dengan membawa kotak P3k.
"Sini tangan, Mas!" ucap Nabil meminta Faris mengulurkan tangannya.
"Sayang, ini hanya luka kecil, tidak perlu menggunakan itu!" timpal Faris yang melihat Nabil mengeluarkan Hansaplast
"Ssshhhhttt, Mas mau tangan Mas nanti infeksi, sudah Mas nurut aja ya!" Nabil langsung menarik tangan sang suami, lalu membalut jari nya menggunakan Hansaplast tersebut.
Selesai membaluti telunjuk sang suami, Nabil bangun tujuan meletakkan kembali kotak P3K yang ada di tangan nya itu, kemudian dia berencana menyelesaikan acara memasak nya.
Faris pun tidak tinggal diam, selangkah kaki istrinya melangkah, maka selangkah juha dia mengayunkan langkah nya.
Menyadari jika sang suami mengikuti dirinya, Nabil berbalik secara tiba-tiba, hingga Faris menabrak tubuh nya, membuat Nabil kehilangan keseimbangan, dan yang terjadi selanjutnya.
Bhuukk...
Keduanya terjatuh di atas lantai, dengan posisi Nabil di bawah, untung nya Faris masih sigap memeluk dan menahan punggung sang istri dengan tangan nya, sehingga tubuh sang istri tidak terlalu keras terbentur dengan lantai.
Bukan nya bangun, Faris malah mendekatkan wajahnya pada wajah sang istri, semakin dekat, jantung keduanya pun berdetak tak karuan, hingga irama jantung mereka terdengar satu sama lain saat Faris menjatuhkan bibirnya pada bibir sang istri, mencium, ******* dengan begitu lembut.
Nabil memejamkan matanya karena merasa terbuai, akan tetapi seketika dia sadar, jika saat ini mereka berada di ruangan makan, takut jika nanti pelayan lewat dan melihat adegan yang mereka lakukan saat ini.
__ADS_1
Nabil memukul dada sang suami, dan Faris pun melepaskan ciumannya.
"Kenapa?" tanya Faris sudah dengan suara serak nya.
"Kita berada di tempat terbuka, Mas! Lagian aku mau melanjutkan memasak!" ujar Nabil, dia segera bangkit dan di ikuti Faris dengan wajah yang cemberut.
"Jangan seperti itu wajah nya, masih ada waktu untuk kita berdua, Sayang!" tukas Nabil langsung membuat Faris terbelalak senang.
"Apa, coba katakan sekali lagi!" pinta Faris, dan Nabil tampak bingung.
"Kita masih banyak waktu!" ulang Nabil.
"Setelah itu!" sambung Faris.
Seketika itu wajah Nabil langsung memerah, pasalnya dia sadar apa ya g baru saja dia katakan, namun berbeda dengan Faris, dia merasa sangat senang, karna baru pertama kali ini istrinya itu memanggil dirinya dengan sebutan sayang.
"Aku suka kamu memanggil ku seperti itu!" Celetuk Faris lagi-lagi membuat Nabil merasa malu.
"Sudah, aku mau masak dulu! Mas duduk saja di sini!" ucap Nabil mengalihkan pembicaraan, menyuruh Faris untuk duduk di kursi meja makan.
"Mau ikut, membantu mu memasak!" pinta Faris.
Faris terpaksa duduk pada salah satu kursi di meja makan berukuran panjang, dengan memandang sang istri yang sedang memasak.
Di saat itulah Faris merasa menyesal dengan ide konyol nya, andai dia tidak melukai dirinya, pasti saat ini dia sedang memeluk sang istri dari belakang sambil mencium pipi nya.
Tidak membutuhkan waktu lama, dalam waktu sekitar empat puluh menit, Nabil sudah menyiapkan sup dan juga ayam kecap buatan nya, dia juga sudah membawanya satu persatu dan meletakkan di depan suami nya.
"Mas, cukup segini?" tanya Nabil setelah menuangkan nasi ke dalam piring untuk suaminya.
"Kita makan satu piring berdua saja, sayang! Aku mau di suapi!" lirih Faris, membuat Nabil seketika merasa gemes dengan sikap Faris sekarang ini, jika berdua dengan dirinya, Faris menjadi kucing imut yang sangat manja dengan pemiliknya, akan tetapi jika dengan orang lain, maka sikapnya akan kembali dingin seperti macam yang tidak bisa di sentuh, itu bisa Nabil nilai saat mereka melewati para pelayan saat mereka pulang tadi.
...****************...
Sedangkan Nabil dan Faris tengah asik suap-menyuap satu piring berdua, di tempat lain seorang wanita sedang memendam amarah yang sangat dalam.
Tanpa memperdulikan makan siang nya yang sudah lewat, wanita muda nan cantik ini sedang duduk pada kursi kerjanya, meluapkan amarah dengan meremas berkas dan juga pulpen hingga remuk juga patah.
"Kurang ajar, Asisten dan juga bos sama-sama sombong, lihat saja kalian, aku akan membuat kalian membayar semua yang telah kalian lakukan pada ku!" batin wanita yang ternyata adalah Talia.
__ADS_1
Dia kembali membayangkan bagaimana kata-kata Diki begitu menghantam batin nya.
Sudah dua hari Talia tidak melihat Faris masuk kantor, hanya Diki seorang yang selalu datang, dan hari ini adalah hari ketiga, karna penasaran, membuat dia memberanikan diri bertanya pada asisten Faris yaitu, Diki.
"Tuan, Diki! Apa saya boleh bertanya?" tanya Talia saat menyerahkan berkas pada orang kepercayaan Faris.
Diki melirik sekilas, lalu mengangguk kecil, Talia mencibir karna sikap sok Diki. Namun, dia tetap masih bersikap ramah.
"Kalau boleh saya tau, kemana Tuan Faris, sudah tiga hari dia tidak datang?" tanya Talia membuat Diki langsung mendongak.
Melihat tatapan tidak suka dari Diki, Talia langsung mengelak pertanyaan nya kembali.
"Maksud saya, apa Tuan Faris sedang sakit, atau sedang keluar kota?" lanjut Talia lagi.
Diki yang mendengar pertanyaan tersebut tampak tersenyum sinis "Saya rasa itu bukan urusan anda nona Talia, dan saya rasa anda terlalu ikut campur kehidupan pribadi Tuan, bukan kah tidak wajar seorang karyawan mengurus kehidupan atasan nya? Terlebih saat ini Tuan Faris sudah mempunyai istri, tentu dia ingin menghabiskan waktu bersama sang istri, dan membahagiakan orang yang dia cintai!" timpal Diki, langsung masuk ke dalam relung hati Talia.
Diki dapat melihat perubahan mimik wajah Talia, tapi dia tidak mempermasalahkan nya, karna tindakan Talia memang sudah di luar batas wajar.
"Saya hanya bertanya, mengapa anda harus mengatakan status saya yang hanya sebagai karyawan?" cibir Talia yang sudah tersulut emosi.
"Saya hanya membantu anda supaya sadar diri, siapa anda dan siapa itu tuan Faris, jadi lupakan keinginan mu untuk mendapatkan nya!" jelas Diki kembali menohok dada Talia.
"Jadi saya rasa, anda bisa paham apa yang saya maksud!" lanjut Diki, seraya menunjuk pintu.
Talia yang paham langsung melangkah keluar dengan perasaan yang sangat marah, dia bersumpah akan membalaskan penghinaan yang telah di lontarkan oleh bos dan asisten kepada nya.
.
.
.
.
.
~Bersambung.
Diki salah nggak sih? Kan benar apa yang dia katakan.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak ya kakak ku sayang, dengan cara like komen dan juga Vote ya.