
Mendengar kisah sang suami yang begitu menyedihkan, Nabil ikut menangis, dia tidak tau jika suaminya itu pernah mengalami tekanan yang begitu kuat, pantas saja Faris menjadi pria dingin dan kejam, sebab dia sendiri sudah mengalami kekejaman dari orang-orang yang tidak berakal sedari dia kecil.
Nabil langsung mengeratkan pelukan nya pada ayah dari calon bayinya itu.
"Semenjak itupun, aku menjadi lelaki yang tidak normal, aku tidak bernafsu lagi melihat perempuan. Kakek, Tante dan Diki sudah berusaha kemana-mana untuk menyembuhkan ku setelah mereka merawat ku saat menyembuhkan mental ku kembali, akan tetapi gagal, mental ku kembali, tapi aku menjadi pria lemah yang tak bernafsu lagi, mereka bertiga menutup nya dengan begitu rapat dari orang lain, hanya kamu, Bil! Hanya kamu yang mampu membangkitkan gair*ah ku kembali," Faris melirih sambil matanya menatap ke depan.
"Iya, Mas! Aku ada di sini mendampingi mu, aku percaya padamu, aku tidak akan meninggalkan mu, terkecuali maut yang memisahkan kita." timpal Nabil sambil menangkup wajah Faris.
Pandangan kosong Faris kini beralih dan menatap Nabil "Apa kamu masih mau bersama ku meski kamu tau jika suamimu ini mantan pasien psikologi? Apa kamu menyesal karna menikah dengan lelaki tidak normal?" tanya Faris masih dengan nada lirih.
Mendengar itu reflek Nabil langsung menutup mulut Faris dengan tangan nya, sambil menggelengkan kepalanya. Setelah itu dia menggenggam tangan kekar sang suami.
"Aku tidak pernah menyesali menjadi istri mu, sejak kamu menjabat tangan Abi di hari kamu menghalalkan diriku, aku sudah berjanji menerima semua kekurangan dan kelebihan mu, tidak ada keraguan di hati ku, dan sekarang juga tidak ada rasa penyesalan sedikit pun, karna itu semua sudah Allah kehendaki. Bahkan aku merasa terlambat, harusnya dari dulu aku berada di sisimu, saat beban hidup menghancurkan mental mu." tukas Nabil dengan bersungguh-sungguh.
Hatinya begitu iba akan suaminya, ternyata di balik kesempurnaan yang terlihat, ada kesulitan yang dia lalui, di balik sikap tegas dan dingin Faris, ada sisi lemah dan rapuh yang hanya dirinya saja yang mengetahui.
"Terimakasih banyak, sayang! Aku sangat bersyukur di titipkan bidadari dengan hati baik seperti mu di sisiku, ternyata ujian yang aku lalui Allah balas dengan mengirimkan mu sebagai hadiah terindah ku." bisikan lembut itu menusuk dalam pendengaran Nabil, dia hanya tersenyum dan mencium punggung tangan Faris begitu lama.
Faris kembali menarik Nabil dalam dekapan nya, hanya pelukan hangat dari orang tercinta yang saat ini dia butuhkan, dia tidak ingin lagi masa itu terulang, sudah cukup berat perjuangan nya untuk sembuh dan menjadi orang terpandang seperti sekarang ini. Dia juga tidak ingin memikirkan masa lalu lagi, karna ada anak dan istri yang saat ini harus dia lindungi dan bahagiakan.
"Kamu tenang saja, sayang! Aku tidak akan melepaskan begitu saja orang yang telah berniat memisahkan kita." tukas Faris, matanya kembali menatap tajam ke depan dengan berapi-api. Kemarahan nya kembali bangkit saat mengingat Talia.
Nabil yang melihat nya saja menjadi merinding, akan tetapi dia mencoba untuk memberanikan diri, dia tidak ingin Faris melakukan hal yang sama lagi.
"Apa yang akan Mas lakukan?" tanya Nabil.
"Aku akan memberikan hukuman untuk orang yang berani menyinggung ku atau keluarga ku."
"Tidak, aku tidak setuju. Cukup pecat saja dia, jangan ulangi kesalahan Mas lagi!" sarkas Nabil, dia tidak ingin Faris berbuat nekad, meski dia tidak tau hukuman apa yang akan di terima Talia.
"Tidak, sayang! Pecat saja tidak akan cukup menyadarkan rubah seperti dia, lebih baik orang seperti dia hilang dari muka bumi ini." timpal Faris dengan penuh penekanan.
__ADS_1
Sontak Nabil langsung menggeleng "Nggak, aku tidak ingin suamiku menjadi seorang pembunuh, ingat, Mas! Ada anak dalam rahimku, jika kamu membunuh orang, aku takut mereka yang akan menerima akibatnya, apa Mas mau, saat mereka besar nanti tau jika Abi seorang pembunuh?" tanya Nabil sedikit meninggikan suaranya.
"Membunuh itu dosa besar, Mas! Biarkan Allah yang menghukum mereka." lanjut Nabil lagi.
Faris tidak tau harus berkata apa, dia memang ingin membunuh Talia, akan tetapi melihat sang istri mengiba pada dirinya juga membuat nya tidak tega.
"Baiklah, tapi aku tetap akan memberikan dia pelajaran." sungguh Faris tidak bisa menolak permintaan sang istri.
"Tapi berjanjilah, kamu tidak akan membunuh nya, jika kamu sampai membunuh orang, maka aku tidak akan memaafkan Mas lagi." imbuh Nabil penuh penekanan.
"Iya, sayang! Aku janji."
Cup...
"Ya sudah, kamu makan dulu ya. Aku sengaja memasak makanan kesukaan mu." ajak Nabil.
"Terimakasih sayang ku, kamu memang istri yang paling baik."
Saat menyantap makan siang mereka, tiba-tiba ponsel Faris bergetar, langsung saja dia mengangkat nya.
"Sayang, aku tinggal sebentar ya!" pinta Faris ingin menjauh saat berbicara dengan penelpon. Dan Nabil hanya mengangguk.
"Katakan!" seru Faris dengan nada dingin.
"Wanita itu sudah kami tahan, Tuan! Apa yang harus kami lakukan?" tanya si penelpon.
"Biarkan saja dia di sana, tunggu sampai aku datang, jangan lupa berikan makan untuk wanita itu."
"Baik, Tuan!"
"Ada lagi yang kau ingin sampai kan, Max?" tanya Faris lagi.
__ADS_1
"Ada, Tuan! Jono juga sudah di temukan oleh anak buah kita, dan sekarang mereka sedang menuju ke sini."
"Hem ... Tempatkan lelaki itu dengan ruangan terpisah dengan wanita yang kamu bawa, Max!" perintah Faris pada anak buahnya bernama Max.
"Baik, Tuan!"
Panggilan terputus, setelah memasukkan ponselnya dalam saku celana, Faris berbalik. Betapa terkejutnya dia melihat Nabil yang sudah berdiri tepat di belakang nya.
"Sa-sayang!"
"Siapa?"
Deg....
.
.
.
.
.
.
~Bersambung.
Aku mewek ini, ternyata babang Faris yang tampan punya kisah kelam.
Jangan lupa Like komen dan juga Vote kakak ku sayang.
__ADS_1
Bantu dukung juga dengan bintang dan hadiah sebanyak-banyak nya.