
Pagi hari yang cerah membuat suasana hati menjadi terang, terutama bagi pasangan suami istri yang baru saja berolah raga di ruangan gym. Karna Faris dan Nabil bangun saat solat subuh, jadi mereka memutuskan untuk berolahraga.
Butiran keringat sudah membasahi tubuh mereka, Nabil dengan begitu pengertian membawakan minuman untuk sang suami, tidak lupa pula handuk kecil untuk mengelap tubuh atletis sang suami.
"Terimakasih, sayang!" ujar Faris yang kini mengajak Nabil untuk duduk di atas bangku panjang yang tersedia.
"Sama-sama, Mas!" jawab Nabil tersenyum manis pada suaminya, matanya tidak lepas memandangi tubuh Faris yang tampak begitu menggoda, tubuh atletis dengan perut sixpack, dada yang liat, lengan yang kekar, di rambah keringat yang bercucuran, apalagi saat Faris meminum air dari botol yang tanpa sengaja mengalir keluar hingga ke leher nya. Apa lagi leher Faris yang masih banyak menyisakan bekas merah akibat ulah dirinya semalam. Seketika Nabil menelan ludah kasar melihat pemandangan tersebut.
"Kamu kenapa, sayang?" lamunan Nabil terbuyar saat mendengar pertanyaan sang suami, dia menjadi salah tingkah, karena diam-diam dirinya memperhatikan sang suami.
"Tidak apa-apa, Mas!"
"Apa kamu sedang mengagumi ketampanan dan tubuh ku, sayang?" goda Faris lagi.
"Apaan sih kamu, Mas! Jika sudah istirahat nya, ayo kita masuk ke dalam kamar, kita harus siap-siap ke kantor." elak Nabil.
Faris terdiam, sebenarnya dia tidak ingin mengajak istrinya karena Diki akan memberitahu tentang informasi yang sangat membuat nya penasaran. Dia tidak ingin istrinya ikut terbeban karna masalah yang dia alami.
"Sayang, hari ini lebih baik kamu tidak usah ke kantor, ya!" ucap Faris sambil mengelus kepala sang istri.
"Kenapa?" tanya Nabil dengan alis yang saling bertautan.
"Karna, Diki sudah menyelesaikan pekerjaan nya, jadi aku tidak sendirian lagi." jelas Faris lagi, seketika Nabil terdiam sebelum akhirnya dia kembali bersuara.
"Jadi, apa masalah nya? Bukan kah lebih bagus, berarti aku juga bisa tau kebenaran informasi nya." sarkas Nabil lagi.
"Lebih baik kamu istirahat saja di rumah, sayang! Aku tidak ingin kamu kecapean!" kata Faris lagi mencoba memberi Nabil pemahaman.
"Oh ... Begitu ya, Mas. Baiklah jika seperti itu!" ujar nya melirih.
"Apa kamu keberatan?" tanya Faris lagi.
Nabil mendongak, dia menatap pada suaminya, tentu saja dia ingin ikut, beberapa hari menemani sang suami ke kantor membuatnya terbiasa, apa lagi sekarang ini dia begitu sensitif, yang dia inginkan adalah selalu berada di dekat Faris.
"Jika kamu mengatakan aku tidak usah ke kantor, maka aku tidak akan ikut, Mas!" jawab Nabil meyakinkan, tidak lupa senyuman manis dia berikan untuk lelaki nya.
Dengan perasaan sedih Nabil bangkit, hendak melangkah keluar "Aku akan menyiapkan air mandi buat, Mas!" ucap Nabil lagi, akan tetapi saat melangkah, tubuhnya kembali terhuyung ke belakang, saat tangan kekar Faris menarik lengan nya hingga terduduk di atas paha sang suami.
"Apa kamu keberatan?" ulang Faris lagi bertanya.
__ADS_1
Nabil tersenyum dan menggeleng, akan tetapi air matanya seketika mengalir keluar.
Faris tersenyum, kemudian mencium kening Nabil yang berkeringat "Kamu tidak pandai berbohong, sayang!,"
"Sekarang kita siap-siap, karna kita akan berangkat bersama-sama ke kantor." ajak Faris kemudian.
"Tidak usah, Mas! Aku tidak apa-apa kok!" elak Nabil, dia juga tidak tau kenapa bisa seperti itu, sekarang dia menjadi wanita yang semakin cengeng jika bersangkutan dengan Faris.
"Sudah tidak apa-apa, aku tidak ingin membuat istri ku ini sedih, lagi pula aku juga tidak bisa berjauhan dengan mu." celetuk Faris lagi. Dia sungguh tidak tega melihat kesedihan di mata sang istri, lagi pula Nabil pun sudah tau apa permasalahan nya, tidak ada salahnya juga istri nya ikut, diapun juga sudah berjanji tidak akan menyembunyikan apapun dari belahan jiwanya itu.
Selesai bersiap-siap, Faris dan Nabil langsung berangkat ke kantor setelah sarapan.
"Sayang, bulan depan tepat tujuh bulan kehamilan kamu, katakan, apa kamu ingin acara yang seperti apa?" tanya Faris saat di dalam mobil, tangan kanan nya tidak pernah lepas merengkuh bahu Nabil dan sebelah tangan nya menggenggam erat tangan wanita nya.
"Tidak usah acara yang besar atau mewah, Mas! Aku hanya ingin acara sederhana. Nanti kita adakan pengajian, dan kita undang anak yatim untuk doa bersama, agar Allah melimpahkan Rahmat dan kesehatan untuk ke dua anak kita," jawab Nabil mengutarakan keinginannya.
Faris tersenyum dan mengangguk, tidak lupa juga mencium lama punggung tangan sang istri.
Sampai di kantor. Nabil, Faris dan Diki sama-sama turun dan berjalan masuk ke dalam gedung pencakar langit yang begitu kokoh, berlambang AB.
Tangan Faris begitu erat menggenggam pinggang Nabil, karna meski istrinya tengah hamil dan juga berpakaian tertutup, tetap saja membuat para lelaki tidak berkedip melihat bentuk badan Nabil, di tampah mata nya yang begitu memikat, bisa menarik hati siapa saja yang melihatnya.
"Sayang, tundukkan pandangan mu. Aku tidak ingin para lelaki di sini mengambil kesempatan untuk melihat mu." ujar Faris menyuruh Nabil agar berjalan secara menundukkan wajahnya.
Sebelum masuk dalam lift, Faris berhenti sejenak "Untuk para karyawan lelaki, jika kalian masih ingin bekerja di sini, maka jangan pernah menatap istri ku lagi!" tegas Faris, setelah itu dia langsung menarik tubuh sang istri masuk ke dalam kotak besi tersebut.
Membuat para karyawan terutama laki-laki saling tatap dan merasa merinding karna ketakutan, dalam diri mereka bahkan ada yang berjanji, jika mereka tidak akan mengagumi istri Presdir mereka itu lagi.
Faris dan Nabil sampai di dalam ruangan, mereka langsung duduk di sofa dengan Nabil duduk di sebelah Faris. Diki pun menyusul, dia duduk di sofa lain yang kosong.
"Katakan, Diki! Apa yang kamu dapatkan!" kata Faris, menyuruh Diki mengatakan apa yang dia dapatkan.
Tidak langsung menjawab, akan tetapi Diki mengeluarkan berkas dengan map kuning, lalu dia menyodorkan di hadapan Faris.
"Ini, semua identitas dan juga jawaban yang kau pertanyakan selama ini ada di dalam sini. Aku harap kamu tidak merasa terkejut dengan isinya." cecap Diki ambigu.
Faris melihat pada Nabil yang tampak mengkhawatirkan dirinya, terlihat dari cara wanita itu mengelus lengan nya semakin kasar. Tidak ingin membuat istri khawatir, Faris tersenyum sambil menggenggam balik tangan putih milik sang istri, sambil mengangguk kecil, menandakan jika dirinya tidak apa-apa.
Perlahan Faris mengambil map kuning tersebut, dengan sedikit ragu dia membacanya. Nabil juga ikut membaca, karna penasaran dengan isi berkas tersebut.
__ADS_1
Setelah beberapa saat membaca, tangan Faris yang seketika bergetar, terlihat dari berkas yang dia pegang terguncang hebat, pandangan nya tiba-tiba kabur. Kepalanya seketika berdenyut, saat melihat setiap kata yang tertulis di lembaran demi lembaran.
Nabil tampak panik, ketika melihat tubuh Faris yang juga sudah bergetar dan juga wajahnya yang sudah tampak pucat.
"Jangan di teruskan, Mas! Ini semua sudah tidak penting." tukas Nabil ingin menarik berkas dari tangan sang suami.
Akan tetapi Faris menepis tangan Nabil, dia tetap melanjutkan membaca setiap huruf yang semakin membuat dadanya sesak.
Nabil sudah sangat khawatir, air matanya tidak bisa dia tahan saat melihat sang suami begitu terpukul, terdengar nafas Faris yang begitu memburu, tubuhnya semakin bergetar, dengan wajah yang semakin pucat pasi.
"Mas, aku mohon jangan meneruskan nya lagi." sarkas Nabil sedikit berteriak pada saat merebut berkas itu lagi.
Akan tetapi lagi-lagi Faris menahan nya, tidak perduli air mata yang sudah menetes dan berjatuhan di atas kertas yang masih berada di tangan nya.
"Kak, bagaimana ini? Suruh dia berhenti, aku tidak ingin dia kenapa-kenapa," pinta Nabil pada Diki, setelah tau jika Faris pernah di rawat pada dokter psikologi, Nabil merasa takut jika mental suaminya kembali terguncang.
Diki juga tampak sangat khawatir, dia bangkit dan menarik paksa berkas di tangan bos nya itu hingga terlepas.
"Jangan paksakan dirimu, Faris!" tukas Diki juga sedikit meninggikan suaranya.
Tangan Faris masih sangat bergetar, tatapan matanya tampak kosong dia pun mulai meracau.
"Ti--tidak mungkin."
.
.
.
.
.
.
~Bersambung.
Eh ... Kenapa ya dengan Faris? Memang apa sih isi berkas tersebut? Penasaran kan kunya!.
__ADS_1
Jangan lupa Like komen dan juga Vote kakak ku sayang.
Bantu dukung juga dengan bintang dan hadiah sebanyak-banyak nya.