Istri Taruhan Kunci Surgaku

Istri Taruhan Kunci Surgaku
Lamaran di terima.


__ADS_3

Baiklah, tapi sebelum itu! Nak Faris bisa melihat wajah putri kami terlebih dahulu!"


Deggggg


Lagi-lagi jantung Nabil rasanya di pompa dengan begitu cepat. Bagaimana tidak, semenjak dirinya lulus SMP, Nabil sudah menutup wajahnya dengan niqab, tidak ada yang tau rupa Nabil selain kedua orangtua dan juga sahabatnya.


Begitupun dengan Faris, dia juga tampak terkejut. Ada rasa ragu didalam hatinya melihat wajah Nabil yang dia kira sangat buruk rupa.


Faris memutar kepalanya untuk mencari alasan agar tidak melihat wajah Nabil terlebih dahulu. Dia takut jika melihatnya sekarang, dia tidak akan jadi menikahi Nabil karna merasa ilfil dengan wajah jelek nya Nabil.


"Tidak perlu seperti itu, kalau memang mengharuskan melihat wajahnya, seolah saya ini tidak menerima ukhti Nabil apa adanya! karna saya mencintai nya bukan karna rupa!" tukas Faris menyangkal ucapan abi Zainal.


Mereka yang mendengar tercengang, ummi Fatimah merasa sangat bahagia, karna ada seorang pemuda yang sangat menyayangi anak satu-satunya itu.


"Tapi apa kamu sudah yakin, Nak?" tanya ummi, dalam rasa harunya dia ingin memastikan jika lelaki yang melamar anaknya itu benar-benar mencintai putri nya tercinta.


"Saya sangat yakin, Nyonya!" ucap Faris dengan begitu bersemangat.


Ummi dan abi Zainal langsung saling tatap. Setelah itupun abi nya Nabil kembali berbicara "Jika memang anda sudah yakin, dan putri kami sudah menerima nya, maka kami serahkan semuanya kepada anda, Tuan!" sarkas abi Zainal. Bukan nya gampang percaya, tapi memang ini yang di inginkan oleh abi Zainal. Ada seseorang yang langsung menkhitbah  dan mengajak sang putri ta'aruf, tanpa men jalani hubungan berpacaran sebelumnya.


"Baik, besok jam dua siang kami akan menikah, tidak perlu acara yang mewah. Saya yakin ukhti Nabil pasti tidak nyaman jika banyak orang!" timpal Faris beralasan, padahal alasannya karena tidak ingin kalau orang-orang akan tau, jika dirinya sudah menikah.


"Tapi Faris, Kakek mau mengadakan acara yang besar untuk pernikahan kamu!" protes kakek, sebagai seorang konglomerat, tentu dia ingin mengadakan pesta besar-besaran untuk cucu kesayangan nya.

__ADS_1


"Akan lama jika harus mengadakan pesta, Kek! Faris mau nya besok bisa menikah dengan nya!" tukas Faris, dia rela menahan rasa malunya, agar rencananya berhasil.


"Tapi, Nak! Kami sebagai orang tua Nabil, juga ingin mengadakan pesta untuk anak pertama dan terakhir kami!" ujar abi yang juga ikut protes atas keputusan Faris.


"Begini Abi, coba kita tanyakan sama Nabila dulu!" timpal ummi menengahi.


"Bagaimana, Nak! Apa kamu setuju menikah besok atau ingin mengadakan pesta?" lanjut ummi Fatimah yang kini bertanya kepada sang putri.


"Nabil ikut bagaimana perkataan kalian, Ummi!" jawab Nabil, dia memang bukan wanita yang tegas dan pandai mengambil keputusan, karna rasa patuhnya kepada kedua orangtuanya, Nabil menyerahkan semuanya kepada mereka.


"Begini saja, besok mereka menikah! Setelah itu mereka bisa melangsungkan acara!" semua mata tertuju kepada lelaki yang duduk di sebelah Faris, siapa lagi kalau bukan Diki. Ucapan Diki langsung mendapatkan anggukan dari Faris dan di setujui oleh kakek Dinata dan juga abi Zainal.


Sedangkan Nabil hanya bisa menahan rasa gugup dan suara jantung nya yang berpacu dengan begitu cepat.


"Baik, semuanya akan Kakek urus! acara akad nikah nya kami adakan!"


"Di sini!" belum selesai kakek berbicara, abi Zainal sudah memotong nya.


"Kami ingin pernikahan nya di adakan di sini saja! tapi, apa tidak terlalu cepat jika besok?" tanya abi nya Nabil.


"Tentu saja, tidak! Pukul dua siang besok acaranya sudah siap!" timpal Faris lagi.


"Iya, kakek akan menyiapkan semuanya. Jam delapan pagi Kakek akan suruh beberapa orang dari butik dan salon untuk merias calon cucu mantu ku ini!" tukas kakek dengan begitu bersemangat.

__ADS_1


Nabil hanya menunduk malu, jika bisa di lihat mungkin wajah cantiknya sudah merah bagaikan tomat matang.


"Kalau begitu kami permisi dulu!" pinta kakek.


Nabil menyalami tangan kakek Dinata, sedangkan dengan Faris dan Diki, dia hanya mengatupkan kedua tangan nya di depan dada.


Mereka pun pulang, ketiganya berjalan meninggalkan rumah Nabil, Faris tampak menyunggingkan senyumnya sinis pada sudut bibirnya. Akhirnya sebentar lagi dia sudah bebas, dari kepura-puraan dirinya bersikap baik dan juga sok alim.


"Akhirnya besok aku sudah tidak perlu lagi berpura-pura, dan kita lihat saja, kamu akan aku buat menderita!"


.


.


.


.


.


.


~Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2