Istri Taruhan Kunci Surgaku

Istri Taruhan Kunci Surgaku
Membawa pulang Nabil.


__ADS_3

Diki baru sampai di apartemen miliknya, pria bermuka kaku ini langsung memasukkan kode pada pintu apartemen nya, langsung saja kaki nya berjalan masuk saat pintu setengah kaca itu terbuka.


Sebelum masuk ke dalam kamar, Diki mendudukkan tubuhnya terlebih dahulu di sofa dalam ruangan tersebut, terlihat apartemen miliknya yang sangat rapi dan juga bersih, beberapa gambar klasik terpajang di dinding bernuansa putih.


Diki menjatuhkan kepalanya pada sandaran sofa, seraya memejamkan mata dan memijit pelipis dengan tangan nya.


Tiba-tiba bayangan Mira berlalu dalam pikiran nya, sudah beberapa hari ini Diki selalu dihantui oleh bayangan Mira yang tiba-tiba saja muncul, wajah Mira, tubuh wanita itu, hingga pikiran nya berkelana ntah kemana, akan tetapi dengan cepat dia membuang nya jauh-jauh pikiran yang mulai traveling tanpa arah itu.


Ternyata tidak hanya Diki, karna saat ini Mira juga sedang memikirkan lelaki yang beberapa waktu ini selalu bersama dengan nya, dia pun tidak tau kenapa beberapa hari bersama Diki membuat nya terus teringat akan sosok lelaki yang dingin, nyebelin, kaku, tapi juga sangat pengertian.


Mira ingat saat dia sedang memberi arahan dekorasi tempat yang akan mereka adakan acara, Diki dengan cekatan menarik lengan baju Mira saat seseorang membawa tangga hampir mengenai dirinya.


"Lain kali lebih hati-hati lagi!" hanya itu yang terucap dari mulut Diki, Mira tersenyum dan mengucapkan terimakasih, akan tetapi Diki sudah tidak menjawab apapun lagi.


"Ya Allah ... Ada apa dengan hamba, jangan biarkan hati hamba berbimbang dengan sesuatu yang tidak engkau ridhoi," lirih Mira mengadukan semua nya pada sang pencipta.


Dia tidak ingin berlarut-larut dalam perasaan nya yang dia sendiri belum tau kenapa bisa terus membayangkan Diki, sekuat tenaga Mira mencoba agar tidak mengingat lelaki yang menurut nya kaku dan nyebelin itu.


...****************...


Sedangkan di kediaman Bagaskara, dua sijoli yang sedang di mabuk cinta ini sedang asik bertukar saliva di balkon kamar, di temani oleh angin malam yang berhembus dingin menusuk tiap pori kulit yang merasakan nya.


Cukup lama Faris mencium bibir sang istri, hingga wanita yang tengah mengandung anaknya itu memukul dada bidangnya, menandakan dia sudah kehabisan nafas.


Faris yang mengerti pun langsung melepaskan penyatuan bibir mereka, dia tersenyum melihat sang istri yang tampak ngos-ngosan karna ulah nya.


"Apa Mas ingin membunuh ku?" tanya Nabil masih dengan nada ngos-ngosan nya.


Faria tersenyum menarik lembut hidung mancung sang istri, setelah itu menempelkan pada hidung nya yang juga tidak kalah mancung nya.


"Kamu adalah hidup ku, Bil! Bagaimana aku bisa melakukan itu, bahkan jika kamu sakit, aku pun merasakan hal yang sama," celetuk Faris, tangan besarnya membingkai waja sang istri.


"Maaf kan aku yang tidak menahan diri jika sudah bersama mu, kamu adalah candu bagi ku, maka dari itu kadang aku tidak bisa mengontrol diri ku." lanjut Faris lagi.


Cup!


Satu kecupan di berikan Nabil di bibir sang suami "Kenapa kamu jadi sangat banyak bicara, yang?" tanya Nabil memiringkan wajahnya, tangan nya sudah melingkar di leher sang suami.


"Kamu mulai berani ya sekarang," ejek Faris sambil mencolek hidung sang istri.

__ADS_1


Nabil yang malu pun langsung membenamkan wajahnya di dalam dada bidang sang suami.


Faris terkekeh melihat tingkah sang istri, memeluk erat tubuh wanita yang sedang berbadan dua itu. Dia sungguh tidak menyangka, wanita yang dulu dia benci kini menjadi seseorang yang sangat dia cintai.


Nabil membuka matanya, merasakan jika tangan sang suami sudah bergerak lincah, dari usapan lembut di punggung nya, perlahan berpindah pada dua dadanya, meremasnya pelan, hingga Nabil kembali memejamkan matanya.


"Ma-mas," lirih Nabil mencoba menahan suaranya.


"Jangan di tahan, sayang! Aku suka suara se*si mu itu." imbuh Faris yang terus mempermainkan aset berharga sang istri.


Akhirnya ******* lolos dari bibir ranum Nabil, dia tidak melawan, dengan suka rela menerima semua sentuhan yang di berikan sang suami.


"Kita lanjutkan di dalam!" ucap Faris dengan suara parau yang tertahan, matanya tampak sayu menatap wajah sang istri, sebelum membawa Nabil masuk ke dalam kamar, Faris langsung mencium kembali bibir Nabil yang sudah candu bagi dirinya itu.


Faris mengangkat tubuh sang istri tanpa melepaskan ciumannya, reflek Nabil pun langsung mengalungkan tangannya pada leher suaminya.


Bruk..


Faris melempar Nabil pada kasur empuk yang tak akan menyakiti istri dan juga calon anaknya, matanya menatap mesum pada Nabil, sambil tangannya melepaskan baju yang melekat di badan atletis nya.


"Jangan-jangan, ampun Tuan!" pinta Nabil sambil bergerak tak karuan di atas tempat tidur.


Faris terkekeh, dia langsung memegang paha sang istri supaya diam, tidak terus bergerak yang semakin membuat hasrat nya tak tertahankan.


"Kamu itu milik ku, mata, bibir, dan seluruh tubuh mu adalah milikku, takkan ku biarkan orang lain menempati tempat ku," celetuk Faris tegas, dia langsung membenamkan wajahnya pada leher jenjang Nabil, mencium sesekali menggigit, meninggalkan beberapa bekas cinta di sana.


"Katakan, sayang! Kalau kamu adalah milik ku," lirih Faris dengan suara parau.


Nabil memejamkan matanya merasakan sensasi yang begitu luar biasa.


"Katakan baby, jika seluruh tubuh mu adalah milikku!" ulang Faris lagi, dia meremas kuat dada Nabil karna tidak mendapatkan jawaban dari sang istri.


"Iya, Mas! Aku adalah milik mu, tidak ada yang berhak selain dirimu, kamu yang berhak atas ku segalanya." jawab Nabil membuat Faris menyunggingkan senyuman puas nya.


Tanpa menunggu lama lagi, Faris langsung melaksanakan kewajiban nya sebagai suami, membawa sang istri menuju keni*matan yang tiada tara, suara merdu saling beradu dalam kamar super luas tersebut, hanya dinding lah yang menjadi saksi bisu di saat mereka sama-sama mengutarakan cinta.


...****************...


Malam berlalu, pagi tiba dengan begitu cerah nya, sama seperti hati Nabil yang begitu terasa bahagia pagi ini.

__ADS_1


"Mas, hati-hati ya! Jangan pulang telat ya, nanti aku marah!" ujar Nabil pada sang suami saat mencium punggung tangan Faris di depan pintu utama, karna Faris hendak berangkat bekerja.


"Iya, sayang! Aku tidak akan pulang terlambat, aku juga ingin cepat-cepat menemui istri dan juga calon anak ku," jawab Faris sambil menarik hidung Nabil dari luar niqab yang di pakai sang istri.


"By the way, aku sangat suka gaya liar mu semalam, sayang." lanjut Faris berbisik di telinga Nabil, membuat wajah sang istri memerah bak kepiting rebus.


"Oh iya, Mas mau segera berangkat kan, hati-hati ya! Kak Diki jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya!" celetuk Nabil dengan cepat, agar Faris segera berangkat dan tidak menggoda dirinya lagi.


"Kau mengusir ku? Awas saja kau akan ku beri hukuman nanti,"


"Sayang, Abi berangkat dulu ya, jaga Ummi di sini, nanti Abi akan menjenguk kalian lagi, sebagai hukuman juga buat Ummi." setelah mengelus perut sang istri, Faris langsung melangkah masuk ke dalam mobil yang sudah di bukakan pintu oleh Diki.


Nabil tersenyum menatap mobil Faris yang sudah berlalu dari hadapan nya, saat hendak masuk ke dalam rumah, Nabil menghentikan langkahnya ketika melihat mobil lain yang memasuki pekarangan rumah nya.


Dahinya berkerut, wanita tengah hamil ini memperhatikan mobil tersebut "Itu bukan kah mobil Abi, ya!" gumam Nabil menduga.


Dan ternyata memang benar, abi Zainal turun dari mobil dan melangkah mendekati dirinya.


Senyuman bahagia pun terukir di bibir Nabil, dia langsung berlari dalam pelukan abi yang sangat dia rindukan itu.


"Abi kenapa nggak bilang kalau mau datang ke sini? Ummi mana?" tanya Nabil yang tidak melihat keberadaan wanita yang juga begitu dia rindui.


"Ummi tidak ikut, Abi datang ke sini untuk membawa mu pulang."


Degg...


.


.


.


.


.


~Bersambung.


Loh loh loh, kenapa di bawa pulang tuh Nabil?

__ADS_1


Jangan lupa Like komen dan juga Vote ya kakak ku sayang.


Bantu dukung juga dengan bintang dan juga hadiah sebanyak-banyak nya.


__ADS_2