
Selesai rapat Faris langsung kembali ke dalam ruangan nya, begitu pun dengan, Diki. Faris langsung mendudukkan tubuhnya di atas kursi kebesaran nya.
Setelah selesai memeriksa beberapa berkas yang berada di atas mejanya, tiba-tiba seseorang masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, membuat Faris mendongak untuk melihat.
Mata Faris seketika membulat ketika melihat Talia yang sedang berjalan ke arahnya dengan rok sepaha yang sangat ketat, di tambah belahan dada yang sudah jelas terlihat karna kancing baju wanita itu sudah di buka.
"Apa kamu tidak tau tata keramat, hingga masuk ke dalam ruangan orang tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, dan kenapa kamu harus berpakaian seperti itu? Ini kantor bukan tempat pamer tubuh mu." hardik Faris tidak suka dengan tingkah Talia.
Talia tidak menjawab, dengan melangkah begitu tergesa-gesa dia langsung berdiri di depan Faris dan mengeluarkan desah*n yang keras.
Faris ingin mendorong Talia, tapi Nabil terlebih dahulu datang dan mengira jika mereka tengah bermesraan.
"Bisa kamu lihat, sayang! Aku sama sekali tidak melakukan apapun dengan wanita itu!" jelas Faris, setelah selesai mandi dan mengganti pakaian dan kembali duduk di sebelah Nabil, meski istrinya masih terlihat kecewa dan menghindari dirinya.
Tiba-tiba layar persegi di belakang Nabil berbunyi, pada saat Nabil membalikkan tubuhnya, di layar besar itu sedang memperlihatkan Talia yang berinisiatif menggoda Faris.
Tidak ada cara lain, Faris menunjukkan pada sang istri rekaman CCTV yang sengaja dia meminta pada Diki untuk mengambil nya.
"Kenapa kamu malah membiarkan dia duduk di depan mu? Kamu menikmati dadanya, Mas?" tanya Nabil masih tidak rela suaminya melihat dada perempuan lain.
"Astaghfirullah, sayang! Baru aku mau menyingkirkan dia dari hadapan ku, tapi kamu sudah dulu melihat nya, kan di sini kamu bisa melihat sendiri jika kamu datang memang berbarengan dia masuk." jelas Faris lagi, dia sedikit bingung membuat sang istri agar percaya pada dirinya.
"Oke, kita lihat dia dari luar ruangan ku, apa dia memang sengaja menunggu kedatangan mu, atau memang kebetulan," Faris langsung memutar rekaman CCTV mulai dari ruangan nya sendiri, hingga di depan ruangan Faris.
Terlihat jika Talia ceilngak-celinguk melihat ke arah luar, saat melihat Nabil memasuki loby, wanita berpakaian sek-si ini langsung masuk ke dalam lift.
__ADS_1
Beberapa saat, Talia keluar dari lift khusus karyawan langsung melangkah masuk ke dalam ruangan Faris, tak berselang lama, Nabil pun juga ikut keluar dari dalam lift saat pintu ruangan Faris baru di tutup oleh Talia.
"Kamu lihat kan sayang, dia memang sengaja membuat kamu salah paham." ujar Faris begitu geram melihat apa yang di lakukan Talia.
Nabil merasa sedikit lega, berarti suaminya memang tidak berniat mengkhianati dirinya.
Faris menggenggam kedua tangan Nabil, menarik tubuh sang istri agar menghadap ke arahnya.
"Sayang! Dengar kan aku. Cinta dan sayang ku hanya untuk mu, tidak ada wanita lain yang mampu menggetarkan hati ku, kamu jiwaku, kamu hidup ki, seluruh hatiku sudah ku serahkan pada mu, bagaimana bisa aku mengkhianati mu, jika kamu sakit, aku juga merasakan nya, bahkan jika aku melihat satu tetes saja air mata yang keluar dari mata mu, rasanya dadaku yang sesak. Ku mohon percaya lah, aku sungguh sangat mencintai mu, dan aku berjanji untuk setia padamu, meski nanti kita sudah di pisahkan oleh maut." Nabil berkaca-kaca mendengar semua penuturan sang suami, dia menatap dalam kedua netra sang suami, mencari kebohongan, akan tetapi yang dia dapatkan hanya kejujuran dan kesungguhan membuat Nabil terharu.
Detik itupun Nabil langsung masuk ke dalam dekapan Faris, menyalurkan rasa kegelisahan dan marah yang sempat dia rasakan.
"Aku hanya tidak ingin Mas mengkhianati ku, bukan berarti aku tidak membenarkan poligami, akan tetapi aku sungguh tidak sanggup, aku bukan wanita yang kuat dalam hal itu," jelas Nabil dengan isak tangis nya dalam dada bidang lelaki nya.
Faris menengadahkan kepalanya sebelum akhirnya mendarat kan ciuman di atas puncak kepala sang istri.
"Perlu kamu tahu, adik kecilku hanya bereaksi jika dengan mu, kamu telah menjadikan aku lelaki normal, sudah dua puluh tahun lebih aku tidak melihat nya terbangun, akan tetapi setelah aku menikah dengan mu, dia langsung bereaksi jika dekat dengan mu, dan kau berhasil membangunkan nya dan hingga aku berhasil menanam benih cinta dalam rahimmu ini," ungkap Faris, tangan nya kini beralih mengelus perut Nabil.
Mendengar itu, tentu saja membuat Nabil kaget dan tidak mengerti dengan apa yang di maksud oleh suaminya itu, Nabil sontak mengangkat kepalanya melihat wajah Faris.
"Ma-maksud nya?" tanya Nabil terbata-bata.
Faris menghapus air mata di pipi sang istri, dan kembali membawa Nabil dalam dekapan nya.
"Dulu setelah orang jahat itu membunuh Mama dan Papa tepat di hadapan ku, mereka tidak membunuh ku, akan tetapi aku di masukkan ke dalam sebuah kamar, dimana ada dua perempuan tel*njang di sana, mereka mendekati ku ingin membuat tak senonoh padaku, sedang waktu itu aku masih berumur 7 tahun, aku belum mengerti apa yang akan mereka lakukan, aku ketakutan dan merasa geli saat mereka meraba seluruh tubuh ku, aku menangis dengan begitu kuat sambil memohon para wanita itu berhenti menyentuh ku, tapi mereka makin nekat, ingin membuka baju ku," Faris menghentikan ucapannya, menarik nafas agar dada nya tidak terlalu sesak. Nabil masih diam dan menyimak semua yang dikatakan oleh suaminya.
__ADS_1
"Tanpa sengaja aku melihat pisau buah di meja dekat ku berdiri, sambil terus meronta-ronta aku mengambil pisau tersebut, langsung ku tusuk di dada wanita yang berada di depan ku, mendengar teriakan nya, wanita yang berada di belakang ku terkejut dan ketakutan saat melihat temannya sudah berdarah, diapun langsung melepaskan ku dan melihat temannya itu. Sedangkan aku yang menusuk wanita itu gemeteran, aku takut karna ku kira sudah membunuh orang, akan tetapi aku tetap menggunakan kesempatan itu untuk keluar dari kamar terkutuk itu,"
Nabil melihat jika tubuh Faris mulai bergetar lagi, dan keringat dingin terlihat keluar dari dari sang suami, dia langsung memeluk erat dan mengelus punggung sang suami.
"Jangan di teruskan lagi jika Mas tidak sanggup." bisik Nabil di telinga sang suami, mencoba menenangkan Faris.
Sementara Faris sendiri masih belum mau berhenti berbicara.
"Setelah itu aku menjadi tertekan, rasa takut, dan juga trauma yang sangat berlebihan hingga aku harus rutin menemui dokter psikologi, untuk memulihkan mental ku dari rasa takut dan trauma mendalam"
.
.
.
.
.
~Bersambung.
Kasian juga kamu Faris, aku jadi sedih ini!
Jangan lupa Like komen dan juga Vote kakak ku sayang.
__ADS_1
Bantu dukung juga dengan bintang dan hadiah sebanyak-banyak nya.