Istri Taruhan Kunci Surgaku

Istri Taruhan Kunci Surgaku
Menjadi pendamping hidup mu.


__ADS_3

Tanpa sengaja Mira yang ingin duduk, kakinya malah tersandung dengan kaki kursi, hingga dia terlungkup di atas meja.


Diki yang melihat wanitanya terjatuh di atas meja pun langsung panik, dia bangun kembali dan menarik baju Mira.


"Kamu tidak apa-apa, kucing liar?" tanya Diki, dia pun membantu Mira untuk duduk.


"Lepaskan, saya tidak apa-apa." jawab Mira ketus, sungguh wajah nya sudah merona menahan malu, bisa-bisa nya dia terjatuh di atas meja tepat di hadapan Diki lagi. Pikir Mira.


"Makanya kamu jangan marah-marah terus, ini teguran buat kamu, kalau cewek harus kalem dan lembut." tukas Diki menasehati.


"Coba saja anda tidak membuat saya marah, pasti saya tidak akan marah, lah ini cuek, kaku, dingin, nyebelin lagi." sahut Mira di dalam hati.


Diki kembali duduk di tempatnya, tak lama setelah itu, pelayan datang membawakan beberapa hidangan makanan untuk mereke. Mira sampai membulatkan matanya melihat betapa banyak nya makanan yang di antar oleh para pelayan, bahkan tanpa di pesan terlebih dahulu.


Pandangan Mira beralih pada Diki, membuat lelaki itu mengerutkan keningnya "Kenapa menatap ku seperti itu? Makan lah!"


"Kenapa begitu banyak makanan yang datang tanpa di pesan dulu? Dan kenapa kita harus duduk di ruangan yang hanya kita berdua yang berada di sini?" tanya Mira menyelidik.


"Karna aku bisa," jawab Diki santai.


"Mau terus berpikir atau mau mengisi perut mu yang sedari tadi bunyi?" tanya Diki yang melihat Mira belum memakan makanannya, malah masih menatap Diki dengan begitu intens.


"Tenang saja, aku tidak akan macam-macam, aku bukan lelaki seperti itu." lanjut Diki lagi dengan begitu yakin, dia langsung mengambil sendok dan garpu berniat untuk makan.


Mendengar itu, Mira pun menarik nafas panjang, dan juga mulai memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


"Apa kamu nyaman makan seperti itu?" tanya Diki tiba-tiba memperhatikan cara makan Mira.


Alis Mira bertaut "Kenapa dengan ku?" tanya nya tidak paham.


"Karna kamu makan masih menggunakan penutup wajah. Apa kamu tidak kepayahan? Kenapa tidak kamu buka saja, toh tidak ada orang lain di sini!" seru Diki berceloteh panjang lebar.


"Jadi anda bukan orang?"


"Apa maksudmu?"


"Kata anda tadi di sini tidak ada orang, dan saya bisa membuka niqab saya, jadi anda bukan orang?" tanya Mira membuat Diki bungkam.

__ADS_1


"Maksudnya selain aku kan tidak ada orang lagi, lagian aku juga sudah melihat wajah mu itu." sergah Diki cepat.


Mira tampak begitu marah mendengar ucapan Diki "Anda pikir waktu itu saya sengaja memperlihatkan wajah saya pada anda, itu karna anda masuk tanpa salam ke kamar orang. Dan sekarang anda malah menyuruh saya membuka penutup wajah saya, sedangkan saya tengah berhadapan dengan lelaki yang bukan mahram saya?" tanya Mira berapi-api.


"Karna itu beritahu saya bagaimana caranya agar saya bisa melihat wajah mu itu? Beritahu caranya agar hanya saya yang bisa membuka dan menutup wajah mu, dan beritahu juga caranya supaya sayalah orang yang pertama dan terakhir yang bisa melihat wajah mu itu." ucap Diki tidak kalah lantangnya.


Deg....


Jantung Mira berdegup tak karuan mendengar pengakuan Diki, diam seketika dengan pikiran yang tidak menentu.


"A--apa maksud anda?" tanya Mira dengan suara sedikit bergetar.


"Habiskan dulu makanan mu!" alih menjawab, Diki malah semakin membuat Mira salah tingkah.


Mira benar-benar tidak menyahuti apapun lagi, penuturan Diki sudah sangat membuatnya penasaran, pasalnya lelaki itu tampak begitu serius mengatakan hal tersebut. Tapi dia tidak berani bertanya lagi, hingga mereka selesai makan dan Diki kembali bersuara.


"Dengar, Mira! Saya bukan lah orang yang pandai dalam berkata-kata, saya hanya ingin mengatakan jika selama ini..." Diki memejamkan matanya sebelum meneruskan ucapan selanjutnya.


"Selama ini saya selalu kepikiran kamu, saya tidak tau itu perasaan apa, tapi hati saya mengatakan jika saya harus mengungkapkan ini padamu. Saya tidak tau sejak kapan rasa ini bersemayam di diri saya, yang jelas setelah saya mengenal mu, saya tidak rela jika kamu di miliki oleh orang lain, saya tidak mau jika kamu di lirik oleh pria lain. Aku juga marah saat kamu tidak menjawab atau membalas pesan ku. Dan sejak aku melihat wajah mu, aku hanya ingin aku lah pemilik nya, aku lah yang akan menjaga wajah mu itu dari pria lain, aku lah lelaki yang bisa selalu menatap mu,"


Sedangkan Mira bungkam seribu bahasa, mendadak wajah nya kembali merona dan terasa panas, jantung nya pun terasa di pompa dengan begitu cepat.


"A--apa anda serius?" tanya Mira memastikan.


Diki mengangguk "Saya tidak pernah main-main dengan ucapan saya, karna seorang lelaki yang di pegang adalah kata-kata nya,"


"Apa kamu pikir saya akan membiarkan wanita yang sudah saya lihat wajah yang selama ini dia tutup bersama pria lain? Apa kamu pikir saya akan membiarkan kamu di miliki oleh orang lain setelah kamu berhasil membuat ku gelisah dan terus memikirkan mu? Tidak semudah itu, Nona Mira!" sergah Diki, Mira hanya terbelalak tak percaya dengan apa yang di ucapkan Diki.


"Apa anda mencintai saya?" pertanyaan bodoh yang tanpa sengaja terucap dari mulut Mira, seketika dia menutup mulut dengan tangan nya.


"Duh ... Kenapa mulutku seperti ini, nanti dia malah mengira jika aku mengharapkan dia mengatakan cinta padaku." batin Mira menjerit keras.


Diki hanya mengangkat kedua bahunya dan menyandarkan punggungnya pada kursi.


"Mungkin saja iya, karna saya selalu memikirkan mu selama ini, selalu gelisah jika kamu mengabaikan ku, aku selalu ingin melihat marah mu, tawamu, sifat cerewet mu, yang jelas saya ingin semua yang ada di diri kamu menjadi milik saya,"


"Apa? Mungkin dia bilang. Sungguh lelaki tidak romantis." lagi-lagi Mira hanya membatin, tapi tidak bisa di pungkiri, jika dirinya sudah sangat tersipu malu dengan apa yang di ucapkan Diki.

__ADS_1


"Tapi selama ini saya lihat anda biasa saja terhadap saya, anda hanya bersikap kaku, cuek dan dingin. Rasanya saya tidak yakin dengan apa yang ada ucapkan Tuan!" tukas Mira mengatakan apa yang menjadi asumsi nya.


"Karna saya masih belum yakin dengan perasaan saya, terlebih karna mau selalu marah jika dekat dengan saya, sebisa mungkin saya menyembunyikan perasaan saya selama ini."


Mira begitu tertegun mendengar penuturan Diki.


"Astaghfirullah ... Ya Allah, ada apa dengan hamba, mengapa begitu senang mendengar ucapan lelaki ini. Rasanya penantian ku sudah selesai." batin Mira, sebenarnya selama ini Mira juga sering memikirkan Diki, akan tetapi mengingat lelaki itu begitu dingin terhadap dirinya, Mira berusaha membuang pikiran nya, dan bersikap seolah-olah dia begitu membenci Diki.


Diki kembali mencondongkan tubuhnya, rasanya dia ingin memegang tangan Mira, tapi dia tidak ingin membuat wanita nya itu marah.


"Dengar, Mira. Saya memang bukan seperti lelaki yang kamu inginkan, saya juga tidak sehebat mantan tunangan mu itu, tapi sebisa mungkin saya akan menjadi orang yang berguna untuk mu, yang selalu membahagiakan mu, membuat mu tersenyum. Izinkan saya menjadi mahram mu, menjadi pendamping hidupmu!" pinta Diki.


Dalam seketika tubuh Mira bergetar, tidak tau harus menanggapi seperti apa.


"Apa kamu mau menerima jika aku yang menjadi pendamping hidup mu, apa kamu mau mengajarkan lelaki ini menjadi lebih baik lagi?"


.


.


.


.


.


.


.


~Bersambung.


What, Diki ngelamar Mira? Tapi kok nggak ada manis-manis nya ya? Kira-kira di terima nggak ya.


Jangan lupa Like komen dan juga Vote kakak ku sayang.


Bantu dukung juga dengan bintang dan hadiah sebanyak-banyak nya.

__ADS_1


__ADS_2