
Di dalam sebuah ruangan kantor, terlihat seorang perempuan muda juga sangat cantik sedang duduk di atas kursi, tangan nya sibuk menggeserkan data ke sana ke mari menggunakan kedua tangan nya, yang berada di atas layar persegi berukuran sedang.
Wanita itu yang tak lain adalah Talia benar-benar sangat bekerja keras untuk menyelesaikan rancangan yang di berikan oleh Faris, meski sudah beberapa kali gagal. Sama sekali tidak menyurutkan semangat Talia, dia ingin segera menyelesaikan tugasnya, agar dia bisa cepat mendekati Faris.
Dan ternyata usahanya tidak sia-sia, karna ponsel yang dia rancang sudah selesai 90%, senyuman bahagia terukir di kedua sudut bibir merah nya.
"Akhirnya sebentar lagi aku akan bisa mendekati mu! Sungguh, aku tidak bisa lebih lama lagi memendam perasaan ku padamu!" gumam Talia sendiri, punggung nya dia jatuhkan pada sandaran kursi.
"Setelah aku berhasil mendapatkan hati mu, itu artinya aku akan menjadi nona besar Adinata Bagaskara. Oh ... Sungguh aku sudah sangat tidak tidak sabar saat-saat itu terjadi!" lanjut nya lagi. Kemudian dia pun kembali sibuk dengan benda di hadapannya.
Di mansion Bagaskara, Nabil juga tengah berusaha sebisa mungkin untuk membuat kan sesuatu untuk sang suami, ya tentu di bantu oleh bi Mila dan beberapa maid yang lain.
Mulanya bi Mila sempat melongo saat Nabil meminta di ajarkan cara membuat kue, terlebih saat mengetahui jika kue tersebut untuk Faris. Karna seingat bi Mila tuan muda nya itu tidak pernah meminta makanan apapun, karna memang Faris tidak suka dengan kue.
Tapi demi menghormati Nabil, bi Mila pun menyetujui nya.
Ada tiga jenis kue yang di buat kan mereka, yang bahannya semua dari tepung, telur, gula. Setelah menunggu beberapa saat, kini Nabil sedang membawa nampan yang berisi beberapa cakeĀ dan kopi ke dalam kamar.
__ADS_1
Ceklek...
Saat pintu kamar di buka, terlihat lah seorang insan sedang berdiri di depan jendela, sambil memejamkan mata. Sesaat Nabil terpukau dengan pemandangan di hadapannya, Nabil mungkin memang sudah jatuh cinta kepada sosok Faris.
"Mas, ini kue dan juga kopi nya!" ucap Nabil sambil meletakkan nampan di sisi nya.
Faris yang mendengar nya pun mengalihkan pandangannya, dia melihat jika Nabil sedang membuka niqab nya yang tadi dia pakek saat ke dapur.
Jantung nya kembali berdetak tak karuan, Faris pun tidak tau kenapa hal itu bisa terjadi, padahal dia membenci Nabil karna menurut nya wanita yang menjadi istrinya itu sok alim. Dan yang paling membuat nya tidak suka saat Nabil melantunkan ayat suci Al-Quran, karna menurutnya, itu sangat mengganggu dan juga membuat dirinya terasa panas.
"Maaf, Mas!" hanya itu yang dapat Nabil utarakan, dia menahan rasa sakit karna melihat perubahan sikap Faris yang semakin kasar.
"Ck" Faris hanya berdecih, kemudian melangkah dan duduk pada kursi yang ada meja bulat, tempat dirinya sarapan tiap hari.
Perlahan tangan Faris terulur mengambil kue sedang di hadapannya, kemudian. Rasa sakit Nabil kini berganti dengan rasa takut. Takut jika sang suami tidak menyukai nya.
Dan benar saja, baru juga Faris menyicipi nya, dia langsung mengeluarkan nya kembali, Faris tampak tidak senang, Nabil dapat melihat sorot mata tajam Faris menatap tajam ke arahnya.
__ADS_1
Sambil bangun Faris mengumpat dan melemparkan kue tepat pada wajah Nabil.
"Apa-apaan ini, hah! Kamu mau meracuni ku dengan rasa makanan seperti ini?" bentak Faris, dia benar-benar sangat marah.
Sedangkan Nabil yang sudah terlanjur sakit, kini tidak dapat lagi membendung air matanya, cairan bening itu keluar dengan sendirinya saat kue yang dia buat dengan susah payah tepat terkena pada wajah nya.
"Maaf, Mas! Tapi saya baru belajar!"
.
.
.
.
~Bersambung.
__ADS_1