
Rombongan keluarga mempelai wanita sudah berangkat dari mansion ke hotel tempat di adakan resepsi pernikahan. Begitupun keluarga mempelai lelaki yang juga baru saja meninggalkan mansion Bagaskara menuju ke tempat di langsungkan acara.
Nabil dan Faris satu mobil, Diki, Kakek ummi dan abi pun satu mobil, sementara Putra dan Heri juga berangkat dengan mobil terpisah, dan di belakangnya di susul tiga mobil para pengawal Faris.
Enam mobil sudah melaju membelah jalan raya, bergabung dengan pengendara lainnya agar mereka sampai pada tempat ijab kabul Diki dan Mira.
...****************...
Sampai di hotel, Diki langsung keluar di dampingi oleh keluarga dan sahabatnya, dengan begitu gagah asisten Faris itu melangkah masuk ke dalam.
Dari luar hotel sudah di hiasi dengan bunga, dan papan bunga sudah berjejer di pinggir jalan. Sudah ada penjagaan ketat yang sengaja Faris sediakan agar orang-orang yang tidak ada dalam daftar tamu undangan tidak sembarang masuk, itu Faris lakukan demi kelancaran acara Diki.
Saat memasuki aula pernikahan, seluruh kamera di sorot pada Diki, sama seperti resepsi Faris, pernikahan Diki juga di adakan begitu mewah, para reporter dan wartawan dari berbagai stasiun televisi di undang Faris untuk men-siaran langsung kan acara bahagia asisten nya itu.
Diki berjalan di depan, dengan kakek di belakang bersama Putra dan Heri, di belakangnya Faris yang menggandeng tangan sang istri dengan begitu posesif, di sebelah mereka ada Abi dan Ummi yang juga berjalan secara gandengan.
Sementara Mira yang sudah sampai duluan kini duduk di kursi terdepan yang sudah di siapkan untuk para wanita. Pipi Mira tampak merona dari balik cadar yang dia gunakan, saat melihat betapa gagah nya calon suaminya, entah karna semakin cinta, Mira semakin hari semakin merasa jika Diki semakin tampan dan mempesona.
"Astaghfirullah, apa yang kamu pikirkan, Mira! Dia belum jadi suamimu," gerutu Mira dalam hati, dia kembali melihat Diki yang sudah duduk di hadapannya di barisan kaum lelaki.
Diki tersenyum melihat Mira yang juga terlihat sangat cantik, bahkan calon istrinya itu tambah cantik berkali-kali lipat, saat Mira juha melihat ke arahnya, dengan genit Diki langsung mengedipkan mata nya sebelah, membuat Mira kembali menunduk karna malu.
"Ssittt ... Jangan bertingkah seperti itu, sayang, aku jadi tidak tahan melihat mu, ingin rasanya segera ku tarik kamu masuk ke dalam kamar," batin Diki sambil menggigit bibir bawahnya karna merasa gemas dengan tingkah malu-malu Mira.
Beberapa hari tidak melihat kekasih hatinya, Diki semakin tidak sabar untuk menghalalkan Mira dan mengurung nya di bawah Kungkungan nya.
"Hais ... Pikiran ku kenapa jadi liar seperti ini," lanjut Diki membatin.
Semua undangan juga sudah berdatangan dan memenuhi kursi yang telah di sediakan.
Acara di mulai, MC langsung menyuruh Diki untuk duduk di depan penghulu yang sudah ada ayah nya Mira sebagai wali untuk menikahkan putrinya.
__ADS_1
Diki berdiri dengan gagah, kemudian dia berjalan dengan di dampingi oleh Faris, mereka berdua begitu percaya diri saat melewati semua tatapan takjub dari kaum wanita maupun sebagian dari kaum lelaki.
Diki duduk di hadapan calon ayah mertua nya, sebelum kembali Faris menepuk pundak Diki sambil berbisik.
"Jangan takut dan grogi, tunjukkan kejantanan, mu!" setelah berucap seperti itu yang hanya bisa di dengar oleh Diki, Faris kembali duduk di tempatnya.
Acara di buka dengan pembacaan Al-Qur'an, setelah itu beristighfar dan mengucapkan dua kalimat syahadat, setelah semua nya sudah di ucapkan, baru lah Ayah Mira menggantung kan tangan kanan nya di hadapan Diki, dan dengan begitu yakin Diki menggenggam tangan lelaki di hadapannya.
Semua tamu maupun keluarga kedua mempelai diam saat menyaksikan dan mendengar ijab kabul pernikahan yang di harapkan oleh semua manusia. Hingga keheningan bertahan sampai kata Sah terdengar di gendang telinga mereka dan kata Alhamdulillah menggema dalam ruangan tersebut.
Mira yang mendengar ijab Kabul antara Diki dan juga ayah nya sampai menitikkan air mata saat kata sah tersebut sampai di telinga nya, bukan air mata kesedihan melainkan kebahagiaan. Akhirnya ada juga lelaki yang benar-benar mencintai dirinya.
Mira mendongak saat nama nya di panggil oleh MC untuk duduk di sebelah Diki yang sekarang sudah menjadi suami nya.
Mira bangun, dia di dampingi oleh Nabil dan juga sang bunda untuk melangkah dan duduk di samping Diki.
Penghulu langsung menyuruh Diki memakaikan cincin di jari manis Mira, dan juga menyuruh Mira untuk mencium punggung tangan Diki, bergantian dengan Diki yang mencium kening wanita yang beberapa detik tadi sudah menjadi istri nya.
Dengan tangan sedikit gemeteran, Mira menyalami Diki, berbeda dengan Diki, asisten Faris ini tanpa ragu mencium kening Mira, bahkan dia mencium dengan waktu lumayan lama.
Sedari tadi wajahnya tampak lesu dan sedih, terlebih saat melihat Mira yang begitu cantik dengan balutan gaun pengantinnya yang melekat di tubuhnya.
Dia adalah, Amir. Orang tua Mira mengundang kedua orang tua Amir untuk hadir, dan mereka juga mengajak Amir untuk menghadiri acara pernikahan mantan tunangan nya itu.
Amir merasa menyesal sudah mau menghadiri acara tersebut, karna itu semakin membuat nya sakit dan merana.
Ketika Diki menjawab ijab kabul pernikahan dengan begitu lantang, ingin rasanya Amir meneriaki bahwa yang seharusnya yang berada di sana itu dia, bukan Diki. Akan tetapi nasi sudah menjadi bubur, semua karna kesalahan nya yang egois dan tidak menghiraukan perasaan Mira.
Kedua orang tua Amir yang saling melirik saat melihat raut wajah putranya yang tampak sedih, meski semoga kecewa karna Amir memutuskan Mira, akan tetapi sebagai orang tua lebih sedih jika melihat anak nya seperti itu.
"Sudah, jangan kamu pikirkan lagi, kalian memang tidak berjodoh, ikhlaskan dia yang sudah bahagia bersama pilihan nya sendiri," nasehat Mama nya Amir sambil mengelus lengan putra nya.
__ADS_1
Amir hanya mengangguk dan mencoba tersenyum simpul, meski hatinya masih susah untuk merelakan wanita yang di cintai nya sudah menjadi istri orang lain.
Sementara kedua mempelai saat ini tengah mengadakan sesi foto bersama, baik itu berdua ataupun bersama keluarga.
Mira masih canggung saat Diki merangkul pinggang dan menggenggam erat tangan nya, sama seperti Nabil, Mira juga ini kali pertama berinteraksi dan bersentuhan dengan seorang lelaki.
"Kamu kenapa, Mira? Kelihatannya kamu sangat gelisah?" tanya Diki yang melihat sang istri berdiri tak karuan"
"Aku hanya masih merasa canggung dengan saat kamu memelukku, karna jujur ini yang pertama bagiku," bisik Mira sambil melihat ke depan untuk di foto.
"Tenang, sayang! Sebentar lagi aku akan membuat mu terbiasa,"
Blus...
.
.
.
.
.
.
~Bersambung.
...Ayo para emak hadiri pesta perkawinan Diki dan Mira, jangan bilang aku nggak undang ya, aku sudah undang dari bab sebelumnya, hehehe....
...Jangan lupa Like komen dan juga Vote kakak ku sayang....
__ADS_1
...Kirimkan dukungan untuk karya ku ini....
... ...