Istri Taruhan Kunci Surgaku

Istri Taruhan Kunci Surgaku
Anak dan Ayah.


__ADS_3

Suasana terasa menegang, Max dan Renald sama-sama melempar pandangan. Talia yang keseluruhannya hampir di baluti perban, hanya menyisakan wajah dan lengan sebelah nya saja, dia begitu kaget melihat Papa nya di seret dengan begitu kasar oleh beberapa orang.


Sedangkan Robert juga sangat shock melihat putri nya dengan keadaan mengenaskan, orang tua mana yang tidak sakit melihat anaknya dalam keadaan sakit seperti itu.


"Apa yang kalian lakukan pada Papa ku?" tanya Talia, dia mengira jika orang Faris menangkap Papa nya karna kemarahan pada dirinya.


"Lepaskan Papa saya, dia tidak bersalah. Dia tidak tau apapun tentang ini, tolong lepaskan dia." lanjut Talia lagi.


"Dan kalian, apa yang kalian lakukan pada putri saya, lepaskan dia, saya tidak akan mengampuni kalian jika menyakiti nya sedikit pun." timpal Robert yang kini sudah marah besar.


Max dan Renald mencibikkan bibirnya "Heh, anak dan bapak sama saja, sama-sama licik," cerca Max, mereka sempat terkejut saat mengetahui jika Robert adalah ayah dari Talia.


"Tidak ada yang menyakiti tanpa ada kesalahan, kamu dan anak mu di sini dalam kasus yang berbeda." lanjut Max lagi.


Renald memberi arahan pada dokter yang tengah mendorong kursi roda Talia untuk membawa wanita itu masuk, dan dia juga menyuruh anak buah nya untuk terus menyeret Robert.


"Lepaskan saya, izinkan saya bertemu dengan putri saya," Robert terus memberontak.


"Satukan saya dengan anak saya." sambung nya lagi.


Anak buah Renald yang kewalahan membawa Robert, langsung memukul keras pundak lelaki itu, hingga dia pingsan.


Talia juga sangat ingin jika dia di satukan dalam ruangan yang sama dengan Papa nya, setidaknya mereka bisa menyusun cara untuk keluar.


Max memang di arahkan Faris untuk tidak memasukkan dua tahanan dalam satu ruangan, karna itu akan memudahkan mereka untuk meloloskan diri.


"Beritahu, Tuan! Jika pekerjaan nya sudah beres." tukad Renald pada Max.


"Hem ... nanti saja, mungkin sekarang Tuan lagi bersama istrinya, dia sudah melarang saya menelpon dirinya saat dia di rumah." imbuh Max lagi.


"Mari, kita bersantai dulu." ajak Max lagi, dan Renald hanya mengangguk.


...****************...


Pagi hari, Faris sudah berangkat ke kantor, sedangkan Nabil sudah di antar kan ke rumah orang tuanya, Nabil mengatakan jika dia sangat merindukan Ummi dan Abi, karna itu pagi sebelum ke kantor, Faris menyempatkan diri untuk mengantar istri tercinta ke rumah mertuanya.


Di kantor, Faris tengah memeriksa beberapa dokumen penting yang belum dia periksa kemaren, sesekali dia melirik pada Diki yang terlihat gelisah.


Berkali-kali Faris memergoki Diki membuka ponselnya, jika dia lihat, asisten nya bukan sedang bekerja, akan tetapi melakukan hal lain, terlihat dia mengetik sesuatu, setelah itu dia meletakkan ponsel nya di atas meja, sedangkan dirinya bersandar di sandaran sofa, selang beberapa detik, dia kembali membuka ponselnya, mengetik dan melakukan hal yang sama.


"Diki," panggil Faris.


"Iya, Tuan!"


"Apa kamu sudah bosan bekerja dengan ku?" tanya Faris tampa mengalihkan pandangan dari dokumen dan juga layar persegi di hadapannya.

__ADS_1


Diki membola "Ti--tidak, Tuan! Saya masih sangat ingin bekerja dengan anda." jawab Diki pasti, bagaimana dia bosan, meski Faris kadang memberikan pekerjaan banyak untuk dirinya, tapi bukan berarti membuat nya malas bekerja, karna gaji yang di berikan Faris bahkan lebih besar dari apa yang dia kerjakan.


"Lalu Kenapa kamu tidak bekerja, malah membolak-balikkan ponsel itu?" tanya Faris lagi, sebenarnya dia penasaran, akan tetapi tidak tau cara bertanya agar Diki mau memberitahu.


Diki terlihat gugup, dalam seketika dia langsung meletakkan ponsel miliknya dan memeriksa layar kaca canggih yang sedari tadi dia abaikan.


Setelah beberapa saat memeriksa dokumen, Diki lagi-lagi melirik ponselnya, dan itu kembali tertangkap oleh Faris.


"Diki,"


"Iya-iya, Tuan!"


"Kesini sebentar!"


"Untuk apa, Tuan!"


"Cepat kesini saya bilang!" seru Faris dengan suara meninggi. Dalam seketika Diki bangkit, hendak melangkah.


"Bawa ponsel mu!"


"Kenapa dengan ponsel saya, Tuan?"


"Sekali lagi bertanya saya potong gajimu." ancam Faris.


"Dan seperti biasa, dia selalu mengancam." batin Diki, dengan terpaksa dia menyerahkan ponsel kesayangan nya saat ini kepada atasan nya.


"Siapa kucing liar?" pertanyaan Faris sukses membuat Diki membulatkan matanya.


"Tu-tuan, jangan lihat itu, sebenarnya anda mau apa dengan ponsel saya?" tanya Diki panik, Dia langsung ingin merebut ponsel pada Faris, tapi dengan cepat, pewaris Bagaskara ini langsung mengangkat nya ke atas.


"Diki, duduk! Jangan kurang hajar dengan saya!" perintah Faris, tapi Diki masih lompat-lompat untuk meraih ponselnya.


"Saya tidak akan kurang hajar jika anda berlaku sopan, kenapa anda membuka ruang chat saya?" tanya Diki masih berusaha merebut dari Faris.


"Saya bilang duduk, Diki! Atau ponsel ini saya bikin hancur, sa-saya tau ponsel mu tahan banting, ta-tapi kalau saya lempar ke luar pasti juga akan hancur." ucap Faris terbata, Kaena dia sibuk menyembunyikan ponsel dari Diki.


"Atau saya akan mencari tahu sendiri siapa itu kucing liar, dan saya bawa dia ke markas." ancam Faris lagi.


Mendengar itu Diki berhenti, dia tau memang tidak mudah melarang Faris jika sudah mempunyai keinginan.


Kini Diki duduk di sofa, terlihat keringat dingin sudah mulai keluar dari dahinya saat Faris sesekali melirik ke arah nya dengan tatapan aneh, ketika dia membaca pesan yang dia kirimkan pada kucing liar nya.


"Kamu dimana?"


"Apa sbuk?"

__ADS_1


"Apa kamu tidak bisa membaca?"


"Apa kamu tidak bisa mengetik?"


"Hingga pesan saya kamu abaikan?"


"Kucing liar ... Saya peringatkan, balas pesan saya, atau saya akan datang ke sana malam ini."


"Berarti kamu memang menunggu saya untuk datang ke sana."


"Bodoh," hardik Faris setelah membaca pesan yang asisten nya kirim kepada wanita yang dia ketahui adalah sahabat istri nya.


Diki langsung membulatkan mata, perasaan nya tidak menuliskan kata-kata bodoh.


"Apa saya juga menulis kata-kata itu?" tanya nya begitu polos.


"Iya, jika saya jadi kucing liar itu saya akan membalas mu dengan kata bodoh." cibir Faris sambil mencibir kan bibir nya.


"Kenapa anda berkata seperti itu?" tanya Diki lagi.


"Wanita mana yang mau jika kamu perlakuan seperti ini, Diki. Apa lagi dia wanita yang baik, mana ada wanita yang ingin lelaki yang cuek, kaku plus nyebelin saat mengirimkan pesan. Setiap wanita pasti ingin di perhatikan, kelembutan dan juga pesan dengan kata-kata yang manis." ujar Faris panjang lebar.


"Kenapa aku merasa dia sekarang juga sama seperti kucing liar? Dan dia bilang jika memperlakukan wanita harus manis, apa dia tidak salah bicara. Dulu dia bahkan lebih kejam sama Nona Nabil." batin Diki.


"Kenapa kamu diam, apa sedang mengatai saya dalam hati mu?" tanya Faris membuat Diki gelagapan.


"Ti--tidak, Tuan!"


"Apa kamu mencintai nya?"


.


.


.


.


.


.


~Bersambung.


Hahaha dasar kelakuan bos dan asisten, kadang-kadang mereka seperti bocah, hadehhh.

__ADS_1


Jangan lupa Like komen dan juga Vote kakak ku sayang.


Bantu dukung juga dengan bintang dan hadiah sebanyak-banyak nya.


__ADS_2