Istri Taruhan Kunci Surgaku

Istri Taruhan Kunci Surgaku
Pernikahan Diki dan Mira 4.


__ADS_3

Mira langsung berteriak kecil tatkala merasakan tubuhnya terbang di udara, reflek dia langsung mengalungkan tangannya di leher sang suami.


"A--apa yang Kakak lakukan?" tanya Mira yang merasa malu karna para tamu sudah melihat ke arah mereka.


"Menggendong mu, dan ku bawa ke dalam kamar," jawab Diki terlihat begitu santai, hingga membuat Mira yang mendengar nya mengerutkan keningnya.


"Ke dalam kamar? Yang benar saja, di sini masih banyak tamu, Kak! Masak kita tinggalkan begitu saja!" protes Mira, dia malu saat mendapatkan tatapan dari para tamu, bahkan ada yang terkekeh melihat ke arah mereka.


"Aku tidak perduli," jawab Diki santai. Lelaki bertubuh tegap ini sudah siap mengayunkan kakinya, dia tidak main-main ingin membawa sang istri dalam kamar, meski sekarang masih siang.


Akan tetapi langkah Diki terhenti saat melihat Kakek sudah berdiri di depannya "Mau kau bawa kemana cucu menantu ku, Diki?" tanya Kakek sengit.


"Aku mau bawa istri ku istirahat, dia sudah kecapean," balas Diki dengan wajah tengil nya.


"Aku tidak apa-apa, turunkan aku," timpal Mira dalam gendongan Diki, membuat Kakek tersenyum sinis pada cucu ke-dua itu.


"Ini masih siang, Diki! Apa kamu tidak bisa menunggu beberapa jam lagi, para tamu masih banyak yang berdatangan, kan tidak sopan kalian langsung pergi," cibir Kakek dengan tatapan mengejek pada Diki.


Sementara Diki langsung menurunkan, Mira, dia langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal "Kakek tidak tau saja, aku bahkan tidak bisa menahan nya walaupun hanya semenit," batin Diki menjerit.


Dengan terpaksa pun Diki akhirnya menyambut para tamu kembali, tapi kali ini dengan muka masam dan ketus, sungguh ini ujian yang sangat berat bagi Diki.


Kini para teman-teman Mira yang bergiliran menyalami mereka, hanya ucapan selamat dan doa agar mereka selalu bahagia.


Tangan Mira sedikit bergetar saat melihat siapa yang berada di hadapannya, Amir dan keluarganya juga turut mengucapkan selamat. Diki yang melihat itupun langsung menggenggam erat tangan sang istri, Diki mengira jika Mira masih tidak bisa melupakan Amir.


"Apa kamu menyesal berada di sini dengan ku, hingga kamu begitu gemetar saat melihat nya?" bisik Diki bertanya pada wanita yang kini sudah menjadi istri nya itu.


Mira menoleh, bukan karna itu, akan tetapi dia sedikit terkejut karna Amir juga hadir, di tambah kedua orang tuanya yang terlihat sendu menatap pada dirinya.


Karna tidak ingin membuat Diki salah paham, sebelum Amir dan keluarganya tepat berada di hadapan mereka, Mira sedikit berjinjit, dengan cepat dia mencium pipi suaminya, setelah itu dia balas berbisik di telinga Diki.


"Ini jawabannya," wajah Diki seketika memanas, berbarengan dengan hati yang ikut menghangat saat mendengar bisikan lembut dari sang istri, dia merasa bahagia karna Mira telah melupakan masa lalunya.


Sementara Amir yang melihat hal tersebut, hatinya terasa nyeri, dengan mata nya sendiri dia melihat Mira mencium mesra lelaki yang sudah berstatus suaminya itu. Sekarang Amir sadar, jika Mira memang sangat mencintai Diki, dan telah melupakan dirinya.


"Selamat ya, Nak! Mama masih sedih karna kamu tidak jadi menikah dengan anak Mama," ucap Mama nya Amir sambil memeluk Mira.

__ADS_1


Mira membalas pelukan mantan calon mertuanya itu, mengusap lembut punggung wanita cantik berhijab itu.


"Mungkin kami tidak berjodoh, Ma!" hanya itu jawaban yang Mira berikan.


Mama nya Amir mengangguk, kemudian beralih mengucapkan selamat pada Diki "Selamat, Nak! Bahagiakan putri ku ini"


Diki hanya membalas nya dengan anggukan, bergantian Papa Amir yang menyalami Mira dan Diki, kemudian yang terakhir adalah Amir. Saat Amir mengulurkan tangannya di hadapan Mira, belum sempat wanita itu mengangkat tangan nya, Diki sudah lebih dulu merebut tangan Amir.


"Tidak layak bukan kalian saling berjabat tangan, sementara suaminya sendiri ada di sini," cibir Diki dengan wajah tidak bisa di artikan.


Mira memang tidak berniat membalas uluran tangan Amir, rencana nya dia ingin mengatupkan kedua tangan di depan dadanya saja.


Amir mengangguk "Jaga dia, Mira wanita yang baik, meski dia sedikit keras kepala, akan tetapi dia wanita yang cengeng dan manja," ucap Amir sambil menatap pada wanita di hadapannya.


"Tentu, dia istri ku." sentak Diki yang mulai tersulut emosi, Amir berbicara tentang Mira seolah dia tau segalanya tentang wanita nya.


Dengan rahang mulai mengeras, Diki menggenggam erat tangan lelaki yang sudah berani menatap istrinya dengan begitu dalam, bahkan saat dia berada di hadapan nya.


"Tuan, Diki, Bisa kau lepaskan? tangan bisa remuk," pinta Amir sambil meringis.


"Jika tidak ada yang mau di sampaikan lagi, silahkan kembali ke tempat mu, di belakang masih banyak tamu, aku dan istriku ingin cepat selesai dan beristirahat di dalam kamar,"


Blus...


Lagi-lagi wajah Mira tampak merona mendengar ucapan sang suami, dia tau jika saat ini Diki sedang menahan amarahnya, dia menggenggam erat tangan besar sang suami, agar Diki tidak berpikiran yang tidak-tidak.


Mendengar Diki yang seolah mengusir nya, Amir kembali pada tempat duduknya semula, lama-lama melihat Mira dan Diki hanya akan membuat nya sakit hati.


"Apa kalian begitu dekat saat menjalin hubungan pertunangan, hingga dia tau segalanya tentang dirimu?" bisik Diki bertanya pada sang istri, tangan nya terus menerima uluran tangan dari para tamu.


"Tidak juga, aku rasa dia terlalu berlebihan," timpal Mira yang tampak santai.


Acara masih terus berlanjut hingga sore hari, Diki dan Mira sekarang ini benar-benar sudah sangat capek. Beruntung semua undangan sudah pulang, hanya tinggal keluarga inti yang masih berada di sana.


Nabil dan Faria juga sudah kembali, calon Abi dari baby twins ini terlihat lebih tenang, ntah obat apa yang di berikan Nabil, yang jelas hanya dia yang bisa membuat amarah sang suami mereda.


...****************...

__ADS_1


Malam hari, semua keluarga telah berkumpul di meja makan yang di sediakan di hotel tersebut, Mira dan Diki masih balutan gaun dan juga jas pengantin, mereka bahkan tidak di izinkan masuk kamar, sebelum menghabiskan makan malam.


"Alhamdulillah, acara hari ini berjalan dengan lancar," kata Abi Zainal sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


"Iya, Bi! Alhamdulillah tidak ada kendala apapun," timpal Ummi Fatimah.


"Kalian mau pergi bulan madu kemana, Diki?" tanya Kakek membuat yang di tanya malah tersedak.


"Uhuk ... Uhuk..." Mira langsung memberikan sang suami minum, dan itu membuat para keluarga saling melirik dan tersenyum, termasuk Nabil yang tersenyum ke arah suaminya.


"Kami belum memikirkan itu, Kek! Faris saja tidak pergi berbulan madu, kenapa kita harus,"


"Kenapa aku, kami memang memutuskan belum ingin pergi, terlebih Nabil tengah mengandung, aku tidak ingin mengambil resiko jika dia kelelahan dan membahayakan dirinya juga kandungan nya," sarkas Faris, yang tidak rela jika dia di jadikan alasan.


"Kan Tante sudah bilang, kamu boleh pergi meski istri mu tengah hamil, asalkan kamu menjaganya dengan baik," timpal Tante Riska yang juga ikut serta dalam ke tiga keluarga tersebut.


"Tetap saja, aku tidak ingin hal buruk terjadi pada istri dan calon anak-anak ku, lebih baik kami menunggu mereka lahir, baru kami akan memikirkannya," elak Faris lagi, dan Nabil hanya mengangguk membenarkan.


"Lagian tidak pergi honeymoon pun tidak masalah, yang penting kami kita sudah ada dua Faris junior yang berhasil aku cetak," celetuk Faris tanpa rasa malu. Semua yang mendengar hanya menggeleng akan ucapan Faris.


"Jadi jika Faris berhasil tanpa pergi bulan madu, kenapa aku tidak. Kalian nikmati lah makan malam nya, aku akan membawa mempelai wanita untuk segera mencetak Diki junior,"


.


.


.


.


.


~Bersambung.


...Dasar, dua lelaki kaku tapi tidak tau malu. Bisa-bisa nya bicara seperti itu di depan orang tua. Buat aku iri tau gak. Ekspresi marah aku ini....


...Hari ini Senin kan? Yuk sedekah vote satu orang satu untuk stamina babang Diki dan mbak Mira mencetak Diki junior. Hehehe....

__ADS_1


__ADS_2