
Dua jam sudah berlalu, kini mereka semua keluar, ada yang berlari pada tempat makan, untuk mengisi perut mereka, ada yang segera bergegas pulang, ada juga yang mencari tempat untuk bersantai sambil, seperti Nabil dan Mira, sudah kebiasaan pada hari Senin mereka selalu menjalan kan puasa Sunnah.
Untung nya Faris menghentikan aksinya sebelum subuh, jadi dia masih sempat niat dan berpuasa, meski dia tidak memakan sahurnya.
Mereka memang jarang sekali sahur jika melaksanakan puasa Sunnah, karna bagi keduanya, badan akan terasa lebih ringan jika tidak di isi pada waktu sahur.
"Katakanlah, aku tau kamu sedang menyimpan sesuatu yang membuat mu tidak tenang!" ujar Nabil mulai bertanya.
Mira yang sedari tadi menunduk, langsung mendongak, seketika dia langsung menjatuhkan kembali kepala nya pada pundak Nabil, bersamaan dengan air matanya yang juga ikut menetes.
Rasa sesak yang begitu menyakitkan, membuat nya diam, tidak bisa berkata apa-apa, hanya lembaran yang dia terima tadi subuh dia perlihatkan pada Nabil.
Nabil mengelus punggung Mira, sambil tangannya satu lagi memegang lembaran kertas putih bertinta yang sedang dia baca.
Tes...
Seketika air matanya pun ikut menetes, dia dapat merasakan bagaimana sakit nya hati sahabat nya itu, dia sungguh tidak menyangka, lelaki yang dulu sempat dia kagumi ternyata begitu tega pada sahabat nya sendiri.
"Ya Allah ... Apa karna ini engkau tidak memperkenankan hamba dengan dirinya, tapi mengapa yang merasakan nya adalah sahabat hamba, kuatkan lah hatinya Ya Allah!" batin Nabil, satu sisi dia bersyukur karna di jauhkan dari orang yang seperti itu, tapi di satu sisi dia juga tidak tega pada sahabat nya.
"Ra, yang sabar ya! Percayalah, mungkin ini jalan terbaik untuk mu, Allah menjauh kan kalian sebelum kalian resmi bersama, jika nanti mungkin kamu akan lebih tersakiti!" ujar Nabil menyemangati sahabatnya yang tampak begitu terpukul.
"Ingat, Ra! Mungkin kita punya rencana, tapi Allah punya takdir, dan yakinlah, jika takdir Allah itu lah yang terbaik!" lanjut nya lagi, Mira tampak meresapi kata-kata dari Nabil, karna terlihat dia yang sudah bangun dari pundak Nabi.
"Sekarang kamu istighfar, agar hatimu tenang, di saat kamu kecewa, jangan kosong kan hatimu dari mengingat Allah, karna syaitan akan mudah masuk dan sengaja membuat luka kita semakin dalam!" celetuk Nabil lagi, tanpa bosan memberikan saran.
Dan ternyata itu tidak sia-sia, Mira yang seakan sadar, langsung beristirahat. Dan benar saja, dia merasa lebih lega.
__ADS_1
"Makasih ya, Bil! Kamu memang sahabat ku, pengingat dan Allah kirim kan kamu untuk jadi penenang!" timpal Mita yang merasa sangat bersyukur karna mendapatkan sahabat seperti Nabila.
"Itulah gunanya teman, Ra!" imbuh Nabil, tangan nya terus mengelus punggung Mira.
"Tapi bagaimana caranya aku memberitahu pada Ayah dan Bunda, Bil?" tanya Mira lagi.
"Berdoa dan serahkan semuanya pada Allah, Ra! Maka kamu akan dengan mudah memberitahu, dan mereka pasti juga akan memahami mu!" timpal Nabil lagi, Mira hanya mengangguk.
"Kalau seperti itu, lebih baik kita pulang saja yuk!" ajak Mira, dia ingin bergegas, takutnya bus yang dia tumpangi keburu meninggalkan dirinya.
Sudah di tinggal sama tunangan, kan dia juga tidak mau kalau harus di tinggal sama bus yang selalu mengantar jemput para santri.
"Ayok!" jawab Nabil, keduanya pun melangkah, menuju gerbang. Tapi mereka belum melihat bus yang akan datang.
"Tunggu saja dulu, mungkin sebentar lagi akan datang!" ucap Nabil.
Mereka akhirnya memilih duduk pada bangku yang hampir dekat dengan gerbang, Saat keduanya asik berbicara, hingga seseorang datang menjumpai mereka.
"Nona, Nabil! Kalian mau pulang?" tanya seorang lelaki yang ternyata adalah Abiyan.
Mira dan Nabil memutar bola mata mereka.
"Seperti nya kami tidak harus menjawab nya, karna anda pasti sudah tau, jika kami di sini, kami pasti ingin pulang!" imbuh Mira menjawab telak pertanyaan pria di hadapan mereka itu.
"Saya bertanya pada Nona, Nabil! mengapa anda yang sewot!" protes Abiyan yang sudah merasa risih, karna sedari tadi Mira selalu mengganggunya.
"Karna dia sudah mewakili saya untuk menjawab!" sarkas Mira juga tak dengan nada ketus.
__ADS_1
Abiyan tidak memperdulikan nya, dia kembali berbicara pada Nabil.
"Nona Nabil, apa anda menunggu jemputan?" tanya Abiyan menebak, karna tadi pagi dia melihat jika Nabil di antar.
"Iya, Tuan!" jawab Nabil sopan.
"Bagaimana kalau saya yang akan mengantar mu!" ajak Abiyan yang membuat Nabil dan Mira terbelalak.
Yang benar saja dia pulang dengan lelaki lain, sedangkan dia sudah berstatus istri orang, lebih baik dia jalan kaki daripada harus di antar oleh seorang laki-laki.
Nabil ingin menjawab, tapi seseorang datang dan menyelonong langsung memeluk pinggang Nabil.
"Tidak wajar rasanya jika seorang lelaki menawarkan untuk mengantar istri orang pulang, dan sangat tidak sopan jika seorang istri menerima tawaran tersebut, tanpa sepengetahuan suaminya. Benarkan sayang?"
Deggggg
.
.
.
.
.
~Bersambung.
__ADS_1