Istri Taruhan Kunci Surgaku

Istri Taruhan Kunci Surgaku
Kedatangan Talia.


__ADS_3

...Jangan terlalu membenci orang yang tulus sayang sama kita, karna kita akan sadar dia begitu berarti saat seorang itu sudah pergi dari kehidupan kita....


...****************...


Pagi ini Faris tampak begitu semangat, terlihat jelas raut wajah nya yang begitu riang dan bahagia. Dari setelah dia mandi sampai berangkat ke kantor pun, lelaki dua puluh delapan tahun ini terus saja menyunggingkan senyuman di bibirnya.


Faris berangkat ke kantor tanpa memperdulikan Nabil, meski dia tau istri nya kesakitan karna ulah nya, tapi, dia seolah tidak melakukan apapun, tidak berniat membantu atau sekedar menanyakan, apa kamu baik-baik saja.


Faris sama sekali tidak tau berterimakasih, padahal kesenangan yang dia rasakan pagi ini berkat sang istri, namun, dia malah melenggang pergi saat Diki sudah sampai di depan pintu mansion Bagaskara, tanpa mencicipi sarapan yang di siapkan, Nabil.


Keduanya saat ini masih di jalan menuju ke kantor, Diki sedari tadi memperhatikan tingkah Faris yang terlihat sangat berbeda, wajah yang dulu nya selalu tegang dan dingin, kini nampak sedikit ramah dan berseri-seri.


"Apa anda sudah membuka hati untuk Nona, Nabil, Tuan?" tanya Diki, dia kira jika bos nya itu sedang jatuh cinta dengan istri nya.


Seketika wajah yang tadi ramah, langsung berubah mimik menjadi dingin kembali, dengan memberi tatapan tajam ke pada Diki, Faris berucap "Jangan sebut dia di hadapan ku, Diki! Mood ku langsung hilang jika kamu membahas wanita aneh itu!" cibir Faris tidak terima dengan apa yang di katakan sang asisten nya.


Diki tersentak mendengar cibiran Faris, salah apa Nabil hingga Faris sangat membencinya, bukan kah dia yang mengejar Nabil.


"Kenapa anda sangat membenci Nona, Tuan? Bukankah anda yang dulu mengejar dirinya?" ucap Diki memberanikan diri bertanya kepada Faris.


Faris mendelik, dengan menyunggingkan senyuman sinis dia pun menjawab "Kenapa kamu sangat memperdulikan dia, apapun yang aku lakukan, itu bukan urusan mu!" cemooh Faris lagi.


"Saya hanya tidak ingin anda menyesal di kemudian hari karna telah menyia-nyiakan wanita sebaik Nona, Nabil! Bahkan dia bisa di bilang wanita yang sempurna, baik, sopan, lemah lembut dan juga tekun dalam melaksanakan ibadah nya!" timpal Diki memperingati Faris.


"Jangan menceramahi ku, Diki. Terkadang kamu juga sama seperti dirinya, sangat cerewet! Jika kamu merasa tertarik dengan dia, setelah aku menceraikan dia, ambil saja wanita itu untuk mu!" sahut Faris kesal.


Diki lagi-lagi terkejut mendengar penuturan dari bos sinting nya itu, kenapa dia bisa berkata seperti itu, apa dia menganggap Nabil seperti barang, Diki tidak munafik, jika dia memang merasa kagum dengan sosok Nabil, tapi karna mengingat jika wanita itu adalah istri dari bos nya, maka dia hanya menganggap Nabil sebagai nyonya nya.


Kalut dengan perasaan kesal, tanpa terasa mobil yang membawa Faris dan Diki sudah berdiri di depan gedung pencakar langit.

__ADS_1


Dengan angkuh sombong Faris melangkah masuk ke dalam lobby kantor, tanpa menyapa satupun karyawan yang sedang menunduk hormat kepada dirinya, di susul oleh Diki sang asisten nya di samping, dengan memasang raut wajah datar, Faris melenggang masuk ke dalam lift, agar dia bisa sampai pada lantai tiga puluh, di ruangan khusus Presdir.


Faris langsung duduk di kursi kebesaran nya, dia melihat ruangan yang selama satu Minggu ini tidak dia kunjungi, baru saja dia menempati kursi nya, sebuah panggilan masuk pada layar di depannya.


Faris menggeser sedikit layar petak itu, guna agar tersambung dengan penelpon.


"Katakan!" ucap Faris singkat.


"Nona Talia ingin bertemu dengan anda, Tuan!" jawab seorang wanita yang ternyata resepsionis di kantor nya.


"Suruh dia masuk!" perintah Faris, setelah itu dia langsung memutuskan sambungan nya.


Tak berapa lama menunggu, pintu ruangan Faris sudah di ketuk dari luar, dia yang mendengarnya hanya pun segera menyuruh masuk orang dari balik pintu tersebut.


Ceklek...


Wanita yang tak lain adalah Talia, terus berjalan masuk mendekati meja Faris, dengan rok sepaha dan terbelah di sebelah nya, mengayunkan langkah kakinya dengan begitu percaya diri, jalan berlenggak lenggok, seolah ingin menunjukkan pada lelaki di hadapannya kalau tubuh nya begitu sempurna dan juga sangat indah.


Dan ternyata usahanya di sambut baik oleh Faris, dia dapat melihat jika lelaki incaran nya tak berkedip melihat ke arah nya, dia mengira jika sebentar lagi, Talia akan bisa menaklukkan Faris.


Berbeda dengan ekspektasi Talia, Faris hanya ingin menguji burung perkasa nya yang kembali tertidur, apa kah senjata nya memang sudah siap bertempur atau kembali tertidur dengan nyenyak di dalam sangkar nya.


Yang terjadi malah membuat nya kecewa, dengan melihat cara Talia berpakaian, seharusnya bisa membangun kan burung nya berdiri dengan tegak, tapi ini malah sebaliknya, senjata Faris sama sekali tidak bereaksi.


"Tuan, ini ponsel yang aku ciptakan dari hasil rancangan mu, ini sudah siap 100%, anda boleh memeriksa nya sekarang!" jelas Talia mengeluarkan benda yang hampir sebulan dia buatkan.


Faris menatap benda tersebut, lalu melihat data dan rancangan yang langsung di tampilan pada layar di belakang Talia.


"Nona Talia, bisa berdiri di samping saya sebentar?" tanya Faris dengan maksud memerintah, Talia dengan senang hati, dia bangun lalu berdiri tepat di sebelah Faris, bahkan jarak dari keduanya sangat dekat.

__ADS_1


"Ada apa, Tuan?" tanya nya dengan nada sedikit di buat manja.


"Ini sudah sangat bagus, hanya tinggal kamu selesai kan data-data nya, dan juga letakkan pada yang selayaknya!" jawab Faris.


Talia sengaja membungkukkan sedikit badannya di depan Faris, membuat gumpalan buah dadanya terlihat begitu jelas di depan mata Faris.


Lelaki itupun tidak menyia-nyiakan kesempatan, dia ingin membuktikannya jika dia memang sudah menjadi pria normal.


Dia menatap pada dua gundukan Talia, terus melihat dada putih mulus itu, jika pria normal biasa pasti akan ngiler melihat dua buah montok milik Talia, siapa pun pasti akan tergoda, tapi tidak dengan Faris, dia mengumpat di dalam hati, karna lagi-lagi dia gagal.


"Kenapa pas dengan wanita aneh itu, burung ku sadar, dan berduri tegak kayak ingin terbang, tapi dengan wanita lain, dia bahkan tidak merespon sama sekali!" batin Faris kesal.


"Tapi lihat saja, akan aku buktikan, jika aku memang lelaki normal, dan itu sama sekali bukan karna dirimu, karna aku yakin, cepat atau lambat, burung kebanggaan ku pasti akan bangun suatu hari nanti, dan wanita ini bisa aku pergunakan untuk membantu ku!" lanjut Faris membatin.


.


.


.


.


.


~Bersambung.


Jangan lupa berikan dukungan dengan cara like, komentar dan juga g


Vote sebanyak-banyak nya ya Reader ku ter❤️.

__ADS_1


__ADS_2