
Sudah beberapa hari telah berlalu sejak Diki melamar, Mira. Kini asisten Faris itu tengah berusaha memperbaiki diri, mulai dari belajar solat, mengaji, hingga sekarang bisa mempraktekkan nya.
Sesuai arahan, Nabil, dia ingin membuktikan jika dirinya memang pantas menjadi pendamping Mira.
Sedangkan Faris dan Nabil tampak semakin romantis, Nabil yang sangat manja kepada sang suami, membuat Faris susah untuk meninggalkan nya. Akan tetapi mengingat tahanan nya yang sudah sembuh dan juga lelaki yang sudah beberapa hari di tangkap oleh Renard dan kelompok bertopeng, mau tidak mau Faris harus mencari alasan untuk bisa pergi ke markas.
Untung saja hari ini Nabil meminta di antarkan ke rumah orangtuanya, hingga Faris bisa berangkat ke markas tanpa harus membohongi sang istri.
Faris dan Diki saat ini sudah sampai di markas, mereka turun yang langsing di sambut oleh, Max.
"Dimana Renald?" tanya Faris saat Max memberikan hormat pada dirinya.
"Dia sudah pergi, Tuan!" jawab Max sopan.
"Dimana lelaki yang dia bawa? Dan bagaimana dengan wanita itu, apa sudah sembuh?" tanya Faris lagi membuktikan.
"Semua tahanan sudah sembuh, Tuan! Bahkan ketiga karyawan anda sudah ada keluarga nya di sini." jawab Max lagi.
Mendengar itu, Faris yang tengah berjalan tiba-tiba berhenti, dengan berdiri tegak dan tangan kanan nya dalam saku celana.
"Diki, kamu urus mereka, buat mereka berjanji tidak akan macam-macam dengan kita sebelum kamu membebaskan ketiganya!" seru Faris memberi perintah.
"Baik, Tuan!" jawab Diki, setelah itu dia langsung melangkah menuju ke-tiga ruangan tempat karyawan Faris di sekap.
Sedangkan Faris dan Max langsung masuk ke dalam tempat tahanan lainnya. Di sana terlihat Talia tengah duduk termenung di dalam penjara kecil di dalam tempat itu, tatapan nya terlihat kosong melihat ke depan, duduk dengan memeluk lutut nya sendiri.
"Hai ... Nona, Talia! Bagaimana kabarmu? Apa kamu sudah sembuh? Apa kamu siap kita bermain kembali? tanya Faris saat mendekati Talia.
Sedangkan wanita itu tampak begitu shock melihat Faris, seketika itu juga dia langsung menarik tubuhnya untuk mundur, sambil berteriak histeris.
"Jangan dekati saya, jangan sakiti saya lagi! Lepaskan saya!" jerit Talia histeris, melihat itu Faris langsung melihat ke arah Max.
Max yang paham maksud dari tatapan Faris langsung paham "Sepertinya kejadian beberapa hari yang lalu begitu mengguncang jiwa nya, hingga membuat mental nya melemah dan juga takut akan rasa trauma yang dia alami." jawab Max yang memang sudah membawakan dokter psikiater untuk memeriksa Talia.
Karna setelah bertemu dengan Papanya, Talia memang selalu menjerit kekuatan dan meminta untuk di lepaskan.
Mendengar itu Faris malah mengangkat alisnya nya sebelah "Aku kira rubah seperti nya mempunyai mental yang kuat, ternyata hanya sok berani saja." imbuh Faris, merasa kesal karna dia tidak bisa memberikan pelajaran lagi untuk, Talia. Tidak mungkin dia menyiksa tahanan nya dalam keadaan mentalnya yang tidak stabil, bagaimana pun dia juga pernah merasakan bagaimana saat merasakan trauma dan ketakutan yang begitu mendalam.
__ADS_1
"Bawa dia untuk pergi ke dokter psikologi, jaga dia hingga sembuh, lalu setelah itu bawa kembali dia ke sini!" perintah Faris, dan Max hanya mengangguk.
Segera anak buah Max membuka penjara kecil dalam ruangan tersebut dan menarik paksa Talia yang sudah menyembunyikan wajahnya di sudut penjara, meski dia memberontak, akan tetapi tenaga nya masih kalah dengan dua orang lelaki yang memiliki postur tubuh besar dan panjang.
"Lepaskan saya, jangan sakiti saya, lepaskan." jerit Talia sampai dia menghilang di bawa oleh dua pria tersebut.
"Apa sekarang anda ingin berteman dengan tahanan yang baru?" tanya Max pada Tuan nya.
Faris hanya berdehem, kemudian dia langsung melangkah keluar, Max mengikuti dari belakang, dan menunjukkan tempat dimana Robert di sekap.
Brak....
Pintu di buka dengan begitu kasar, hingga lelaki paruh baya yang terikat du kursi segera mengangkat wajahnya yang sedang menunduk.
Faris mengerutkan keningnya melihat wajah lelaki yang sudah tampak terluka bahkan sudut bibirnya sudah mengeluarkan darah. Dia semakin mendekat, suami Nabil ini menatap intens wajah yang memar itu.
"Halo, Taun! Senang bertemu dengan mu. Ngomong-ngomong anda adalah tamu di sini, bagaimanakah cara anak buah ku menyambut mu? Bukan kah anda tersanjung?"
"Sekarang aku tau kenapa anak anda, Talia. Begitu licik dan jahat, ternyata dia terlahir dari benih seorang lelaki yang sangat kejam dan rakus." cerca Faris, sebelumnya dia memang sudah tau jika Robert adalah Papa dari Talia.
Mendengar nama putrinya di sebut, amarah Robert langsung memuncak.
"Shut ... shut ... Jangan berteriak, Tuan! Nanti kami yang ada di sini bisa tuli. Anda tidak perlu khawatir karna putri anda sedang di tangani oleh dokter Psikologi," jawab Faris berbisik di telinga Robert dengan menekan kalimat psikologi.
Dalam seketika Robert terdiam mendengar ucapan Faris, tapi seketika amarahnya semakin ingin meledak.
"Kurang aj*r, kamu buat anak ku stres hah? Jika dia kenapa-kenapa, aku bersumpah akan membalas kalian." hardik Robert menggebu-gebu.
Faris yang mulanya membungkuk, kini kembali berdiri tegak "Tutup mulut dia. Max, kita harus masuk ke ruangan ku, ada hal penting yang ingin aku sampaikan, beritahu Diki juga!" ujar Faris, kemudian dia langsung melangkah keluar.
"Baik, Tuan!"
"Jaga dia!" seru Max pada anak buahnya, setelah itu diapun keluar kembali mengikuti Faris, tidak lupa juga dia menghubungi Diki.
...****************...
Kini Faris, Diki dan juga Max tengah berada di dalam ruangan Faris, tempat biasa mereka mendiskusikan hal yang penting.
__ADS_1
"Apa yang kamu lihat pada Robert, hingga harus mengumpulkan kami di sini? Apa kau ingin aku menyelidiki lelaki itu?"
Inilah yang membuat Faris sangat salut dengan, Diki. Asistennya ini tampa di beri penjelasan langsung tau apa yang di inginkan oleh nya. Selain itu, dalam hal meretas, mencari tau identitas ataupun menyelidiki orang, Diki lah yang sangat bisa di andalkan.
"Hem ... kau benar, Diki. Aku tidak mengenal lelaki itu, apa hubungannya dia dengan perusahaan ku, dan apa alasannya ingin menghancurkan ku, apa dia mengenal ku, tapi aku sama sekali tidak mengenal nya," jawab Faris membenarkan.
"Apa yang harus aku selidiki?" tanya Diki lagi.
"Cari tau asal usulnya dan tujuan apa hubungan juga tujuan nya ingin menghancurkan perusahaan ku. Dan cari tau juga apa ini juga menyangkut dengan anaknya, Talia!" seru Faris lagi.
"Minta bantuan juga kepala Renald, karna ini kasus di daerah kekuasaan nya, aku ingin hasil yang memuaskan, Diki,"
"Dan kamu, Max. Datang lah ke rumah sakit, cari tau apa orang yang bernama Robert pernah melakukan operasi plastik, karna aku melihat wajahnya secara dekat, terlihat berbeda di tempat kalian memukul nya,"
Max menatap pada Faris, sungguh bos nya ini memang sangat pandai, beberapa hari dia menyiksa Robert, tapi tidak pernah memperhatikan itu semua. Tapi tidak ingin membantah, Max hanya mengangguk.
"Aku hanya ingin informasi lengkap, apabila perlu kalian cari tau seluruh dunia dan rumah sakit, karna kecurigaan ku tidak pernah salah." tukas Faris lagi.
"Baik, Tuan!" jawab Diki dan Max.
.
.
.
.
.
.
~Bersambung.
Huh, siapa sih Robert sebenarnya?
Jangan lupa Like komen dan juga Vote kakak ku sayang.
__ADS_1
Bantu dukung juga dengan bintang dan hadiah sebanyak-banyak nya.