Istri Taruhan Kunci Surgaku

Istri Taruhan Kunci Surgaku
Tangisan Diki dan Mira.


__ADS_3

Hati Mira terasa teriris mendengar ucapan, Amir. Bagaimana bisa lelaki itu dengan tanpa rasa bersalah mengatakan ingin kembali, setelah apa yang dia berikan pada Mira dan keluarga nya. Bagaimana bisa Amir beranggapan jika Mira masih mencintainya, bukan kah setelah menyakiti dia harus meminta maaf dengan tulus? Bukan langsung datang lalu dengan mudah meminta kembali.


Dada Mira terlihat naik turun, nafasnya terlihat memburu, akan tetapi sebisa mungkin dia menahan emosi nya, karna tidak ada gunanya mengatai Amir dengan kata-kata kejam.


"Apakah sebegitu murahnya perasaan ku di hadapan mu? Hingga setelah apa yang kamu lakukan terhadap saya dan keluarga saya, kamu masih beranggapan saya masih mencintai mu?" hardik Mira, dia sengaja merendahkan dirinya tidak mengatai Amir.


Amir terdiam seribu bahasa, hatinya terasa tertampar, dia merasa malu karna telah berani mengambil kesimpulan bahwa Mira masih mencintainya.


"Aku minta maaf, Ra! Aku benar-benar menyesal. Aku ingin kita tidak putus dan kita sambung kembali pertunangan kita, dan secepatnya kita akan menikah!" sergah Amir, dia tidak mau kehilangan wanita yang di cintai nya.


"Semudah itu kamu mengajak ku kembali, setelah kamu dengan mudahnya memutuskan dan membuat keluarga ku malu. Apa semuanya kamu lakukan dengan hal yang mudah seperti itu?" cerca Mira.


Kali ini Amir benar-benar tidak tau harus menjawab apa, kesalahan nya yang tidak pernah pikir panjang hingga dia langsung memutuskan Mira karna rasa senangnya mendapatkan biaya ke kairo mesir.


"Aku mohon jangan katakan apapun, aku harap kamu juga bisa tinggalkan aku sendiri, aku tidak ingin seseorang yang aku tunggu salah paham melihat kita berdua," cerocos Mira tanpa melihat sekilas pun ke arah Amir.


"Apa kamu sudah yakin dengan dia? Apa dia seorang ustadz, apa dia seorang hafidz?" tanya Amir menyudutkan Mira.


"Dia bukan ustadz, dia juga bukan seorang Tahfiz, dia hanya lelaki biasa yang mau mengubah dirinya lebih baik lagi,"


"Dan yang paling penting, dia lah orang yang selama ini berada di sisi ku di saat aku rapuh, di saat aku kecewa, dia yang selalu memahami setiap marah ku, sedih ku dan bahagia ku. Itu sudah cukup membuat ku bahagia." sarkas Mira dengan begitu yakin. Tidak ada keraguan di mata wanita bercadar ini.


Melihat sikap Mira yang sama sekali tidak memperdulikan dirinya, akhirnya Amir menarik dirinya dari hadapan Mira.


"Jika itu yang kamu inginkan, maka aku akan pergi, tapi ingat satu hal. Aku masih sangat mencintaimu, kembalilah padaku jika kamu tidak bahagia bersama dengan lelaki itu," pesan Amir, kemudian dia langsung melangkah pergi karna tidak mendapatkan respon apapun dari Mira.


Sementara Mira sendiri diam tidak bergeming, pikiran nya bukan tentang perkataan Amir, akan tetapi mengingat Diki yang belum kunjung datang.


Setelah kepergian Amir, Mira menghapus air mata yang sedari tadi dia tahan, bukan karna dia masih mencintai Amir, akan tetapi mengingat kembali rasa sakit yang lelaki itu toreh kan di hatinya.


Setelah menata hatinya kembali, Mira bangun untuk melihat di sekitar nya, berharap Diki akan datang. Saat kedua netra indahnya mengelilingi seluruh taman luas itu, matanya melihat buket bunga yang jatuh ke tanah.

__ADS_1


Dengan langkah buru-buru Mira mengambil buket bunga tersebut, saat mengambil buket bunga tersebut, yang pertama kali dia cium adalah bau parfum yang sangat familiar.


"Apa Kak Diki sudah kesini?" tanya Mira berargumen sendiri.


"Apa dia sudah datang dan meninggalkan ku kembali,"


Mira memeluk buket bunga tersebut sambil matanya terus melihat ke seluruh arah di taman itu. Namun, sosok yang dia cari tidak terlihat di mata nya.


Mira kembali duduk di bangku dengan perasaan rapuh, dia takut jika Diki salah paham, dia tidak ingin kisah nya kembali suram, dia tidak ingin kembali kehilangan orang yang dia sayangi.


"Aku akan menunggu mu di sini, Kak! Aku akan melihat kesungguhan kamu, apa kamu akan pergi begitu saja tanpa mencari tau kebenaran nya terlebih dahulu," gumam Mira sambil terus memeluk buket bunga indah yang dia yakin itu di tinggalkan oleh Diki. Air matanya terus mengalir tanpa bisa dia cegah.


Dia tidak perduli meski langit mendung dan mungkin akan segera turun hujan, Mira sudah bertekad akan menunggu Diki.


...****************...


Sementara di sebuah jembatan panjang yang terlihat sepi, Diki turun dan berdiri di tepi jembatan tersebut, mencengkram erat pembatas jembatan sambil berteriak dengan suara yang sangat keras.


Bukan tidak ingin mencari tau, tapi mengingat semua perkataan Mira dulu Diki merasa jika Mira memang berniat menolak dirinya. Terlebih saat melihat Mira dengan mantan tunangan nya, Diki mengira jika Mira sengaja pergi bersama dengan Amir dan ingin mengatakan pada dirinya jika Mira dan Amir sudah kembali lagi.


Bagaimana Diki bisa mengenal Amir? Itu hal yang mudah bagi lelaki 29 tahun ini, bahkan dalam sekejap dia sudah mengetahui semua dengan keluarga Amir.


Diki menengadahkan wajahnya ke atas, air mata juga sudah mengalir dari kedua sudut matanya, dia tidak pernah serapuh ini, Diki yang dingin dan datar terlihat begitu sangat terpukul.


Ini kali pertamanya dia jatuh cinta, ini kali pertamanya Diki merasa sangat bahagia, dan ini juga kali pertamanya dia merasakan sakit yang sangat mendalam.


Merasa kecewa di saat sudah benar-benar mengharapkan seseorang, bahkan dia telah berusaha sebaik mungkin agar wanita yang dia cintai bisa menerima dirinya.


Yang membuat Diki kecewa bukan hanya melihat Mira dan Amir, akan tetapi karna wanita nya itu tidak lebih dulu mengatakan padanya, akan tetapi Mira seolah memberi harapan yang mana dia akan menerima Diki sebagai pendamping hidup nya.


Tes

__ADS_1


Tiba-tiba tetesan hujan langsung membasahi wajah tampan nya, perlahan dari tetesan hingga menjadi hujan deras. Namun tidak membuat Diki meninggalkan tempat tersebut, dia masih terus menyalurkan rasa sakit, karna menurut Diki. Di sanalah tempat yang paling tepat untuk melepaskan rasa di hatinya.


Seluruh pakaian yang melekat di tubuh Diki sudah basah kuyup, dia tidak perduli meski hujan semakin deras, justru di dalam derasnya hujan lah dia semakin bisa menangis menyalurkan rasa sakit bersama dengan air yang menetes, mengalir dari atas tubuh nya.


Diki masih dalam posisi yang sama, kemudian dai di kejutkan dengan suara dering ponsel dalam saku celananya. Jangan lupa jika Diki ponsel yang Diki gunakan tahan banting dan juga tahan air.


Diki masih enggan menjawab panggilan yang masuk ke dalam ponselnya. Akan tetapi lagi-lagi ponselnya berbunyi.


Mau tidak mau Diki mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya, matanya langsung membuat melihat nama penelpon. Meski sedikit susah membaca karna air hujan yang begitu deras, tapi Diki tau siapa yang menelpon nya itu.


"Assalamualaikum," ucap Diki.


"Apa?"


.


.


.


.


.


.


~Bersambung.


Huhu kasian babang Diki dan Dedek Mira, aku sedih ini.


Jangan lupa Like komen dan juga Vote kakak ku sayang.

__ADS_1


Bantu dukung juga dengan bintang dan hadiah sebanyak-banyak nya.


__ADS_2