
Masih di dalam ruangan di perusahaan Bagaskara, seorang perempuan cantik dan pria tampan masih tidak bergeming dari tempat duduk mereka masing-masing.
Faris menatap pada Talia, sambil dia terus berfikir, apa tujuan wanita muda, cantik dan juga seorang pewaris perusahaan ayah nya, mau bekerja sebagai karyawan di perusahaan Faris.
"Apakah hanya itu alasan anda, Nona Talia? bukan kah anda memiliki perusahaan dari ayah anda sendiri?" tanya Faris lagi-lagi mengintimidasi.
"Saya sungguh sangat ingin bekerja di perusahaan anda, Tuan! karna saya benar-benar salut dengan pencapaian perusahaan anda! dan saya juga tidak berminat menjadi pewaris perusahaan Papa saya!" jawab Talia dengan cepat.
Melihat kesungguhan wanita di hadapannya, membuat Faris penasaran. Lelaki 28 tahun ini pun bangun, kemudian mendekati meja kerjanya.
Tangan Faris tampak lincah di atas sebuah tablet bening di atas mejanya, lalu dengan begitu cepat, dia menggeser layar tersebut. Mengeluarkan data lalu mengirim nya pada layar besar di belakang wanita yang masih duduk di atas sofa, Talia sempat menunduk, karna dia melihat jika data yang di keluarkan Faris dari Tablet nya seperti melayang di atas kepalanya, langsung saja sebuah layar di belakang Talia menyala dan menampilkan data-data yang baru saja Faris kirimkan.
Talia yang menyaksikan nya semakin takjub akan sosok Faris dan juga kemampuan nya yang sangat Waw. dalam diam, wanita ini terus memperhatikan wajah dingin Faris.
"Baik nona, Talia! jika kamu bisa membuat sesuatu benda dari hasil rancangan saya dalam satu bulan, maka anda akan bekerja di sini bulan depan!" ujar Faris, Talia memperhatikan semua data pada layar lebar terlihat begitu rumit.
"Baik! saya akan mencoba nya!" ucap Talia dengan yakin.
"Saya suka semangat anda, Nona!" tukas Faris dengan mengangkat satu sudut bibirnya. Meski cuek, namun itu bisa membuat Talia hampir jatuh pingsan, karna tersihir oleh senyuman sinis tapi manis yang begitu memikat.
Bukan nya Faris gampang percaya atau bodoh, tapi dia melihat jika Talia orang yang memiliki IQ tinggi, data yang dia berikan pun hanya lah alat kecil biasa, hanya telepon genggam yang tidak terlalu mahal harganya. Jadi, jika Talia berkhianat pun, juga tidak akan merugikan dirinya.
Faris kembali duduk di kursi kebesaran nya, tubuh tegap nya dia sandarkan pada kursi tersebut, tangan nya pun terangkat memijit pelipis yang terasa sakit. Tiba-tiba bayangan seseorang melintas dalam ingatan nya, hingga mencondongkan tubuhnya kembali.
"Ya, aku harus selesai kan segera misi ku. Aku tau apa yang harus aku lakukan!" gumam Faris sembari mengelus dagunya yang terlihat bulu-bulu halus yang baru dia cukur.
Setelah memiliki rencana, diapun langsung memanggil Diki untuk masuk ke dalam ruangan.
"Ada apa Tuan?" tanya Diki, kini dia sudah berdiri tepat di hadapan Faris.
"Kita pergi sekarang!" timpal Faris, menjawab ucapan Diki.
__ADS_1
"Kemana Tuan!" tanya Diki lagi.
"Jangan banyak bertanya, Diki! atau mulut mu akan aku jahit!" ancam Faris membuat bulu kuduk Diki mengerang.
Tanpa banyak bicara lagi pun, Diki langsung membukakan pintu mobil untuk Faris, kemudian diapun ikut masuk dan menyalakan mesin mobil.
Sekitar 50 menit di jalan, kini mobil Ferrari yang di naiki Faris di bawa oleh Diki kini berdiri dekat dengan gerbang sebuah universitas.
Faris menatap keluar jendela mobil, mata elangnya terus mencari sosok wanita yang akan dia temui.
"Diki, kau tunggu lah disini!" ujar Faris, saat dua manik nya menangkap seseorang yang dia tunggu. sedang berjalan yang arahnya keluar gerbang.
"Baik, Tuan!" jawab Diki pasrah.
Faris keluar dari dalam mobil, kakinya menyusuri rerumputan hijau di halaman kampus itu, tujuan nya sudah di depan mata, membuat nya semakin cepat mengayunkan langkah kakinya.
"Ukhti Nabil!" panggil nya dari samping wanita yang tak lain adalah Nabila.
"Tu-tuan!" pekik Nabil gugup, ntah lah sejak Faris mengatakan mengajak dirinya menikah, Nabil sedikit gerogi bila berhadapan dengan lelaki tampan dan bertubuh tegap di hadapannya saat ini.
Mungkin karna baru kali ini ada pria yang mendekati dirinya, maka dari itu, perasaan nya masih sangat labil.
Bukan nya tidak laku. Hanya saja, para lelaki enggan mendekati Nabil, karna melihat penampilan dan juga sikap Nabil yang begitu terjaga. Tapi Faris, dia bahkan dengan begitu yakin mengatakan hal yang belum pernah Nabil dengar untuk dirinya sendiri.
"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Faris. Langsung pada poin nya.
"Bicara apa, Tuan?" tanya Nabil dengan suara lembut nya, diapun langsung menundukkan kepalanya.
"Bisa ikut saya sebentar?" tanya Faris lagi. Tidak ada aura dingin dan datar, Faris berusaha keras agar bisa terlihat manis dan juga hangat.
Nabil tampak ragu, namun suara Faris lagi-lagi memohon kepada nya "Aku mohon, sebentar saja!" pinta Faris dengan wajah di buat menyedihkan, membuat Nabil mengangguk kecil.
__ADS_1
"Ikut saya!" imbuh Faris lagi, diapun melangkah dan duduk di salah satu bangku panjang yang berada di halaman kampus.
Nabil hanya berdiri karna tidak mungkin dia duduk satu bangku dengan lelaki yang bukan mahramnya.
Faris melihat jika Nabil yang berdiri mematung dengan menggenggam kedua tangan nya, pewaris bagaskara ini ingin mengajak Nabil untuk duduk, tapi dia teringat jika Nabil sangat menjaga jarak dengan lelaki, terkecuali dengan ayah nya sendiri.
Faris langsung bangun, lalu menyuruh Nabil untuk duduk "Duduk lah!" ucap Faris mempersilahkan Nabil dengan senyuman termanis terbit dari bibirnya.
"Tidak apa-apa, tuan saja yang duduk!" tolak Nabil.
"Duduk lah!" ulang Faris tidak mau di bantah, Nabil akhirnya pun menurut.
Saat ini Nabil duduk di bangku tersebut dengan Faris berdiri tak terlalu dekat, dan juga tak terlalu jauh.
"Ukhti, saya ingin menanyakan jawaban anda!" ucap Faris membuka pembicaraan setelah sempat diam beberapa saat.
"Jawaban?" tanya Nabil bingung, alis nya pun terangkat sebelah.
"Iya, jawaban! apa kamu mau menikah dengan saya!" tanya Faris dengan begitu serius.
Deggggggg
.
.
.
.
~Bersambung.
__ADS_1