
Selesai mengurus cecunguk yang menjadi duri dalam rumah tangganya, Faris langsung kembali ke kantor nya, dan saat ini dia sedang berada dalam ruangan kerja nya, di temani oleh asisten nya yang selalu berada di samping nya.
Sedari tadi hati Faris tidak tenang, matanya selalu menatap pada pintu masuk, masih berharap jika sang istri akan datang menghampiri dirinya ke kantor.
"Apa Tuan menunggu, Nona Nabil datang?" tanya Diki yang langsung membuat Faris tersentak.
"Bukan urusan mu!" jawab Faris mencibir.
Mendengar itu, Diki memutar bola matanya jengah, padahal dia jelas-jelas melihat banyak beban dalam hati bos nya itu, tapi sikap cuek dan arogan masih melekat pada dirinya.
"Apa kamu akan menutup pabrik minuman beserta bar nya? Sesuai keinginan Nona Nabil?" tanya Diki tiba-tiba, langsung membuat Faris menatap tajam ke arahnya.
"Aku membangun usaha itu sudah berpuluh-puluh tahun, Diki! Bagaimana mungkin aku menutupnya!" sergah Faris mendelik dengan tatapan tidak suka pada pertanyaan Diki.
"Lalu, apa kamu akan melepaskan Nona Nabil, jika dia meninggalkan mu?" pertanyaan Diki sungguh membuat Faris ingin menjahit bibir nya.
"Sekali lagi kamu bertanya, maka aku akan memotong bibir mu, Diki!" tukas Faris dengan mengancam.
Diki bergidik ngeri, dia langsung memegang mulut dengan tangan nya.
"Sayang sekali bibir ku yang bagus ini jika di potong, bahkan aku belum pernah merasakan yang namanya ciuman, masak sudah di potong!" batin Diki sambil menatap Faris yang sedang sibuk dengan berkas di hadapannya.
Tidak berapa lama, pintu ruangan Faris di ketuk dari luar.
"Masuk!" pekik Faris, hatinya kembali berdetak kencang karena masih berharap istrinya yang datang mengantar kan dirinya makan siang.
Ceklek...
Raut wajah Faris langsung menyurut, kembali dingin dan kaku, saat melihat seorang wanita dengan menjinjing kotak makan bukan Nabil.
"Tuan, tadi pak Ahmad menitipkan makanan untuk Tuan, katanya ini dari istri anda!" ucap wanita itu yang ternyata Nisa, resepsionis di kantor tersebut.
Faris menatap sekilas, terlihat wajah nya sedikit kecewa "Letakkan di sini!" ucap nya menyuruh Nisa meletakkan kotak makan pada meja kerja nya.
"Baik, Tuan?" setelah itu Nisa meletakkan kotak makan pada meja kerja Presdir nya, kemudian dia langsung pamit untuk keluar.
"Diki...!" panggil Faris membuat Diki yang sedang menggeser layar dalam pangkuan nya di atas sofa menoleh.
"Iya, Tuan!" jawab Diki spontan.
"Keluar dari sini!" perintah Faris tanpa mau di bantah.
"Apa...?" tanya Diki karna Faris tiba-tiba menyuruh dirinya keluar.
"Keluar kataku...!" sergah Faris menekan semua katanya.
"Ba-baik, Tuan!" tidak ingin menjadi sasaran kemarahan sang bos, Diki langsung mengambil langkah seribu, dia paham, mood Faris sedang tidak baik, karna harapan nya sedang tidak tersampaikan.
"Duh... capek juga saat lelaki dingin ini jatuh cinta!" ucap Diki menggerutu di dalam hati.
__ADS_1
Melihat pintu ruangan nya tertutup setelah Diki keluar, Faris meraup wajahnya dengan begitu kasar.
"Akhhhhhh...! Kenapa pikiran ku tidak bisa lepas dari mu, hah!" teriak Faris merasa frustasi dengan rasa nya yang selalu teringat akan sang istri.
Sedari tadi hatinya benar-benar tidak tenang, gelisah takut Nabil meninggalkan dirinya.
Dengan begitu lesu, Faris mengambil kotak makan tersebut "Bisakah kamu menerima semua keadaan ku, aku sangat mencintaimu, tapi aku juga tidak bisa menutup semua usaha ku!" gumam Faris, menatap dalam kotak makan dari istri nya itu.
"Aku berharap kamu akan mengerti, jika aku tidak bisa memilih salah satunya!" sambung nya lagi.
...****************...
Tiga hari sudah berlalu, hubungan pasangan suami istri ini semakin merenggang, pulang dari kantor, Faris langsung masuk ke dalam ruangan kerjanya, bukan karna ingin menjauhi Nabil, akan tetapi dia tidak bisa menahan hasratnya saat bersama dengan sang istri, meski dia punya hak pada Nabil, akan tetapi dia tidak mau memaksa Nabil, terlebih istri nya itu terkesan menjauhi dirinya.
Akan tetapi, tanpa Nabil sadari Faris selalu mendatangi kamar nya saat Nabil tertidur, hanya sebentar. Cuma ingin melihat wajah Nabil yang membuat dirinya merasa tenang.
Sedangkan Nabil, dia semakin merasa kecewa, karna Faris sampai sekarang belum memenuhi permintaan nya, malah menurut Nabil Faris semakin menjauhi dirinya.
Sekarang ini Nabil semakin sering mengurung dirinya di dalam kamar. Setiap malam dia bangun di sepertiga malam, memohon petunjuk dan ketenangan dalam menghadapi masalah nya saat ini.
Seperti malam ini, saat terbangun dari tidurnya setelah melaksanakan solat istikharah, sekarang ini dia sedang solat tahajud.
Doa yang selalu dia panjatkan, masih berharap sang suami mau berubah, dan di beri keihklasan jika jalan mereka harus berpisah.
Selesai berdoa, seperti biasa Nabil langsung membaca Alquran, selama tiga malam ini Nabil sering bergadang, setelah solat tahajud, Nabil mengaji sampai masuk waktu subuh.
Setiap malam nya Nabil menangis di sisi Faris tanpa suara, mengingat Faris yang terkesan semakin cuek, membuat dia ragu jika suaminya itu memang rela melepaskan dirinya pergi.
Tangan nya dengan begitu gemeteran terangkat, mengelus kepala sang suami dengan begitu lembut, setelah itu di kecup nya begitu lama dahi Faris.
"Aku sangat mencintai dan menyayangi mu, Mas!" ucap Nabil dengan suara begitu kecil, yang mampu di dengar oleh dirinya sendiri.
Tidak ingin berlama-lama, Nabil memilih keluar lalu kembali melanjutkan kegiatan nya membaca Alquran hingga waktu subuh menghampiri.
Pukul 05:40 pagi, Nabil merapikan mukena nya sambil melantunkan solawat dari bibirnya. Setelah merapikan nya, dia berniat keluar tujuan nya memasak untuk sang suami.
Akan tetapi, saat dia ingin melangkah, tiba-tiba kepala nya terasa begitu pusing, rasanya ruangan kamar terasa berputar, sampai Nabil harus berpegangan pada dinding kamar.
"Ya Allah ... Kenapa kepalaku selalu pusing begini!" gumam Nabil sendiri.
"Apa karna aku selalu bergadang dan juga sering menangis, mungkin tensi ku menurun!" lanjut Nabil bergumam, menduga.
Setelah sedikit lama berdiri sambil memegang kepalanya, hingga pusingnya sedikit berkurang, Nabil langsung melangkah keluar untuk memasak.
...****************...
Satu jam lebih berkutat di dapur, Nabil selesai memasak, dia kembali masuk ke dalam kamar, pemandangan pertamanya setelah melangkah masuk adalah wajah dingin sang suami, yang sedang memegang dasi ingin memakainya.
Nabil melangkah mendekat, mengambil dasi yang memang di berikan oleh Faris, lalu memakai kan nya pada leher sang suami.
__ADS_1
Ini adalah momen yang sangat di sukai Faris, karna dapat menatap wajah sang istri dengan jarak yang begitu dekat, akan tetapi hari ini ada yang beda, wajah cantik Nabil terlihat pucat, dan dia melihat tubuhnya juga sedikit kurus.
"Apa kamu sakit?" tanya Faris sambil memegang dagu sang istri.
Nabil menoleh, lalu tersenyum "Aku tidak apa-apa!" jawab Nabil.
"Kita ke dokter, aku tidak ingin sesuatu terjadi pada dirimu!" tukas Faris lagi.
"Tidak perlu, Mas berangkat lah kekantor! Aku hanya perlu istirahat!" jawab Nabil seadanya.
Faris hanya bisa menghela nafas nya, kenapa dia tidak bisa memaksa sang istri, karna takut akan semakin menyakiti Nabil.
Meski hubungan mereka semakin jauh, akan tetapi Nabil masih berperan sebagai seorang istri terhadap Faris, Tapi, melayani sang suami, menyiapkan pakaian, air mandi, sarapan dan makan siang untuk Faris, sampai mengantar Faris saat hendak berangkat kerja.
Sama seperti pagi ini, meski rasa pusing nya kembali melanda, akan tetapi Nabil menahan nya, karna takut jika Faris tidak akan berangkat ke kantor jika tau dia sedang sakit.
"Hati-hati, Mas!" ujar Nabil sambil mencium punggung tangan nya.
"Hem ... jaga dirimu!" timpal Faris, memperingati balik, juga mencium kening sang istri.
Nabil berusaha tersenyum, melihat interaksi keduanya saat ini, sama sekali tidak terlihat jika hubungan mereka sedang tidak sehat, bahkan para maid di kediaman Bagaskara tidak satu orang pun mengetahui cekcok antara mereka.
Nabil benar-benar menyembunyikan rahasia kejelekan dalam rumah tangganya kepada siapapun, termasuk kedua orang tuanya.
Melihat mobil Faris sudah hilang dari pandangan matanya, Nabil melangkah masuk, tapi lagi-lagi tubuhnya kembali terhuyung, hingga dia harus berpegangan pada pintu.
Tidak tahan dengan rasa pusing yang semakin membuat dunia terasa berputar, pandangan nya buram, perlahan menjadi gelap, kakinya juga tidak sanggup lagi untuk menopang tubuhnya, hingga membuat Nabil jatuh pingsan ke lantai.
Bi Mila yang tanpa sengaja melewati ruangan tamu begitu terkejut melihat Nona nya sudah terkapar di lantai tanpa sadarkan diri.
"Nona...!"
"Apa! Istri saya pingsan...?"
.
.
.
.
.
.
~Bersambung.
Jangan lupa like, komen dan vote ya semuanya ❤️.
__ADS_1