
Tepat di hari Mira pulang dari pondok pesantren, wanita muda ini terus saja tersenyum, hari ini dia merasa sangat senang, karna dia akan menerima lamaran dari, Diki. Asisten suami sahabat nya.
Mira sudah meminta izin pada Bunda nya untuk menemui Diki di taman, karna Mira tidak bisa menyembunyikan apapun dari wanita yang sangat dia sayangi itu.
Tanpa pulang ke rumah terlebih dahulu, Mira langsung di antarkan ke taman tempat dia menjanjikan pada Diki, tanpa larangan atau bantahan kedua orang tua Mira langsung menyetujui nya.
Sekarang ini Mira tengah duduk di bangku taman tempat terakhir dia dan Diki bertemu.
Tidak tau kenapa hari Mira begitu merasa senang, meski dia sedikit ragu jika Diki akan berubah pikiran, tetapi mengingat tekat Diki yang dulu begitu serius membuat rasa senang nya kembali datang.
Apa lagi mendengar dari sang bunda jika Diki sudah sangat berubah, menurut yang bunda ketahui dari Nabil, Diki tidak pernah meninggalkan solat nya lagi.
Selama sebulan di dalam pesantren pun Mira selalu mencari jawaban kepada sang kuasa, apa dia harus menerima Diki atau menunggu lelaki yang telah melukai hatinya tanpa kejelasan yang pasti.
Akan tetapi semakin hari rasa kepada Diki semakin tumbuh, mengikis kan rasa terhadap Amir yang dulu sempat bersemayam.
Dan sekarang dia sudah yakin dengan pilihan nya, dia akan menjadikan Diki sebagai imam nya.
...****************...
Sementara Mira yang sudah tidak sabar menunggu kedatangan Diki, di rumah nya Amir baru saja tiba.
Bertepatan dengan Bunda dan Ayah nya Mira turun dari dalam mobil, Amir langsung menemui mereka, menyalami ke duanya.
Meski ada rasa kecewa dengan mantan calon menantu mereka, akan tetapi Ayah dan Bunda Mira tetap berbicara baik dengan anak sahabat mereka itu.
"Assalamualaikum, Ayah, Bunda!" sapa Amir sambil mencium tangan keduanya.
"Waalaikumsalam, kamu sudah pulang, Mir?" jawab Bunda sekaligus bertanya.
"Sudah, Bunda! Hanya beberapa hari saja karna Mama kurang sehat,"
"Mama kamu sakit apa?"
"Cuma demam biasa, mungkin karna merindukan Amir, makanya Amir pulang,"
"Oh ... Titip salam untuk Mama, Mir!"
"Baik, Bunda, nanti Amir sampaikan."
"Ya sudah, ayo kita masuk dulu,"
Tanpa rasa canggung atau malu, Amir mengangguk dan ikut masuk, dia seolah tidak ingat dengan rasa sakit yang dia tinggalkan untuk Mira.
"Minum, Mir?" tanya Bunda.
Ayah Mira hanya duduk diam, tidak tau harus mengatakan apa, dia masih sakit bila mengingat anak nya yang di permainan oleh Amir.
__ADS_1
"Tidak usah, Bund! Amir mau menemui Mira, apa dia ada di rumah atau di pesantren?" tanya Mira.
Bunda melirik pada Ayah yang terlihat tanpa ekspresi.
"Dia sudah pulang, kami baru saja menjemput nya,"
"Lalu dia dimana, Bunda?"
"Untuk apa kamu tanya Mira lagi, Amir? Bukan kah kamu sudah memutuskan hubungan dengan nya?" tanya Ayah Mira yang sudah tidak bisa menahan rasa marahnya lagi.
Amir terdiam sesaat, memikirkan jawaban yang akan di berikan "Justru karna itu, Amir mau menemui Mira, Amir mau minta maaf dan mengajak Mira untuk kembali," jawab Amir tanpa perasaan bersalah.
Ayah langsung menatap marah pada Amir, bisa-bisa nya setelah memberikan luka kini dia datang kembali setelah haru Mira sembuh karna orang lain.
Ayah Mira memang mengetahui Diki menyukai Mira dan dia percaya jika lelaki itu tidak akan menyakiti putri kesayangannya itu, maka dari itu Ayah selalu mengizinkan jika Mira bersama Diki.
Saat ingin menjawab, bunda langsung memotong nya "Dia di taman,"
Ayah langsung melotot pada Bunda, dia tidak setuju istrinya memberitahu pada Amir keberadaan sang putri.
"Kalau begitu saya permisi, Bunda, Ayah!"
Selepas kepergian Amir, Ayah langsung menatap Bunda "Kenapa kamu memberitahu nya kalau anak kita berada di taman, padahal kamu tau sendiri dia akan menerima, Diki. Lelaki yang selalu ada di saat putri kita terluka?"
"Aku sengaja, Mas! Biar mereka selesaikan urusan mereka, Amir harus tau jika putri kita tidak lagi mencintai nya, dia harus mendengar langsung dari mulut Mira, jika kita yang memberitahu, maka Amir tidak akan percaya,"
"Aku percaya pada putri kita, dia orang yang berprinsip," jawab Bunda lagi. Ayah hanya bisa menghela nafas panjang mendengar ucapan sang istri.
...****************...
Sementara Amir sudah berada di taman, dia langsung melangkah mencari wanita yang sudah dia sakiti itu.
Setelah memutuskan Mira, Amir terus memikirkan mantan tunangan nya itu, dia ntah kenapa dia merasa tidak rela jika tidak mencintai dirinya lagi, dan karna alasan itu dia sengaja pulang, untuk memastikan jika Mira masih mencintainya.
Sampai di teman, bibir Amir langsung tersenyum, perlahan dia mendekati Mira. Beberapa bulan tidak melihat Mira, hati Amir semakin merasakan getaran cinta untuk mantan tunangan nya itu.
"Mira..." Panggil Amir dengan ragu.
"Kak Dik--" bibir Nabil langsung terbungkam saat dia melihat lelaki di belakang nya.
Deg....
Kenapa bukan Diki yang dia lihat, kenapa malah lelaki yang sudah dia lupakan dua bulan lalu? Kemana lelaki yang dia tunggu, Mira melihat Amir bukan lagi rasa cinta dan getaran hebat di hatinya, hanya rasa sakit, kecewa, meski sudah memaafkan tapi rasa itu tidak mudah hilang.
Sementara Amir, jantung nya berdetak sangat kencang, mendengar Mira menyebut nama lelaki lain, sungguh dia tidak mengira jika wanita itu bisa bersama laki-laki lain.
"Amir," gumam Mira.
__ADS_1
Amir berusaha tersenyum pada wanita yang masih dia cintai "Apa aku boleh duduk?" tanya Amir.
Mira mengangguk, Amir langsung duduk di ujung kursi panjang tersebut.
"Bagaimana kabarmu, Mira?" tanya Amir melihat ke arah Mira yang sedang menatap ke depan, seolah wanita itu enggan melihat ke arahnya.
"Alhamdulillah, baik!" hanya jawaban singkat, Amir merasa Mira sangat berbeda, jika dulu wanita itu selalu menunduk dan malu-malu jika bertemu dengan dirinya.
"Alhamdulillah, aku juga baik," lirih Amir tanpa di tanya, namun Mira tidak menggubris. Dia sibuk mencari keberadaan lelaki yang dia tunggu.
Amir hanya bisa tersenyum getir "Apa kamu sedang menunggu seseorang?"
"Menurut mu?"
"Apa dia orang yang spesial?"
"Sangat, karna dia orang yang sangat baik, yang tidak meninggalkan tanpa alasan yang jelas,"
Seketika Amir terdiam, kata-kata Mira bagaikan tamparan keras untuk dirinya, karna dulu dia memutuskan pertunangan mereka hanya melalui surat.
"Maafkan aku, Mira! Dulu aku--"
"Tidak usah menjelaskan apa-apa, kita sudah tidak ada hubungan lagi, " Mita langsung memotong ucapan Amir yang dia tau lelaki itu akan menjelaskan tentang kepergian nya dulu.
"Tapi aku sudah pulang, Ra! Aku pulang untuk menemui mu, aku ingin kita kembali lagi, aku ingin melanjutkan pertunangan kita lagi, aku juga yakin jika kamu masih mencintai ku,"
Deg....
.
.
.
.
.
.
.
~Bersambung.
...Ih ... Si Amir kok muncul lagi sih, pada waktu yang tidak tepat lagi....
...Jangan lupa ya like komen dan juga Vote....
__ADS_1
...Bantu dukung juga dengan bintang dan hadiah sebanyak-banyak nya....