
Di tengah malam gelap sunyi sepi terasa, hanya terdengar beberapa suara kendaraan yang masih lalu lalang di jalanan, yang mungkin masih beraktivitas.
Faris terjaga tepat pukul 03:00 pagi, matanya langsung menangkap sosok wanita yang sangat berarti dalam hidupnya saat ini sedang terlelap begitu damai dalam dekapan nya. Perlahan dia mencium kepala wanita tersebut.
Setelah pergulatan panas mereka yang di lanjutkan setelah makan malam, keduanya sama-sama tertidur, dan saat ini Nabil dengan begitu tenang tidur dalam pelukan Faris, mungkin saja itu karna dia terlalu lelah.
Karna masih terlalu pagi dan Faris tidak bisa tidur lagi, dia iseng-iseng mengambil ponselnya, lalu dia masuk dalam situs web Google. Dia sudah mulai penasaran dengan ilmu-ilmu agama yang selalu di bicarakan oleh istrinya.
Ragu-ragu dia mengetik tata cara wudhu sampai solat, meski dulu selalu mengerjakan nya, tapi sekarang dia sudah lupa, karna sudah sangat lama dia tidak pernah melaksanakan nya lagi.
Dengan sangat teliti Faris menatap layar ponsel di tangan nya, suara sengaja dia kecilkan karna takut akan membangun kan sang istri. Faris juga tidak ingin Nabil mengetahui jika dirinya diam-diam melihat tatacara melaksanakan solat.
Dengan terus melihat tayangan yang di perlihatkan pada layar pergi berukuran kecil itu, hingga tanpa sadar perlahan fajar mulai menyapa.
Di kala dia merasakan pergerakan dari wanita dalam pelukan nya itu, dan dia juga melihat jika istri nya mulai mengerjap, dengan begitu cepat dia mematikan ponselnya, kemudian dia berpura-pura tertidur kembali.
Sedangkan Nabil mulai membuka matanya, pandangan pertama nya dia lihat adalah wajah sang suami. Bibir nya tersenyum, tangannya pun perlahan terulur menyentuh wajah yang berahang tegas.
"kamu benar-benar sangat tampan, Mas. Bahkan dirimu bisa di bilang sangat sempurna!" gumam Nabil memuji suaminya itu.
"Aku bersyukur mas, bisa hidup dengan mu, kamu lelaki yang sangat baik, penyayang dan juga sangat mencintai ku. Akan tetapi, akan lebih membuat ku bahagia jika kamu bisa meninggalkan dunia mu itu dan kembali kejalan nya, jadi imam yang baik, penuntun ku menuju surga ku!" lanjutnya membatin sambil terus mengelus wajah Faris.
"Apa kamu tidak merasa puas meski selalu melihat wajah tampan ku ini, sayang?" suara serak Faris bertanya mengejutkan Nabil, pasalnya Faris berbicara masih memejamkan matanya.
"Mas, sejak kapan kamu bangun?" tanya Nabil merasa sangat malu, karna tepergok sedang mengagumi wajah tampan sang suami.
"Yang jelas aku mendengar saat kamu mengatakan jika aku tampan dan juga sangat sempurna." jawab Faris semakin membuat sang istri merasa malu.
"Sudah, Mas, aku mau solat subuh dulu!" Nabil langsung menggeserkan tubuhnya lalu turun dari tempat tidur menuju ke dalam kamar mandi.
Faris hanya terkekeh melihat sikap Nabil yang menurutnya sangat menggemaskan.
"Maafkan aku, karna belum bisa jadi imam yang baik seperti yang kamu inginkan!" batin Faris, dia sudah mulai merasa tidak enak karena tidak bisa menjadi lelaki seperti keinginan Nabil.
...****************...
__ADS_1
Pagi hari, selesai sarapan keduanya juga sudah siap berpakaian. Tujuan mereka saat ini adalah mendatangi kediaman Tante Riska.
"Mas, coba lihat apa pakaian ku sudah pas?" tanya Nabil yang mendapat respon aneh dari Faris.
"Kenapa kamu bertanya tentang itu kali ini, sayang? Biasanya kamu tidak terlalu perduli dengan penampilan mu. Apa kamu berharap akan bertemu lelaki di sana?" tanya Faris dengan mengerutkan keningnya. Tepat itu sebuah tuduhan.
Nabil yang mendengar nya pun ikut bingung, dia kan hanya bertanya, mengapa suaminya sangat berlebihan.
"Mas, aku hanya bertanya, jujur aku sangat merasa grogi, di banding kan bertemu dengan cowok, ini lebih membuat ku tidak percaya diri." ungkap Nabil, ntah kenapa dia takut jika tante nya yang seorang dokter menilai penampilan nya tidak bagus, ntah kenapa saat ini Nabil terlalu berlebihan, perasaan nya juga semakin tajam jika menilai sesuatu, dan yang paling berbeda, Nabil menjadi orang yang sangat sensitif.
Mendengar jawaban sang istri juga melihat mimik wajahnya, membuat Faris mengukir senyuman, kemudian calon ayah anak yang Nabil kandung ini mendekat, lalu merapat kan tubuh mereka dengan dia memeluk Nabil dari belakang.
"Kamu tau sayang, kamu adalah wanita tercantik yang pernah aku temui di dunia ini. Mata mu, sungguh terkadang aku ingin menutup nya, karna dengan mata indah yang kamu miliki, kaum pria dapat tersihir oleh nya. Soal Tante Riska, kamu tidak perlu khawatir, karna dia juga pengagum kecantikan mu." ujar Faris berbisik di telinga Nabil.
Nabil berbalik, menatap sang suami "Apa Mas sedang menghibur ku? Bahkan Tante Riska belum melihat ku!" timpal Nabil lagi merasa belum percaya.
"Sebelum kita ke rumah sakit, dia sudah melihat wajah mu, sayang! Waktu kamu pingsan di rumah, aku menyuruh Tante datang ke rumah untuk memeriksa keadaan mu, dan akhirnya dia menyuruh ku membawa mu ke rumah sakit!" tukas Faris dengan begitu sabar menjelaskan panjang lebar.
Sebenarnya Faris tipikal orang yang tidak suka bicara banyak, apalagi tentang gombalan atau rayuan, tidak ada dalam kamus Faris sebelumnya, tapi sejak Nabil masuk dalam kehidupan nya, dia menjadi lelaki bucin yang punya banyak kata layaknya sang pujangga.
"Sudah, kamu tidak perlu memikirkan yang tidak-tidak, sekarang kita berangkat ya!" Faris langsung melingkarkan tangannya di pinggang sang istri, mengajak nya untuk keluar.
Sudah ada Diki yang berdiri menunggu mereka di sebelah mobil yang akan mereka tumpangi.
"Selamat pagi, Tuan, Nona!" sapa Diki dengan wajah kaku.
"Pagi, Kak Diki" jawab Nabil membalas sapaan asisten suaminya.
"Hekhem, biasa kita berangkat sekarang?" tanya Faris dengan nada sangat dingin.
Diki mengangguk, dia menduga jika bosnya itu cemburu karna Nabil menjawab sapaan nya.
Mereka masuk, setelah Diki membukakan pintu untuk keduanya, dan di susul dirinya yang duduk di bangku depan.
"Sebelum kita pergi, apa kamu tidak ingin mengucapkan selamat pada ku Diki?" tanya Faris, membuat Diki melihat pada nya melalui kaca spion dalam mobil.
__ADS_1
"Selamat atas apa Tuan?" tanya Diki yang memang belum tau.
Faris tersenyum, kemudian mengelus perut sang istri, lalu dengan bangga dia mengatakan "Istriku sedang mengandung, aku sudah berhasil menitipkan benih yang unggul, Diki."
Mendengar itu sungguh sangat membuat Diki terasa bahagia, itu artinya bos nya benar-benar sudah sembuh, tau seperti ini, dari dulu saja dia carikan Nabil untuk tuan nya, daripada dia harus capek-capek bolak balik keluar negeri menemani Faris berobat.
"Selamat Tuan, Nona atas kehamilannya, semoga bayinya sehat selalu!" ucap Diki, meski dia orang yang sangat bahagia, akan tetapi Diki juga orang yang kaku seperti Faris, dia tidak akan bisa mengatur kata-kata panjang lebar.
"Hemmm ... Kamu cepat-cepat lah menikah, meski sulit mendapatkan wanita yang mencintaimu, tapi berusahalah mencarinya!" bagaikan hantaman batu mengenai hatinya, kata-kata Faris sungguh sangat menohok hati nya.
"Akan saya carikan, Tuan." timpal Diki tidak ingin berdebat.
Nabil yang mendengar hanya menggeleng, suaminya kalau berbicara memang tidak pernah di saring terlebih dahulu, untung saja Diki sudah paham dengan perilaku bos nya itu, jadi dia tidak lagi mempermasalahkan setiap kata yang keluar dari mulut Faris.
Mobilpun bergerak, berjalan dan membelah jalan raya, bergabung dengan kendaraan yang sudah memadati jalanan kota.
Seiring roda berputar, jam pun terus menunjukkan pukul yang berbeda. Sekitar lima puluh menit, tanpa terasa mereka sampai di sebuah mansion yang sangat besar.
Meski tidak sebesar mansion Bagaskara, akan tetapi rumah di hadapan Nabil ini juga bisa di katakan sangat mewah juga elegan.
Faris turun, lalu membimbing sang istri untuk ikut turun, di pintu masuk sudah terlihat wanita berhijab yang umurnya hampir setengah baya, tapi masih terlihat sangat cantik. Di sebelahnya ada seorang lelaki yang menatap nya inten dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Assalamualaikum!"
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
~Bersambung.
Jangan lupa Like, komen juga vote ya kakak ku tersayang ❤️.