
Setelah mengucapkan selamat pada Faris, kini Rangga berdiri di hadapan Nabil, Faris menatap nya dengan tajam, tangan nya semakin erat memeluk pinggang Nabil, Heri dan Putra hanya saling tatap, tidak ada yang tau bagaimana perasaan Rangga saat ini.
"Selamat ya, Zaiyan! Kamu sudah menjadi seorang istri dan sebentar lagi akan menjadi seorang ibu," ucap Rangga, matanya menatap dalam manik istri sahabatnya itu.
"Kak Rangga!" panggil Nabil, seolah dia belum percaya jika di hadapannya itu adalah Rangga, kakak kelas yang dari dulu selalu mengatakan mencintai dirinya.
"Iya, Zai! Ini Kakak, Selamat ya!" ujar Rangga lagi, Nabil hanya tersenyum dan mengangguk, dia menganggap Rangga sama seperti Putra dan Heri, tidak ada perasaan apapun, karna seluruh cintanya habis di berikan pada lelaki yang sudah berstatus suaminya.
"Iya, Kak! Terimakasih sudah mau hadir,"
"Hekhem!" suara deheman Faris mengagetkan Rangga dan Nabil, tidak ingin membuat Faris marah, Rangga langsung turun menyusul ke dua sahabatnya.
Mira dan Diki pun ikut menyalami mereka, terlihat Diki yang berdiri di belakang Mira, dengan sesekali melotot pada Mira jika wanita itu tidak mau mendengarkan ucapan nya.
"Selamat ya, Ris, Nona!" hanya itu yang di ucapkan Diki, selanjutnya giliran Mira yang memberikan kata selamat.
"Selamat ya buat Tuan Faris dan juga kamu bil, semoga Allah limpahkan kebagian berlipat ganda,"celetuk Mira, kini merangkul bahu sahabat nya itu.
"Terimakasih ya, Ra! Ngomong-ngomong kamu juga sudah bisa untuk berumah tangga, lupakan yang sudah lewat, hargailah yang tulus pada kita." imbuh Nabil menasehati Mira, dia bermaksud membuka mata Mira, karna Diki selama ini memang tampak menyimpan rasa untuk sahabat baiknya itu.
Mira hanya menanggapi dengan senyuman "Kita bisa bicarakan ini lain waktu, Bil! Sekarang adalah hari bahagia mu, jadi nikmati lah." tukas Mira, setelah mengatakan hal tersebut, dia pun turun, hendak melangkah pada kedua orang tuanya, tapi lagi-lagi Diki menariknya.
"Apa kamu mau kembali ke sana lagi? Belum cukupkah para lelaki itu menggoda dirimu?" tanya Diki, dia langsung membawa Mira pada meja yang mereka duduki tadi.
"Mengapa anda terus mengatur dan memerintah saya, memang nya siapa anda?" tanya Mira dengan nada tak bersahabat pada Diki.
"Karna kamu adalah wanita ku, Mira. Mengerti lah." tukas Diki dengan begitu lantang.
"Aku bukan wanita mu, aku hanya anak Ayah dan Bunda, tidak ada ikatan di antara kita, jadi jangan sebut aku sebagai wanita mu!" sergah Mira, dia tidak terima karna Diki terus mengekang dirinya dengan kata-kata wanita nya.
Diki tersenyum miring "Maka akan aku buat kamu menjadi wanita ku, secepatnya aku akan menjadi orang yang mempunyai ikatan dengan mu, tunggu saja saatnya," ujar Diki yang tidak mau kalah.
__ADS_1
"Satu yang harus kamu ketahui, aku tidak akan membiarkan seseorang pun menatap apalagi menyentuh apa yang sudah menjadi milikku." lanjut Diki penuh penekanan.
Mira tampak begitu kesal, dia merasa Diki egois yang melakukan hal semau dirinya saja tanpa memikirkan perasaan Mira. Terlebih dia tidak mengerti yang di maksud Diki mengatakan dia milik nya, bukan kah Diki belum mengatakan apapun, dan belum menembak atau melamar diri nya, kenapa Diki dengan beraninya mengatakan jika Mira miliknya. Pikir Mira.
"Ada apa dengan ku ini, apa aku berharap Diki mengatakan menyukai ku!" batin Mira kini menjerit.
"Tidak-tidak, mana mungkin aku menginginkan itu dari lelaki menyebalkan ini! Aku hanya tidak suka dengan caranya yang seenaknya mengatakan aku miliknya, sudah jelas aku adalah milik orang tua ku!" lanjut Mira masih adu argumen dengan pikirannya.
Acara masih terus berlanjut, Nabil dan Faris masih setia menyambut para tamu yang hadir yang jumlahnya cukup banyak.
"Sayang apa kamu sudah lelah?" tanya Faris karna melihat sang istri berdiri seperti orang gelisah.
"Betis ku sakit, Mas! Kamu tau sendiri aku tidak biasa memakai heels, rasanya mulai keram!" jawab Nabil dengan sesekali meringis.
"Kita duduk saja, Sayang!" dengan penuh kehati-hatian Faris mendudukkan Nabil pada kursi pelaminan, berjongkok dan membuka heels yang di gunakan wanita nya.
"Jangan di paksakan jika memang kamu tidak sanggup." celetuk Faris lagi, tangan nya pun terangkat mengusap perut sang istri yang sudah hampir membuncit.
"Sabar ya, anak Abi! Sebentar lagi kita akan masuk kamar!" gumam Faris di depan perut Nabil, membuat wajah sang istri memerah menahan malu, para reporter tidak tertinggal sedikitpun gerak gerik Faris, sontak dalam ruangan tersebut terdengar para perempuan berteriak, antara iri dan juga ingin di perlakukan seperti itu oleh pria setampan dan sekaya Faris.
"Atau Ummi mau ingin kita ke kamar sekarang?" lanjut Faris berbisik di telinga sang istri.
Mendengar itu Nabil langsung mencubit lengan sang suami "Di sini masih banyak tamu, dan aku juga masih kuat kok untuk menyambut mereka semua," elak Nabil.
"Yang benar saja kamu mau menyambut para tamu yang jumlahnya sangat banyak," protes Faris tidak setuju.
"Salah kamu sendiri, kenapa mengundang begitu banyak tamu?"
"Itu urusan Diki dan sahabat mu,"
"Oh iy, aku lupa jika kalian semua bekerjasama, hanya aku yang tidak tau!" ucap Nabil lagi, mengulang kata-kata yang sudah beberapa kali dia ucapkan.
__ADS_1
Faris hanya terkekeh, dia memeluk pinggang sang istri dan mencium lembut tangan Nabil, seolah tidak ada waktu lagi untuk melakukan nya.
...****************...
Sementara di aula pernikahan, Nabil dan Faris tengah berbahagia, lain halnya di sebuah kamar Apartemen, seseorang sedang Frustasi memecahkan barang-barang yang ada di dalam kamarnya, terlihat kini kamar yang mulanya rapi sudah seperti kapal pecah.
"Akhhhhh ... Sial! Kenapa semuanya jadi seperti ini! Aku tidak rela, tidak akan rela kalian hidup bahagia, lihat saja, aku akan memisahkan kalian berdua!" Jerit orang itu, sambil melemparkan vas bunga pada TV yang sedang di siaran langsungkan acara resepsi pernikahan Nabil dan Faris.
"Percuma aku membuat berita tentang mereka jika akhirnya malah membuat Faris meresmikan pernikahan mereka!" lanjut nya lagi dengan amarah yang menggebu-gebu.
Orang itu kelihatan sangat menyedihkan, matanya penuh dengan dendam dan kebencian, bahkan tanpa sadar dia menggenggam serpihan vas bunga hingga tangan nya mengeluarkan darah.
"Lihat saja, apa yang akan bisa aku lakukan." gumam nya, matanya menatap tajam ke depan, menandakan jika tekadnya tidak main-main.
.
.
.
.
.
.
~Bersambung.
Nah loh, siapa lagi yang berniat jahat sama babang Faris dan mbak Nabil, padahal mereka orang baik loh, kok ada aja yang ngiri, heran aku.
Jangan lupa Like komen dan juga Vote ya kakak ku sayang.
__ADS_1
Kalian kok hemat banget sih buat ngasih Vote ke karya ku, padhal kan aku cuman minta dari seorang satu Vote setiap minggunya. Hehehhe
Bantu dukung juga dengan bintang dan hadiah sebanyak-banyak nya.