
Mira mendadak kaku mendengar pertanyaan, Diki. Apa dia harus jujur kalau dia tau dari bau parfum yang begitu melekat di bunga tersebut, nanti Diki malah besar kepala.
"Hei, kenapa jadi diam, kan aku bertanya?" ulang Diki mengagetkan Mira yang tengah melamun.
"Iya, Kak. Gimana?" tanya Mira pura-pura terkejut.
"Darimana kamu tau jika bunga itu dari saya?"
"Memang nya saya pernah bilang ini dari, Kakak?"
Diki mengerutkan keningnya "Kan saya bilang, bunga ini dari laki-laki yang lebih dulu pergi tanpa mencari tau kebenaran nya, kenapa kakak bilang kalau ini dari kakak, oh jadi lelaki itu kakak ya?" tanya balik Mira membuat Diki kalah telak.
Diki terdiam kaku, tidak ingin selalu di ejek oleh wanita nya pun, Diki langsung mengalihkan pembicaraan.
"Mira..." Panggil Diki yang duduk tidak terlalu dekat dengan Mira.
"Iya, Kak!"
Diki mengeluarkan kotak kecil merah berwarna merah, berbetuk hati, dia membuka nya lalu menyodorkan pada Mira sambil berlutut dihadapan wanita yang di cintai nya.
"Aku tidak mengajak mu untuk pacaran, karna aku benar-benar telah serius dengan mu, aku ingin kamu menerima ku sebagai calon suami mu," ucap Diki masih dengan di hadapan Mira.
Sedangkan Mira langsung tersipu malu "Aku-- Aku-"
"Apa waktu satu bulan ini tidak cukup untuk mu berpikir? Bukan kah kamu berjanji akan memberikan jawaban nya hari ini. Please, Mira, jangan gantung kan perasaan dengan jawaban yang belum kamu berikan," tukas Diki lagi.
Dengan wajah merona di balik niqab, Mira mengangguk kecil pertanyaan dari Diki.
"Maksudnya apa, Ra? Jangan hanya mengangguk, aku tidak akan paham." Diki masih belum puas jika belum mendengar dari Mira langsung.
"I--iya, Kak! Aku mau," jawab Mira yang masih berusaha membuang rada malunya.
Karna bahagia mendengar jawaban dari Mira, Diki langsung ancang-ancang ingin memeluk Mira, akan tetapi wanita itu langsung memajukan tangan nya di depan Diki.
"Jangan coba-coba, kita masih belum sah," tolak Mira, tidak mungkin dia melakukan kesalahan yang ke dua kalinya.
"Hehe, kan aku senang, Ra!" Diki hanya tercengir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Apapun alasannya, jika belum halal, maka jangan coba-coba," kata Mira lagi begitu tegas.
"Hem ... Baiklah, cincin nya aku yang pakaikan atau kamu mau pakek sendiri?" tanya Diki, jika Mira bukan wanita yang menjaga jarak dengan lelaki, mungkin tanpa bertanya dia sudah langsung menyematkan cincin di jari manis Mira, akan tetapi dia tau siapa wanita yang di lamar nya ini.
"Sebelum Kakak mendatangi rumah untuk menemuinya Ayah dan Bunda, maka cincin itu tidak akan melekat di jari ku," sarkas Mira seolah memberi arahan pada Diki, jika lelaki itu harus melamar nya ke pada Ayah dan Bunda nya.
"Baiklah, kita pergi sekarang!" Diki tampaknya sudah sangat tidak sabar, membuat mata Mira seketika membulat.
"Apa, sekarang?" ulang Mira bertanya.
"Iya, sekarang!"
"Tapi, Kak--"
"Tidak ada tapi-tapian lagi, sekarang kamu ikut aku, hujan pun sudah reda." Diki langsung menarik lengan baju Mira, hal yang selalu dia lakukan jika Mira tidak menurut apa yang dia katakan, tapi itu malah membuat Mira tersenyum.
__ADS_1
Diki dan Mira kini sudah berada di jalan, menuju rumah Mira, untuk mendapatkan restu dari kedua orang tua, Mira. Beruntung hujan sudah berhenti, seolah memberikan jalan untuk mereka agar bisa meminta restu secepatnya.
Sepanjang jalan, Diki tidak pernah berhenti tersenyum, hingga Mira menyadari dan menegur nya.
"Kenapa senyum-senyum terus?" tanya Mira protes.
"Karna aku bahagia," jawab Diki santai.
"Bahagia kenapa?"
"Karna kamu telah menerima ku lah,"
"Itu masih aku, Kak! Belum Ayah dan Bunda, jika mereka tidak setuju, maka kita tidak bisa berbuat apa-apa." sarkas Mira, jika Diki tersenyum, maka dia tidak. Karna Mira merasa takut jika orang tuanya tidak akan menerima Diki.
"Maka akan ku buat mereka menyetujui nya." jawab Diki dengan pasti.
"Kamu tidak tau aja, kucing liar. Jika orang tua mu sudah lama menyerahkan mu pada ku," lanjut Diki dalam hati.
Mira hanya menanggapi dengan senyuman simpul di balik niqab nya, itu bisa Diki tau karna melihat kedua mata Mira menyipit.
...****************...
Karna jalanan basah habis terguyur hujan, Diki mengendarai mobil dalam kecepatan sedang, hampir lima puluh menit, mobil yang mereka naiki, kini berhenti tepat di depan rumah Mira.
Diki turun dan membukakan pintu untuk wanita nya, Mira terlihat sangat gugup, sedari tadi dia hanya meremas ujung khimar yang dia pakai.
Berbeda dengan Diki, yang tampak biasa saja dan sangat santai.
"Apa Kakak tidak gugup sama sekali?" tanya Mira.
"Bukan seperti itu, Kak! Bagaimana kalau Ayah berubah pikiran dan menolak Kakak?" Mira masih memikirkan itu, dia takut karna Amir sudah pulang, dia tidak ingin jika orang tua nya masih berharap pada Amir.
"Maka akan ku bujuk mereka agar menerima ku,"
"Kalau masih tidak berhasil?"
"Aku bulan laki-laki lemah dan pantang menyerah, jadi aku akan berusaha menggapai restu mereka,"
"Kamu saja bisa aku luluh kan," Diki benar-benar sangat antusias hari ini, di mana dia akan bersanding dengan wanita yang dia cintai, setelah lamarannya dia terima.
"Udah ah, malas berdebat sama, Kakak, ayo kita masuk." Mira langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum, Ayah ... Bunda..." ucap Mira memanggil kedua orangtuanya.
"Waalaikumsalam, Nak! Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Bunda memeriksa anak nya itu.
"Aku tidak apa-apa, Bunda!"
"Alhamdulillah..." ayah dan bunda yang sedari tadi merasa cemas kini mengelus dada lega.
"Makasih ya, Nak! Sudah mau menjaga putri Ayah," ucap Ayah pada Diki.
"Sama-sama, Ayah," jawab Diki tanpa dosa.
__ADS_1
Sedangkan Mira sudah menggerutu di dalam hati, Ayah dan Bunda nya tidak tau saja, jika anaknya di tinggal di dalam hujan deras oleh lelaki di hadapannya ini.
"Ya sudah, ayo kita duduk dulu," ajak Bunda, Diki dan Mira langsung mengambil posisi mereka masing-masing.
Bunda langsung menyuruh pelayan untuk menyeduh kan mereka minuman hangat, karna di luar baru saja hujan.
Ayah dan Bunda sudah duduk di sofa, dengan Mira yang juga sudah mendaratkan pantat di kursi empuk tersebut.
Sudah hampir lima menit, tidak ada yang bersuara, Ayah dan Bunda hanya menunggu salah satu dari mereka untuk memulai bicara, kedua nya tau, jika saat ini anaknya pasti ingin mengatakan sesuatu.
Mira sudah melototi Diki, menyuruh lelaki itu segera angkat bicara.
Sementara Diki, masih tengah berusaha menyusun kata, meski sedari tadi dia bilang tidak gugup, tapi nyata nya sekarang dia sangat susah untuk memulai bicara.
"Hekhem, Nak Diki. Apa ada yang ingin kalian bicarakan?" tanya Ayah yang sudah tidak sabar.
"E-e begini, Ayah!" kata Diki terbata-bata.
"Hadeh ... Tadi aja sok-sokan bilang nggak gugup, biasa saja, tapi nyatanya." batin Mira menjerit.
"Saya mau melamar putri, Ayah!" tukas Diki setelah mengumpulkan seluruh keberanian, meski tau Ayah nya tidak akan menolak, tapi tetap saya membuat Diki susah mengucapkan kata.
Ayah dan Bunda saling melirik "Alhamdulillah," ucap mereka kemudian. Membuat Mira dan Diki saling melirik.
"Jadi apa kamu menerima, Nak?" tanpa pikir panjang, bunda langsung bertanya pada putrinya.
Sementara Mira terkejut melihat aksi kedua orang tuanya, seolah ini memang momen yang mereka tunggu selama ini.
"Mira, apa kamu sudah menerimanya?" ulang bunda lagi bertanya.
"E--e Mir-Mi--"
"Dia sudah menerima nya, Bunda! Tapi dia ingin bunda yang memakaikan cincin ini di jarinya," potong Diki saat melihat Mira menjawab dengan terbata-bata.
Bunda langsung menerima kotak yang di berikan oleh Diki, tanpa menunggu lagi, bunda yang sudah sangat bahagia langsung menyematkan cincin di jari lentik putri semata wayangnya.
"Selamat, ya Nak!" ucap bunda sambil memeluk Mira, kemudian bergantian memeluk ayah nya.
"Terimakasih, Ayah, Bunda!"
"Sebentar, Mira, bukan kah kamu menggunakan baju warna hitam, sayang? Kenapa sekarang jadi warna biru ini? Kenapa harus ganti baju? Memang nya kalian dari mana?"
Deg....
.
.
.
.
~Bersambung.
__ADS_1
Hayo ... Mira Diki ketauan kalian abis dari mana?
Jangan lupa loh di like, komen dan vote kaka ku sayang.