Istri Taruhan Kunci Surgaku

Istri Taruhan Kunci Surgaku
Pernikahan Diki 1.


__ADS_3

Satu Minggu sudah berlalu, kini hari yang sangat di tunggu-tunggu Diki dan Mira pun telah tiba. Hari dimana mereka akan di ikatkan dalam satu ikatan yang halal.


Para keluarga pun beberapa hari lalu begitu sibuk, mereka begitu antusias mempersiapkan acara untuk pernikahan Diki dan juga Mira.


Untuk acara nya di adakan hotel yang terdapat saham Bagaskara, dan itu menjadi urusan Faris, selama beberapa hari lalu, suami Nabil ini sangat sibuk mempersiapkan acara pernikahan asisten pribadi nya.


Sebenarnya bisa saja Faris menyuruh anak buahnya, akan tetapi hatinya tidak bisa tenang jika bukan dirinya langsung yang terjun dan melihat persiapan nya. Faris tidak ingin ada kesalahan sekecil apapun.


Sementara Nabil tidak di izinkan keluar rumah oleh, Faris, untung nya ada sang Ummi yang setiap menemani putrinya yang tengah hamil itu. Hanya sesekali Faris mengantar Nabil ke rumah, Mira.


Sifat posesif Faris semakin menjadi, bahkan Nabil harus menjaga jarak dengan para lelaki kecuali Abi nya sendiri. Nabil ingat betul malam di mana dia hanya berbicara baik pada, Diki. Faris langsung berubah dingin karena cemburu.


Padahal pembicaraan dengan Diki masih di kira wajar, akan tetapi Nabil sampai harus membujuk Faris agar tidak mendiamkan dirinya.


Ingat akan kata-kata Faris yang menegaskan "Aku tidak tau kenapa rasa ini ada, aku juga tidak ingin rasa cemburu yang berlebihan, akan tetapi aku tidak berdaya, saat melihat mu bicara dengan lelaki lain saja sudah membuat ku ingin meledak. Aku tak bisa mengontrol diriku."


Nabil mencoba mengerti dengan rasa takut kehilangan Faris, dan dia tidak marah atau menuntut Faris untuk tidak seperti itu lagi, karna itu hal yang sepele, dia bisa mengurangi berinteraksi dengan lelaki termasuk dengan Diki yang dia anggap kakak nya sendiri.


Tapi meski begitu dia juga senang karna Faris masih tetap mengizinkan dirinya untuk ikut andil dalam mempersiapkan acara untuk sahabat nya, Mira.


Sementara kedua mempelai sendiri sekarang ini sudah tidak di izinkan melakukan apapun lagi, mereka hanya di suruh duduk di rumah, bahkan keduanya sudah tidak di izinkan keluar rumah dari empat hari yang lalu.


Keduanya saat ini hanya saling berbalas pesan, Diki yang merasa bosan karna karna tidak di izinkan bekerja selalu menuntut balasan dari Mira.


Biasanya lelaki yang satu ini selalu di kejar oleh pekerjaan, bahkan kadang di saat hari libur dia memilih berkerja di Apartemen, tapi sekarang terasa hampa, karna Email tidak pernah di kirimkan kepada nya dan juga dia tidak di izinkan ke kantor.


Kadang Mira sampai kewalahan harus dua puluh empat jam melihat handphone karna harus melayani calon suaminya yang kerap kali sering nekat mendatangi rumah nya jika dia mengabaikan satu saja pesan dari Diki.


Untung nya semua itu sudah berlalu, dan hari ini adalah hari yang akan mempertemukan mereka, menyatukan mereka dalam satu atap pernikahan.


Diki berangkat dari kediaman Bagaskara, dia sudah terlihat gagah dengan jas pengantin yang sudah melekat di tubuh tegap nya.


Dia di bantu bersiap oleh Putra, Heri, ada Kakek juga yang sudah pulang dan juga Abi Zainal yang masih menetap di sana. Jangan lupakan Faris yang selalu ada di momen apapun.


"Kamu terlihat sangat tampan, Diki!" ucap Kakek melihat penampilan cucu keduanya itu.


"Ah ... Kakek suka bener kalau bicara, itu memang seluruh dunia mengakuinya," timpal Diki yang masih melihat pantulan dirinya pada cermin.

__ADS_1


Semua yang mendengar nya langsung berekspresi seolah mual mendengar ucapan Diki.


"Iya tampan, tapi hanya Mira wanita yang tidak beruntung yang mendapatkan kamu, Diki, sungguh malang nasib sahabat istriku," tukas Faris mematahkan semangat asisten nya itu.


"Bhuahahaha ... Ris ... Harusnya kamu tidak bicara secara langsung seperti ini, kan kamu bisa berpura-pura mengiyakan kalau Diki tampan, ya walaupun sebenarnya ..." Putra yang menyahuti tidak meneruskan ucapannya, melihat tatapan horor dari Diki.


"Sebenarnya apa?" tanya Diki bermuka dingin menatap Heri dan Putra.


"Sebenarnya ... Kamu memang tampan, Diki!" jawab Heri yang tidak tahan melihat muka dingin Diki.


Jika mereka sering melihat kemarahan Faris, maka beda jika melihat kemarahan Diki yang tampak sangat mengerikan.


"Itu baru betul," imbuh Diki merasa senang.


Faris, Abi dan Kakek hanya menggeleng, Faris bangkit dan keluar dari dalam kamar Diki, begitu juga dengan Abi dan Kakek yang ikut meninggalkan Diki, dan masuk ke dalam kamar sendiri untuk bersiap-siap.


...****************...


Ceklek...


Pintu kamar di buka, Nabil yang ingin memakai niqab menoleh, dia mengerutkan keningnya saat menangkap raut wajah Faris yang tampak tidak seperti biasa.


Setelah selesai memakaikan kain penutup wajah untuk sang istri, Faris langsung merebahkan kepalanya di atas pundak wanita yang di cintai nya, dia memejamkan mata dan menghirup wangi dari tubuh Nabil yang membuat nya merasa tenang.


Nabil yang tau jika suaminya tidak baik-baik saja membiarkan posisi mereka seperti itu, tangan nya bahkan terangkat mengelus rambut sang suami yang memeluknya dari belakang.


"Kenapa, sayang?" tanya Nabil begitu lembut, bahkan seluruh tubuh Faris meremang.


"Diki akan menikah," jawab Faris dengan suara lirih.


"Lalu kenapa? Apa Mas tidak bahagia?"


"Aku bahagia, karna sebentar lagi sudah ada yang mengurus nya, Mira wanita baik kan?" tanya Faris lagi, suaranya masih begitu lirih.


"Iya, Mira sahabat ku, bagaimana sifat ku, dia juga tidak beda jauh, cuma dia sedikit kasar jika dengan seorang yang tidak dia kenal, tapi jika sudah dia sayangi, dia menjadi wanita yang baik dan penurut,"


"Kenapa Mas begitu mengkhawatirkan, Kak Diki?" tanya Nabil lagi.

__ADS_1


"Karna aku sangat menyayangi Diki, dia sudah ku anggap seperti Kakak ku sendiri, sejak dari kecil kami selalu bersama, bahkan dia lah yang mengurus ku saat aku sakit, bahkan dia menyembunyikan kebenaran jika aku depresi,"


"Diki lelaki yang baik dan juga setia, aku hanya ingin dia mendapatkan wanita terbaik pula,"


"Apa Mas sangat mengkhawatirkannya? Aku merasa Mas seolah orang tuanya yang tidak ingin anaknya tersakiti,"


"Dia yatim piatu, Papa dan Mama mengadopsi nya dari panti asuhan,"


"Apa tidak berusaha mencari kedua orang tua nya?"


"Kami sudah mencarinya, akan tetapi sampai sekarang kami belum bisa menemukan nya,"


"Apa Mas takut jika Kak Diki menikah dia tidak akan sama lagi seperti dulu? Apa Mas takut dia tidak lagi perduli padamu?" pertanyaan yang sangat tepat, memang itu yang sangat Faris hawatirkan. Faris memeluk Nabil semakin erat.


"Wajar seorang adik takut jika Kakak nya berubah," gumam Faris namun bisa di dengar oleh Nabil.


Sementara Nabil tersenyum, ternyata suaminya tidak sejahat yang orang lain pikirkan, bahkan dia sangat takut kehilangan Diki, yang di kira nya hanya asisten nya, akan tetapi di kenyataan nya di anggap seperti keluarga sendiri.


Faris semakin membenamkan wajahnya sambil memejamkan mata, dia tidak ingin orang lain yang tau keadaan nya saat ini, Faris bukan lah orang yang akan memperlihatkan kerapuhan nya, hanya sang istri yang tau bagaimana jiwa Faris yang sesungguhnya.


"Ya sudah, sekarang Mas bersiap, sayang jika nanti mereka harus menunggu kita,"


"Lagian Kak Diki pasti sudah tidak sabar bertemu dengan calon istri nya,"


.


.


.


.


.


.


~Bersambung.

__ADS_1


Wah, wah, wah ... Ternyata babang Faris tipe orang penyayang juga ya, dan babang Diki bisa marah juga, serem ya, wkwkwkwkkw.


Jangan lupa ya setelah baca, tinggalkan liek, komentar dan vote sebanyak-banyak nya.


__ADS_2