Istri Taruhan Kunci Surgaku

Istri Taruhan Kunci Surgaku
Butuh waktu.


__ADS_3

Pagi hari, Faris membuka matanya saat silau matahari sudah menyenter tepat di wajah nya. Perlahan dia mengerjap, melihat sekeliling, dia baru sadar jika saat ini dia sedang berada di ruangan kerja, matanya perlahan menangkap jam yang ada di dinding, sudah menunjukkan pukul setengah delapan, ntah jam berapa dia tertidur. Yang jelas, setelah mencari tau siapa orang yang telah membocorkan rahasianya pada Nabil, tanpa sadar dia tertidur.


"Orang itu, dia harus membayar mahal atas apa yang telah dia lakukan, berani-beraninya dia mecari masalah dengan ku!" tukas Faris, tangan nya terkepal kuat, ingin rasanya sekarang dia menghajar lelaki yang sudah menjadi dalang pertengkaran dirinya dengan sang istri.


Dengan segera Faris keluar, meninggalkan ruangan yang masih terlihat berantakan.


Ceklek...


Dengan perlahan pria bermata biru ini membuka pintu kamar, berharap akan melihat sesuatu yang bisa membuat hatinya merasa tenang, akan tetapi, semuanya hanya harapan Faris, karna istri yang ingin dia lihat tidak berada di sana, terlihat kamar yang sudah rapi, dan pakaian dirinya kekantor juga sudah di siapkan dengan rapi di atas tempat tidur.


Perlahan deret langkah nya masuk kedalam kamar yang terasa sepi itu, duduk di tepi ranjang menutup mata sekilas dengan telapak tangan nya, ingin rasanya dia memeluk sang istri, dan mencium nya, tapi jangankan untuk itu, bahkan Nabil tidak membangunkan dirinya.


Dengan keadaan lesu Faris bangun, lalu melangkah masuk ke dalam kamar mandi, dia melihat jika air untuk dia mandi juga sudah di siapkan, sungguh semakin membuat hatinya teriris, meski sedang merasa kecewa, akan tetapi Nabil tidak melupakan kewajiban nya.


Tidak terlalu lama, Faris keluar setelah membersihkan tubuh nya, dan matanya langsung menangkap sesuatu yang sedari tadi ingin dia lihat. Nabil dengan begitu telaten menata makanan di atas meja makan dalam kamar super luas itu.


"Setelah berpakaian, segera sarapan, agar tidak dingin, kopi dengan sedikit gula juga sudah aku siapkan, aku tidak ke kampus hari ini, jadi aku akan memasak dan menyuruh supir untuk mengantarkan makan siang untuk mu,!" celetuk Nabil terus melakukan aktivitas, tanpa menoleh pada sang suami.


Faris mendekat, sungguh dia tidak bisa menahan jika tidak menyentuh istri nya walaupun beberapa jam, meski ada keraguan di hatinya, Faris memeluk Nabil dari belakang.


"Aku kangen kamu, bisakah kita bersikap seperti biasa, jangan menjauh dariku!" bisik Faris di telinga Nabil, membuat empunya mengedikkan bahunya pelan.


"Semua butuh proses, tidak ada yang tau apa yang akan terjadi pada akhirnya! Bersiaplah, Mas sudah terlambat!" tukas Nabil, melepaskan diri dari sang suami.


Meski merasa kecewa dengan sikap Nabil, tapi Faris tidak bisa memaksa Nabil untuk menerjemahkan dirinya yang masih belum bisa menuruti permintaan sang istri.


Setelah memakai celana dan juga kemejanya, Faris mengambil dasi, tapi bukan nya memakai sendiri, dia malah mendekat kepada Nabil, lalu menyerahkan kain kecil berukuran panjang itu kepada wanita nya.

__ADS_1


"Bisakah kamu membantu ku memakai ini?" tanya Faris.


Nabil melihat, tanpa menjawab dia langsung memakaikan dasi pada leher Faris.


"Dulu Mas bisa melakukan segala sendiri, tapi sekarang berpura-pura seolah tidak mengerti apa-apa, ku harap Mas tidak lupa cara memakai nya, karna kita tidak tau, mungkin saja kedepannya Mas akan kembali memakainya sendiri!"


Cup...


Mendengar penuturan sang istri, membuat Faris tidak tenang, tanpa izin dia mencium bibir Nabil yang sedari tadi terus berbicara.


"Jangan pernah katakan itu, kamu harus tetap selalu di sampingku!" celetuk Faris, setelah melepaskan ciumannya.


"Introspeksi diri lebih baik!" jawab Nabil seadanya, dan melangkah mendekati meja makan.


"Duduklah, sarapan sebelum Mas pergi ke kantor!" lanjut Nabil lagi, sungguh dia mencoba terus bisa bersikap baik kepada siapapun.


Terpaksa Faris menurut, keadaan sekarang terbalik, jika dulu Faris yang cuek dan dingin, tapi sekarang malah Nabil yang menjadi orang yang terkesan sangat dingin.


"Aku berangkat dulu, ya! Jaga dirimu baik-baik, jangan pergi kemana-mana!" cerocos Faris saat Nabil menyalami tangan Faris juga mencium punggung tangan sang suami.


Nabil hanya mengangguk, dia hanya pasrah dan diam saat Faris mendarat kan ciuman di dahi nya.


Nabil mengantar Faris hanya sampai di depan pintu kamar. Setelah melihat Faris yang sudah masuk ke dalam lift, wanita dua puluh satu tahun ini segera mengayunkan langkah nya, mendorong pintu dari kayu tersebut, lalu berjalan masuk ke dalam ruangan kerja yang di tempati Faris.


Melihat kekacauan dalam ruangan tersebut, tidak merasa terkejut, karna dia sudah lebih awal masuk tadi.


Sebenarnya Nabil sudah masuk ke dalam ruang yang diyakini sang suami memang berada di sana, tapi melihat sang suami yang begitu lelap, membuat nya tidak tega untuk membangun kan nya.

__ADS_1


Kini satu persatu Nabil mengambil barang yang masih bisa di pajang, meletakkan pada tempatnya, dan juga membuang barang yang sudah hancur berkeping-keping.


Saat terus membersihkan tempat tersebut, tiba-tiba mata nya kembali memanas, melihat pecahan botol yang berisi alkohol yang bahunya begitu menyengat.


Nabil terduduk di atas sofa, mengingat nasibnya yang selalu di saja merasa sakit, baru semalam dia menyuruh sang suami untuk menjauhi benda tersebut, akan tetapi suaminya itu sudah meminum minuman tersebut.


Yap, Nabil mengira jika Faris sempat meminum alkohol yang masih berserakan di lantai.


"Kapan kamu berubah, Mas!" gumam Nabil melirih, air mata nya seolah keluar begitu saja tanpa permisi.


Akan tetapi dia tetap melanjutkan kegiatan nya membersikan ruang Faris, yang penuh dengan kaca pecah.


...****************...


Sedangkan Faris yang sudah di jemput oleh Diki, kini mereka masih di jalan, tapi arah nya bukan ke kantor, akan tetapi dia pergi ke kampus, setelah mengetahui dari anak buahnya, jika ada lelaki yang berbicara pada istrinya kemaren waktu mau pulang. Faris semakin yakin, jika lelaki itu adalah lelaki yang dulu sempat menyukai istri nya,  dimana laki-laki yang telah merusak .


Sampai di kampus, mobil mereka pun berhenti. Dengan perlahan dia mengeluarkan ponsel dari balik jas nya.


"Bawakan dia kesini!"


.


.


.


.

__ADS_1


~Bersambung


Maaf ya jika cerita nya rada datar, jangan bosan memberikan dukungan nya ya kakak.


__ADS_2