
Sekuat apapun kita mengelak, tapi hati yang akan membawa kita padanya, sekuat apapun kita menghindar, tapi hati yang akan menuntun untuk terus bersama dengan nya.
...****************...
Sebulan telah berlalu, hubungan kedua pasangan suami istri ini semakin membaik dan mereka juga terlihat tambah dekat, karna sang suami sekarang benar-benar sudah jatuh hati kepadanya, hingga membuat dia menjadi lebih posesif dan juga kemesraan nya bertambah.
Meski belum mengakui nya, tapi dia sudah sadar, jika dirinya sudah mencintai sang istri, itu dia rasa karna saat ini dirinya benar-benar tidak ingin kehilangan Nabil lagi, dan dia juga merasa marah setiap kali ada lelaki yang mendekati Nabil.
Tapi saat ini Faris sudah memperbolehkan Nabil kuliah kembali, karna dia menerima saran dari Diki.
"Kamu tidak perlu mengekang istri mu berlebihan, di sini lah kamu bisa lihat ketulusan dan kesetiaan nya, jika dia setia kepada mu, meski di belakang mu pun dia tetap akan menghormati mu dan tidak melayani lelaki manapun uang mendekati mu!" kata-kata Diki yang memang benar adanya, karna itulah dia mengizinkan istri nya kembali menimba ilmu.
Tapi, saat ini tentu saja Nabil tidak pernah lepas dari pantauan Faris, dari jarak nya cukup jauh, dia menyewa beberapa bodyguard yang mengawal sekaligus menjaga Nabil, dan semakin ke sini pun, Faris semakin yakin jika Nabil wanita yang patut di sayangi, karna dari laporan anak buahnya, dia selalu menjaga jarak dengan para lelaki.
Tapi untuk hari ini mereka sama-sama tidak masuk kantor ataupun kuliah, karna hari ini adalah hari libur. Terlihat mereka sedang berada di taman, dengan Nabil yang duduk, dan Faris yang berbaring di atas paha sang istri.
Akhir-akhir ini ... setiap hari Minggu, Faris meliburkan pelayan lelaki atau para penjaga rumah, karna dia ingin Nabil bebas untuk tidak menggunakan niqab saat bersama dengan nya.
Faris tampak asik memainkan rambut panjang Nabil, sesekali mengecup bibir sang istri.
"Sayang!" panggil Faris, semenjak beberapa hari Faris memang memanggil Nabil dengan sebutan itu, Nabil merasa sangat senang, karna suaminya itu berubah menjadi sangat manis, tapi terkadang dia menjadi resah karna sifat manja Faris.
"Iya, Mas!" jawab Nabil yang sudah menatap pada suaminya.
"Kamu tau tidak, ini adalah taman yang di rawat oleh almarhum Mama, setiap hari Mama menyiraminya!" ucap Faris menceritakan.
Nabil sudah tau, tapi dia tetap menghargai saat suaminya berbicara.
"Maka dari itu, Mas sangat nyaman di tempat ini?" timpal Nabil bertanya yang langsung mendapatkan anggukan dari Faris.
"Setiap aku merindukan Mama, aku selalu duduk di sini, dan merasakan seolah aku masih melihat nya di sini!" jawab Faris dengan lirih.
__ADS_1
Nabil yang melihat mimik wajah suaminya yang tiba tampak murung, dia meletakkan tangan nya di dada sang suami yang terlentang, ntah seberat apa masa kelam suaminya dia tidak ingin bertanya, yang jelas dia tau, Faris mendapatkan tekanan batin yang begitu berat di masa lalu nya.
"Mas ingin merasa tenang tidak?" tanya Nabil, Faris tampak berfikir sejenak, lalu dia pun mengangguk nya.
"Sangat, aku ingin merasakan ketenangan, aku ingin hati ini merasa damai, apa kamu bisa melakukan nya?" tanya Faris bagaikan orang yang begitu menyedihkan.
"Insya Allah, serahkan semuanya kepada Allah, tidak ada yang perlu mas khawatir kan, semua atas kehendak nya, dia yang membolak-balikkan hati manusia!" timpal Nabil, membuat Faris menatap nya.
"Hem ... Apa mas mau dengar jika aku bersolawat?" tanya Nabil, dia hanya melaksanakan jika suaminya yang dulu berhati batu hanya mengangguk kecil.
Perlahan Nabil melantunkan solawat dengan suara indah nya, jika saat berbicara suara nya begitu bagus dan lembut, maka saat dia bersolawat keindahan suaranya bertambah berpuluh-puluh kali lipat.
Nabil terus bersolawat, tangan nya bergerak aktif menyisir rambut sang suami yang sudah memejamkan mata.
Sedangkan Faris tampak begitu menikmati suara sang istri, jika dulu dia merasa panas dan gelisah saat mendengarkan solawat, maka sekarang dia merasa begitu tenang dan juga tentram.
Setelah di rasa hatinya mulai tenang, Faris menatap pada wajah sang istri, yang sedang menikmati solawat yang dia lantukan sendiri.
Selesai bersolawat, Nabil membuka matanya, dia melihat sang suami yang sedang menatap pada nya.
"Bagaimana sekarang, Mas? Apa sudah merasa lebih baik?" tanya Nabil sambil tersenyum.
Faris mengangguk, lalu mencium tangan Nabil.
"Jangan tinggalkan aku!" lirih nya lagi.
Nabil merasa heran dengan tingkah Faris, kadang dia menjadi sangat sensitif.
"Kenapa mas mengatakan itu, aku bahkan tidak berfikir untuk pergi dari kehidupan mas, meski dulu saat mas mengabaikan diriku!" imbuh Nabil, jawaban yang sangat menohok hati Faris, mengingat perlakuan nya dulu yang begitu kejam terhadap sang istri.
"Maafkan aku, sayang! Ku mohon, lupakan semua itu, sekarang aku berjanji tidak akan melukai diri mu lagi, asalkan kau tetap bersama ku!" pinta Faris lagi, dan Nabil hanya tersenyum.
__ADS_1
"Sungguh, Mas! Tidak ada dendam atau kemarahan sedikit pun untuk dirimu, jadi jangan pernah berkata seperti itu lagi" ucap Nabil.
Faris bangkit, dan langsung menarik Nabil dalam pelukannya. Sambil memejamkan mata, dia membisikkan sesuatu pada telinga Nabil.
"Mau kah kamu hidup sampai menua bersama ku, dan kita akan membesarkan calon anak-anak kita bersama-sama!" bisikan yang menghanyutkan, Nabil meneteskan air mata, tidak tau harus berkata apa, atas rasa bahagia yang dia dapatkan saat ini.
"Iya, Mas! Memang itu yang aku mau, menikah sekali dalam seumur hidup, tapi aku tidak berjanji, karna yang menentukan jalan nya ialah Allah, tapi selama Mas tidak berkhianat dan tidak membohongi ku, aku akan selalu bertahan di sisi mu!" timpal Nabil, mendengar itu Faris kembali memeluk sang istri dengan begitu erat, dia memang berjanji tidak akan mengkhianati Nabil, tapi hati kecilnya merasa takut jika pernikahan nya dia anggap kebohongan oleh istrinya, jika dia tau kebenaran nya.
"Mungkin lebih baik ini menjadi rahasia ku!" batin Faris, di saat seperti ini dia tidak ingin mengecewakan Nabil.
Saat kedua nya hanyut dalam pelukan, tiba-tiba suara bi Mila mengagetkan mereka, terutama Nabil.
"Maaf Tuan, di luar ada yang mencari anda dan juga Nona Nabil!" celetuk bi Mila, sebenarnya dia tidak enak karna mengganggu kemesraan tuan muda dengan Nona muda nya.
"Siapa?" tanya Faris datar.
"Katanya orang tua Nona!" jawab bi Mila.
Perkataan bi Mila membuat Nabil terlihat sangat senang, tapi membuat Faris terlihat tegang.
"Apa yang harus aku lakukan, bagaimana jika dia mengatakan kepada orang tuanya, kalau aku yang melarang nya pulang ke rumah, apa mereka akan marah"
.
.
.
.
.
__ADS_1
~Bersambung.